Istilah Digital Safety/Cyber Security (Part 1) : Hacker

Cyber crime itu adalah kejahatan yang relatif sulit ditindaklanjuti, biasanya ya sampai pada pelaporan saja. Kenapa? Karena pembuktian forensik digital untuk tergenapi kejadian itu adalah sah cyber crime itu memang tidak mudah.  Selain data yang tidak kuat (bisa jadi karena sudah banyak dihapus permanen dan tidak ada back up), bisa juga data yang jadi bukti juga adalah data ambigu alias data tersebut terjadi karena persetujuan yang diberikan korban secara sah / tahu sama tahu / mau sama mau / alias tidak ada paksaan. 

Oleh karena itu cyber crime lebih baik dicegah jangan sampai terjadi.  Kalau sudah terjadi biasanya penyelesaiannya terekstrem juga penyelesaian secara digital alias viral yang diserahkan kepada netizen untuk memutuskan memberikan sanksi moral dalam dunia digital sendiri untuk meminimalisir rasa sakit / emosi yang terjadi pada korban.

Pahami istilah digital safety, cyber security supaya tidak bingung waktu baca berita atau analisis tentang keamanan digital.

PART 1

1. Hacker: Orang yang memiliki keahlian di bidang komputer dan jaringan, dan menggunakan keahliannya untuk menembus sistem komputer atau jaringan. Hacker itu juga ada macam-macamnya, bukan satu jenis saja.

Pertama, Black Hacker atau Black Hat menembus sistem dengan tujuan jahat, seperti mencuri data, merusak sistem, atau menyebarkan malware.

Kedua, kalau cuman menembus sistem untuk kepentingan yang tidak merusak bahkan membantu untuk pemulihan data atau memperbaiki jaringan bersama disebut White Hacker / White Hat. Jadi pemulihan akun yang hilang karena diretas oleh Black Hat kalau minta bantuan teman yang kita kenal baik untuk mencoba mengembalikan lagi ya tetap dengan cara hacking juga tapi yang melakukan untuk memulihkan disebut White Hat.  Jadi hacker lawan hacker dong? Ya iya emang begitu, tepatnya Black Hat VS White Hat.  

Ketiga, nah ada juga istilah Grey Hat, yaitu hacker yang memasuki sistem orang lain tanpa pake permisi, ya tidak legal, tapi tujuannya tidak jahat karena sistemnya tidak diutak-atik, paling dilihat-lihat, kalaupun ada yang di-copy untuk kepentingan dirinya sendiri (misalnya copy kode software biar dia gak harus bayar alias software bajakan).Β  Ada yang tujuannya memang iseng aja dan kalau sudah bisa menembus sistem nanti ngabarin yang punya web/sistem supaya orang IT memperbaiki sistem keamanan dengan lebih ketat.

Pencegahan :

Tidak ada yang perlu ditakuti sebenarnya dari istilah hacker. Hacker itu bukan dilawan tapi memang dicegah. Cegahnya tidak susah (lebih susah mencegah maling di dunia nyata sebenarnya), asal mau inisiatif perlindungan akun aja :

  1. Pasang kunci / password yang ribet (tidak berpola yang gampang ditebak).Β  Disarankan pasang double pengaman alias double password atau two factor authentication (2FA).Β  Ketahuilah 2FA itu sudah kasta tertinggi dalam pengamanan akun, tapi ya gitulah, banyak yang gak mau melakukan karena tidak tahu dan juga tidak mau repot.
  2. Tiap kamar/akun diberi password beda (jangan ngeyel bilang takut gak inget)
  3. Inget dong semua bentuk platform resmi, jadi loginnya jangan di akun atau software tidak resmi. Sering download aplikasi-aplikasi nambah fitur medsos atau whatsapp yang bukan dari platform resmi alamat langsung ketemu dengan maling.
  4. Kalau memang harus download aplikasi yang tidak resmi atau tidak ada di Playsore / Appstore ya pastikan kamu tahu siapa pembuat aplikasi tersebut.Β  Jadi aplikasi kantor sendiri atau aplikasi untuk kerja yang dipakai komunitas bersama, aplikasi belajar yang dibuat teman ya gak masalah di-download.
  5. Jangan gunakan 1 email untuk semua akun. Jangan gunakan 1 password untuk semua akun. Karena 1 kena retas ya semua akun juga kena. Aplikasi kantor pakai email sendiri, aplikasi medsos pakai email sendiri, aplikasi pribadi pakai email sendiri.
  6. Akun tidak aktif, akun tidak digunakan, akun tidak pernah di-update lagi sebaiknya dihapus/deactive.Β  Akun nganggur / rumah kosong yang masih ada isi di dalamnya pasti lebih mengundang maling daripada rumah yang selalu dijaga. Hal ini supaya akun tidak diretas dan malah mengganggu orang sekitar yang mengenal kita.
  7. Jaga etika di dunia digital.Β  Ini juga kasta tertinggi keamanan akun yang seringkali diremehkan.Β  Menjaga kelakukan / attitude itu untuk memproteksi diri loh. Maling segan dengan orang yang jejak digitalnya bagus dan punya personal brand yang bagus dan kuat, pasti rugi ngerjain orang gini.Β  Orang baik akan selalu diakui baik walaupun akunnya diretas dan nanti diisi posting-posting penipuan, friendlists/followers langsung tahu kalau akun tersebut pasti sudah diretas. Orang baik yang difitnah biasanya juga tidak akan berdampak apapun, malah dibela netizen.Β 

