#weeklywritingchallengeLike
#femikhiranawritingchallengelike
(ini tulisan untuk challenge di komunitas 😃)
Cita-cita dari remaja ada banyak, tetapi satu per satu dihilangkan dan beberapa ada yang ditangguhkan karena siapa tahu tercapai nanti. Ada juga yang tercapai dengan modifikasi setelah sekian lama.
Waktu kecil banget, cita-cita standar jadi dokter. Tapi saya sadar kalau tampang saya saja yang cocok jadi dokter. Minat dan kemampuan cuman cocok jadi pasien. Waktu penjurusan di SMA pun saya tidak bisa masuk A2 karena nilai eksakta tidak memadai. Nasib sekolah di sekolah kaporit eh favorit ya gitu. Walaupun sekarang saya juga yakin ilmu eksakta saya lebih jago daripada dokter abal-abal yang asal lulus 😆 tapi ya memang nasib tidak untuk jadi dokter.
Waktu kecil juga pengin jadi artis! Nyanyi, model, main film, atau apalahhh! Saya ingat ada teman sekelas saya yang sering ranking 1 yang akhirnya pengin ikutan jadi artesss gara-gara saya ngomong gitu ke dia 😂 Dia ranking 1 konsisten, saya ranking 1 kalau pas teman-teman lagi lengah belajar aja 😆 Lucu gitu sama-sama pengin jadi penyanyi.
Tapi saya tidak main-main waktu saya berniat untuk jadi seniman. Saya ikut semua kegiatan seni suara di sekolah, gereja. Saya memang tidak punya masalah tampil sedari kecil, justru sudah tua gini baru mikir gak terlalu nyaman. Saya juga ikutan kegiatan teater, drama, sampai prestasi tertinggi saya bisa lolos jadi dubber untuk sandiwara radio. Saya sudah SMA kelas 1 waktu itu. Zaman dulu sandiwara radio kan popularitasnya tidak kalah dengan sandiwara televisi. Malah enak kita hanya rekam suara, tidak perlu akting panggung. Dapat job dubbing pertama jadi figuranlah jelas, rekaman tidak sampai 10 menit selesai karena hanya baca beberapa lines saja, dan itu jadi anak kecil bukan jadi ABG 😅 Tapi walaupun figuran tapi duitnyaaa weh banyak buat anak sekolahan. Sayangnya semua tidak bisa diteruskan karena ortu melarang saya jadi pulang malam. Dongkol sih iya, tapi saya masih bisa nyanyi di sekolah dan gereja. Masih bisa tampil di televisi stasiun lokal Palembang bareng teman-teman vokal grup di sekolah juga sudah lumayanlahhh…
Saya juga sebenarnya pengin kuliah di Institut Kesenian Jakarta, tapi ya sutralah, tangguhkan saja. Saya tetap cinta kegiatan seni, film, musik dan saya belajar otodidak saja dan sangat membantu pekerjaan saya sebenarnya. Jadi sejak kuliah saya putuskan tidak terjun di dunia entertainment walaupun kesempatan untuk itu sangat banyak. Salah satunya kesempatan jadi American Idol saya hempaskan jauh-jauh… Ya iyalahhh kan kejauhannnn…
Lalu cita-cita remaja yang mulai serius dan sesuai minat juga adalah : bekerja di media massa, jadi jurnalis. Karena saya memang suka nulis (semua yang orang gak suka, saya suka gitu aja ya kesimpulannya sebagai anti mainstream person) dan sudah terlibat dengan urusan penerbitan sejak SMP. Ngurus penerbitan majalah sekolah dan gereja dari A sampai Z. Satu majalah semua saya kerjakan sendiri dari nulis artikel, kumpulin naskah, ngetik, layout, instruksi ilustrator, sampai jadi mock up majalah sebelum terbit dan saya juga yang pantau produksi baik dari cara fotokopi sampai percetakan. Beberapa kali juga pernah study tour ke penerbitan surat kabar sampai magang di penerbitan waktu liburan kuliah. Suka. Tapi… saya jadi melihat ritme kerja para penulis, wartawan, dan tim produksi : gak ada jam kerja tetap, harus siap sedia waktu ada peristiwa dan sekejap nyampe di lokasi peristiwa mau jam berapapun, kalau deadline pasti begadang. Baru saya mikir : Is this what I want??? Can I do it? Me time nya nyaris bareng kerjaan. Duitnya? Dikitttt.. Sampai sekarang dunia penulisan itu dibayar paling sedikit daripada profesi manapun. Untuk mencapai jenjang yang enak paling sulit karena kita harus ngetop banget, kreatif jungkir balik. Pada akhirnya saya berpuas diri jadi penulis lepas saja daripada harus terlibat di dunia media. Sejak mulai ada internet saya merasa passion nulis-nulis sudah terealisasi karena sudah bikin blog, buku, sampai copy writing.
Setelah tamat SMA, pengin jadi psikolog. Merasa cocoklah karena memang minat. Psikolog juga profesi yang saat itu diramalkan jadi profesi yang banyak digunakan jasanya di era 2000an. Tapi tiba-tiba Papa menarik izin kuliah di Jakarta karena alasan tertentu. Awalnya sudah diizinkan. Kesel pasti. Di Palembang tidak ada jurusan psikologi. Tapi yang penting saya kuliah deh… Keinginan selanjutnya yang mendekati minat saat itu akhirnya jadi Manager, belajar bisnis, jadi boss lah. Ya sudah kuliah Management-lah 😃
Waktu kuliah saya disadarkan kalau saya juga punya hobi main sekolah-sekolahan sejak kecil, saya jadi gurunya, lalu yang jadi muridnya mahkluk tak kasat mata 😂 Memang gak ada yang jadi murid di rumah, jadi saya buat murid imajiner. Sejak kuliah itu juga sampai sekarang saya bersyukur belajar bisnis edukasi dimulai dari jadi guru privat waktu kuliah. Bayarannya? Lebih besar daripada kerja di media dan saya masih bisa nulis.
Sejak kuliah akhirnya saya memang selektif mencari kerjaan yang sepadan hasilnya. Boleh kerja bakti tapi hasilnya harus menyenangkan agar jadi motivasi. Saya juga mulai melihat peluang yang lebih banyak menghasilkan uang dan mencoba mendalami skill yang akan terus dipakai orang. Itu yang memutuskan saya ambil diploma program komputer ketika kuliah semester akhir sebagai keterampilan yang berbeda dibandingkan lulusan management lainnya.
Singkat cerita sekarang ini apakah cita-cita saya waktu remaja tercapai? Yaaa bisa dikatakan beberapa akhirnya terealisasi. Thanks to technology yang memudahkan untuk mewujudkan cita-cita. Saya menulis, mengajar, bikin usaha sendiri di bidang yang saya kuasai dari kuliah, dan saya juga senang bisa mengartiskan diri di Smule dan TikTok 😆
Saya selalu percaya selama masih dikasih nafas kita masih sah untuk mewujudkan cita-cita yang sempat mandek. Ada yang lulus sarjana di usia 70 tahun, dan akhirnya bisa berkreasi sesuai passion-nya di usia yang sudah menanjak. Sah! Mau jadi dokter di usia tua pun bisa kalau memang masih pengin loh yaaa… Prestasi dan pencapaian diri tidak mengenal usia dan hak asasi semua makhluk hidup sampai kapanpun.
Femikhirana (Digital Marketing Strategist)