Kembali ke menu awal

Orang Miskin, Orang Kaya, dan Tao Ming Shi

Bagi kebanyakan orang miskin yang gak mau nasib berubah dan playing victim, kekayaan atau menjadi orang kaya itu cenderung adalah kejahatan.
Bingung kenapa orang kaya itu gak pernah susah, pasti yang dikerjain jahat-jahat…

Padahal orang kaya selalu akan kaya karena mentalnya. Orang kaya itu bukan berarti gak pernah kesusahan duit, tapi ketika kesusahanpun dia bermental kaya jadi ya akhirnya dia kaya lagi, makanya gak pernah terlihat susah. Mental kaya tuh apa? Susah-susah gampang jelasinnya tapi itu memang mindset orang orang kaya berpikir high self bukan egosentris. Mikirnya ya kalau lagi susah, ada masalah jalanin aja, terima keadaan dan berusaha lagi dengan rajin dan mental baja, ehhh bisa balik kaya lagi beneran kok… Kalau pas susah malah menyalahkan keadaan dan tidak terima diperlakukan semesta karena egonya yang marah sudah direndahkan dan berontak protes saja ya sampai kapanpun gak akan kaya itu.

Nah bagi orang kaya, kemiskinan itu nyaris sulit didefinisikan. Kadang dia bisa ngerasa makan nasi goreng aja udah miskin jadi dia berusaha untuk bisa lebih rajin supaya lain kali bisa makan fine dining food di resto mahal. Kadang dia merasa makan nasi goreng aja juga kemiskinan yang disyukuri karena masih banyak yang mau makan nasi goreng aja susah. So bukan mengkriminalisasikan kemiskinan tapi jadi motivasi makanya hasilnya gak miskin-miskin, lah manifestasinya selalu hardwork soalnya jadi lama-lama pun berhasil.

Tapi kalau bagi orang kaya macam Tao Ming Shi di Meteor Garden beda lagi sih… Orang ini hanya bikin orang miskin jadi halu berkepanjangan. Bagi Tao Ming Shi : Aku benci orang miskin, mau diajak ngapa-ngapain susah. Diajak senang gak bisa, diajak main gak mau, ya udah gua pacarin aja… #eh…

My Midjourney

Ini adalah gambar yang saya buat.
Saya buat dengan Robot AI Midjourney.
Dengan perintah deskripsi, 1 menit selesai.

1. Indonesian girl with traditional clothes
2. Logo with flower and moon
3. Web template design with kids theme
4. Young women rocker is singing in the church
5. A boy eats Pempek Palembang (tapi AI nya gak pernah makan pempek jadinya roti hahaha…)
6. Liverpool FC and Tarot card
7. Beautiful chic woman with modern techno lifestyle
8. A girl eats brownies in the dining room
9. Hasil editing no 8 untuk di-customise dalam bentuk konten promosi.

Mau cari model virtual jadi asik. Tapi tentu kemampuan editing grafis dan video perlu untuk finishing sesuai kepentingan konten.

Nanti coba AI untuk buat lagu, supaya pas posting lagu gak kena copyright muluuuu dehhh…

Mau coba kerjakan ilustrasi sendiri dengan robot design? Try midjourney AI, you need discord account.

Yang bingung dengan Discord? Apalagi kalian masih di bawah usia 30 mending belajar pakek Discord deh… WA dng Telegram itu sudah old generation banget!

Semua dari bikin grup belajar sampe robot AI ada di Discord. Anak-anak pakai Discord juga. Pantaulah dengan punya akun Discord juga.

Nanti deh yaaa kita belajar kutak katik Discord dengan Robot AI.

Soft Skill Manager (Part 2)

Part 1 di SINI

Ini awal didikan dari boss saya ketika saya baru saja diangkat jadi manager. Saat itu saya diminta untuk membuat meeting bersama para dealer yang akan mendukung program kerja divisi saya. Akhirnya saya dan boss saya sudah menentukan tempat dan tanggal, tinggal telepon dealer-nya untuk datang.

Karena saya masih belum terlalu banyak kenal dengan dealer yang ada, boss saya minta rekan manager lainnya untuk bantu telepon dealer bawaan mereka masing-masing agar datang ke meeting yang saya buat. Lalu saya tinggal tanya saja ke manager lain siapa saja yang bakal hadir.

Kelihatannya gampang. Tapi ketika saya minta tolong dengan instruksi dari Boss, rekan manager lain banyak yang merespons negatif dan pesimis :
“Hmmm susah loh, Fem. Mereka sibuk jam segitu, belum tentu mau datenglah!”
“Emang mau ngomong apa sih? Kan bisa pake telepon atau kita yang sampein?”
Banyaklah kalimat-kalimat yang intinya para dealer tidak akan hadir ke meeting saya. Padahal Boss saya juga bakal hadir.

Berbagai alasan dari para manager senior tentang dealer yang sibuk atau belum tentu mau datang saya sampaikan ke Boss. Siapa tahu kita bisa buat cara yang lebih pas untuk para dealer agar bisa paham proyek kerja saya. Tapi Boss saya geleng-geleng kepala aja, menolak usulan cara lain, jadi harus meeting biar semua jelas dan kelar dalam hari itu, langsung proyek bisa dimulai.

“Kamu jangan dengerin orang laen, Fem. Udah kamu telepon mereka sendiri aja kalau gitu… Kamu aja yang ngomong sekalian kenalan. Pasti dateng deh!”

“Mereka ngomong dealer gak bakal dateng itu pendapat mereka, bukan dealer-nya! Cari gampangnya aja biar gak ribet bujuk-bujuk dateng. Mereka fokus sama kerjaan mereka sendiri. Jadi kamu telepon aja sendiri.”

Akhirnya saya telepon sendiri semua dealer yang mau diundang. Ya dari kenalan sambil mengundang dan memberi kisi-kisi materi meeting. Anehnya semua responsnya positif dan semua bilang bakal dateng. Weh??!! Bener juga si Boss bilang…

Meeting berjalan sangat menyenangkan, sukses, semua setuju presentasi saya. Waktu mau pulang, Boss saya kembali lagi ngomong ke saya :
“Tuh kan, Fem! Pada dateng kan… Kamu jangan dengerin yang lain. Beda kerjaan, beda kepentingan, beda orang, respons beda. Aku tuh yakin mereka mau dateng. Kalo ada yang negatif kamu jangan langsung terima, harus verifikasi dan buktiin sendiri apa emang kayak gitu kondisinya…”

Sejak itu saya yang aslinya udah PeDe jadi tambah yakin bila yang dibutuhkan seorang pemimpin itu :
* Pede, yakin dengan program kerja yang sudah dibuat dengan rapih walaupun banyak yang sangsi bakal gagal.
* Buktikan bila pendapat orang negatif kebanyakan itu salah dengan cara membuat strategi yang benar-benar kuat dari perencanaan sehingga kita dapat mengantisipasi semua bentuk pertanyaan yang kesannya mencari kelemahan.
* Ketulusan dan integritas personality itu penting dalam mengajak / menyajikan gagasan. Jujur waktu saya telepon, saya ini bukan siapa-siapa, skill jualan pun saya masih belum banyak tahu, saya sudah harus pegang divisi retail. Tapi yang membuat semua dealer pada akhirnya jadi partner dan teman saya ya ketulusan dan kepribadian.

PHK Massal = Kesempatan Jadi Boss

PHK Massal = Kesempatan Jadi Boss

Tindakan PHK massal start up terkenal GoTo dan Ruang Guru makin menunjukkan perusahaan itu akan efisien bila menggunakan sistem project terhadap skillful employee tapi tugasnya selesai saat perusahaan sudah berjalan baik. Ketika perusahaan sudah bisa berjalan dengan sistem, maka calon yang diberhentikan dulu adalah Programmer, Designer, dan tim yang berhubungan dengan database. Yang dipertahankan justru kebanyakan adalah tenaga operator yang bisa multitasking. Maintenance sistem yang berkala tidak perlu lagi ratusan perancang dan pembuat program.

Ngenes? Punya skill tinggi tapi dipecat juga.
Hmmm bagi yang memikirkan kenyamanan gaji bulanan mungkin merasa jadi programmer kok digituin banget. Tapi kalau buat saya yang lebih banyak self employ, memang wajar kok kalau pekerjaan yang berkenaan dengan perancangan software itu bersifat kontrak atau base on project. Gak perlu merasa masa depan gak stabil. Justru aneh kalau pola pikir programmer begitu. Sejatinya di kerjaan kreatif atau perancang konsep software akan lebih menghasilkan bila dilakukan perhitungan project. Programmer bisa kerja dengan banyak project dalam satu waktu atau kalau dia hanya mengerjakan satu project dalam satu waktu lalu setelah itu selesai dia harus cabut ya dia sudah punya portofolio yang lebih keren dan habis itu dia bisa dapat project baru yang lebih besar fee-nya daripada jadi orang gajian standar yang naiknya lama.

Jadi sebenarnya sejak awal raksasa Start Up ini yang justru seharusnya gak perlu pakek gaya-gaya rekrutmen besar-besaran, bikin kantor kayak mall biar karyawan betah. Memang sihhh keren tapi itu juga pemborosan aslinya. Uang fix cost fasilitas mall di kantor itu kalau ujung-ujungnya malah bikin cashflow mandek dan ratusan karyawan tidak dibayar gaji ya mendingan gak perlu itu fasilitas main Virtual Reality game di kantor, duitnya bisa untuk nafas panjang.

Anehnya lagi walaupun ratusan pengangguran baru hadir tapi selalu saja tak kurang lowongan kerja bertaburan. Artinya perusahaan juga tetap ada yang susahhh banget dapat karyawan yang mau tetap. Lucu juga, di satu sisi banyak karyawan pengen jadi karyawan tetap, tapi di perusahaan menengah dan kecil mau cari karyawan tetap tuh susah benerrrrr… Kalau kurang lahan pekerjaan sudah pasti web loker gak laku. Kenyataannya selalu laku.

Jadi sadari saja kemungkinan untuk jadi karyawan di perusahaan besar dan gaji bagus itu memang tidak mudah. Kalau ngotot tidak mau turunkan standar masuk perusahaan skala menengah ya alamat keluarga bisa telantar. Jadi gimana baiknya?
Nah welcome to disruptive world yang aslinya gak membatasi kita mau cari uang dari mana saja atau bidang apa saja selama ada peluang. Beberapa materi konten Tiktok saya selalu bahas kita ini bisa bekerja resmi untuk standar kebutuhan tapi tentu mau lebih, nah lebihnya cari sendirilah. Ada dunia tambahan selain dunia yang biasa kita hadapi, untuk cari uang tambahan. Ini sudah style era transformasi digital, multiverse, multi position, multi jobs, multi income juga dong jadinya. Ingat KEBUTUHAN KITA ITU BUKAN TANGGUNG JAWAB OWNER PERUSAHAAN TEMPAT KITA BEKERJA. Jadi percuma di era sekarang nyari terus kerjaan tetap bergaji besar dan stabil tapi malah gak dapat-dapat kerjaan model gitu. Mending ikuti style yang bisa lebih menguntungkan kalau dijalanin dengan tekun yaitu : yang penting dapat kerja semaksimal yang dulu, yang penting dapat duit dulu deh dan minimal ga kelaperan.. Nah kalau gak kelaparan bisa tuh otak diajak mikir akhirnya : kerjain apa lagi yaaa buat nambah kerjaan tetap. Cari banyak referensi profesi yang bisa dilakukan sambilan di kantor tapi gak ganggu kerjaan utama juga. Ini sudah akan jadi lumrah ke depannya.

Menyiksa bagi yang suka kemapanan? Ingat ajalah kalo kurang duit tetap aja gak mapan. Kemapanan itu tetap level yang pasti tercapai kok, tapi ya harus terima dulu kondisi era sekarang ya kemapanan malah bisa diraih dari banyak tempat, bukan satu tempat. Tiap orang sekarang kalau mau mapan bukan hanya punya jiwa loyal dengan perusahaan tapi juga punya jiwa entrepreneurship untuk jadi pemimpin bagi diri sendiri. Jadi karyawan sekaligus jadi boss, apa salahnya? Yang sudah di-PHK ini dikasih pesangon yang amat sangat lumayan loh.. Jadi kalau mau coba jadi boss bisa, sudah ada modal dikit… Ya tentu harus punya strategi, nah ini yang harus dipelajari. Makanya jiwa entrepreneurship itu penting dilatih bahkan ketika jadi karyawan pun tetap harus punya mental entrepreneurship. Karena pas kepepet penghasilan kurang, sudah bisa beralih jadi Boss. Keren kan kepepet malah jadi Boss πŸ‘

Soft Skill Manager (Part 1)

Suatu hari saya sedang ada meeting dengan kantor principal sebuah merek ponsel Eropa yang sekarang sudah almarhum mereknya. Kantor principal itu yaaa sejenis kantor pusat pemilik merek gitu. Saya yang kerja di kantor distributor sudah biasa kalau bolak balik meeting dan kerja bareng tim dari kantor principal.

Nah ada dua kisah yang mau saya sampaikan dari kantor ini.

Pertama : Tukang Ingetin
Tiap meeting saya beberapa kali dengerin manager di kantor principal ngomong dengan betenya : “Heran, gua di sini jadi tukang inget-ingetin kalian ya! Masak tiap meeting kerjaan gua cuman ingetin mulu yang kalian belum kerjain??!!”
Saya mah diem aja mendengar dengan seksama karena bukan saya yang diomelin, melainkan rekan di kantor principal. Saya solider aja ikut meresapi hehe…

Ntar kalau sudah kelar meeting, saya siap kuping lagi kalau si Bapak manager curhat-curhat sebel karena merasa paling ingat sendiri semua kerjaan yang harus dikerjain. Saya sering juga ngekor ke mana dia pergi kalau lagi di lapangan, soalnya saya yang paling gak sebel dengan beliau hihihi… Lah wong saya bukan karyawan di sana kannn, jadi saya itu mewakili Boss atau GM kantor saya sebagai partner manager kantor principal.

Nah dari beliau saya jadi paham juga softskill yang memang harus dimiliki pemimpin :
Daya ingat harus kuat. Gak ada manager lupaan tuh, asli gak ada! Dia bisa lupa hal-hal yang gak penting tapi ingat semua yang penting. Kerjaan manager salah satunya kan emang controlling jadi emang udah kayak tukang ingetin hehehe… Dah terima nasib aja tuh bapak manager, berkat keahliannya mengatur dan mengingat terbukti si bapak manager bisa cepat promosi ke posisi yang lebih tinggi lagi.

Kenapa bisa inget? Karena fokus. Ketika ada promosi untuk cari manager salah satu keahlian yang harus unggul ya itu : punya memori kuat sehingga kalau ada apa-apa bisa obyektif dalam pengambilan keputusan karena ingat semua kronologis dan alur tugas-tugas yang didelegasikan.

Kedua : Keberanian dan Kecepatan dalam Pengambilan Keputusan
Di kantor ini di atas manager ada GM. Usia jauh lebih senior. Bawaannya nyantai aja, agak nyeleneh, tapi kalau sudah serius karismanya gak ada yang bisa lawan.

Yang paling kami pelajari adalah ketika ada konferensi pers / interview seputar masalah persyaratan produk elektronik luar yang masuk ke Indonesia. Saya lupa persis kasusnya tapi ketika si GM ditanya mengenai kelengkapan manual procedure di dalam kotak kemasan apakah sudah sesuai aturan, jawabannya : Sudah! Padahal aslinya belum!
Tentu kalau jawab belum malah jawaban bunuh diri.

Setelah konferensi pers, semua manager dan staff langsung meeting. GM langsung instruksikan hari itu juga fokus untuk cetakan pengadaan yang harus ada di kotak kemasan. Besok malam harus sudah ada yang jadi dan langsung alokasikan semua ke outlet.

Orang yang tak punya nyali tidak sanggup mengambil keputusan darurat seperti ini. Hanya mereka yang punya pikiran taktis, percaya pada skill tim, dan siap mengambil risiko memantau sampai selesai yang berani memutuskan dengan cepat hal-hal yang dapat menyelamatkan perusahaan. Uang seberapun biasanya juga tidak jadi masalah asal semua beres sesuai kebutuhan. Lembur? Yaaa sudah biasa sih kalau orang marketing, orang percetakan, karyawan toko ngurus yang dadakan gini. Kita juga gak berasa terpaksa karena kita pun berusaha agar bisa selamat dan jualan dengan benar.

Jadi keterampilan manager yang juga syarat wajib punya adalah : keberanian pengambilan keputusan dengan cepat. Ini bukan skill main-main karena kenyataannya orang awam ngambil keputusan untuk dirinya saja mencla-mencle apalagi mengambil keputusan yang membawa hajat hidup orang banyak, bisa mendadak pingsan karena ketakutan mungkin.

Dari pemimpin-pemimpin yang pernah saya kenal juga saya lihat semuanya : no fear in taking decision. Justru takutlah kalau ternyata kamu tidak bisa mengambil keputusan karena akan menghambat banyak hal. Soal benar atau tidaknya keputusan itu urusan nanti, yang penting selamatkan muka dulu. Rugi urusan belakang karena duit bisa dicari lagi.

Dibayar untuk Meeting

Dibayar untuk Meeting

Cerita waktu kerja dulu.
Di kantor tempat saya kerja dulu itu banyak manager-nya. Ya karena merek yang dipegang banyak jadi tiap merek ada manager. Tiap merek bukan hanya 1 manager, bisa ada 2 : Sales manager lalu Marketing Manager yang melapor ke General Manager merek tersebut. Jadi satu divisi merek yaaa minimal ada 3 manager deh 🀣. Di bawah tiap manager ada supervisor atau staff.

Semua tim manager usia rata-rata 25-35 tahun. Kalau meeting bareng semua divisi, satu ruangan ya isinya manager semua dan meeting-nya lamaaaa…

Para manager muda ini jadi resah gelisah kalau meeting lama. Sudah gak boleh angkat telepon (tapi masih bisa SMS-an). Ada yang protes ke boss, merasa kalau meeting jadi gak bisa kerjain yang lain sementara tugas masih menumpuk. Lalu setelah meeting kita semua keluar dengan otak penuh mikirin kerjaan yang makin menumpuk.

Terus si boss selalu jawab gini tiap ada yang protes meeting : Heiii… Gua bayarin lu tuh untuk meeting! Lu tuh pemimpin, yang kerjain tugas lu selama meeting itu staff. Kalau lu mau jadi staff keliling-keliling outlet ngapain gua gaji lu sebagai manager.

Jadi sejak itu tertanam kalau kita dibayar untuk meeting bukan beresin urusan yang bisa diberesin staff. Kita harus naikkin level soalnya boss udah naikkin level kita tapi otak masih level staff yang tugasnya operator bukan konseptor. Tanpa konsep, operator gak jalan. Otomatis tanpa konseptor, bisnis gak jalan.

Nah kalau ketemu manager yang ribet dengan urusan operator bisa jadi :
1. Lagi kurang kerjaan alias gabut πŸ˜‚
2. Ada staff gak masuk atau berhenti, terpaksa rangkap-rangkap
3. Emang gak ada staff karena management diri sendiri 😁
4. Belum siap jadi manager, betahnya jadi staff (banyak loh yang begini)
5. Gak bisa jadi manager yang percaya dengan orang dalam mendelegasikan tugas.

Jadi manager itu lebih ke softskill personality. Kalau hard skill itu sudah jelas harus punya tapi mereka yang unggul dalam softskill yang tahan jadi manager yang bisa diandalkan. Kalau gak tahan mengembangkan softskill-nya maka biasanya jadi one man show manager & staff.

Next saya bahas cerita lucu-lucu seputar softskill manager-manager top yang saya pernah lihat.

FAQ in Digital Marketing : How to Get Many Followers?

The most questions that I got in a digital marketing material lesson are: How to Get Many Followers? Every digital marketer class could provide some technical tips in order to get followers. One of them is by learning the rules of social media algorithms. But too bad, after trying to follow those bunch of tips, the result is nothing. It still doesn’t increase your followers significantly.

Unfortunately, the science of marketing is not the same character as the empirical mathematical calculations which is represented by the digital system. In fact, getting followers is not as easy as following the flow of a computer program machine. Because we forget, the most important variable in the algorithm program is still probability theory. So the more social media users, the smaller probability for you to get your turn to be raised by the system. So understanding the robot system tips is not the main key. Remember, robots are only our assistants, the determinant is still us, the humans.

So, usually after discussing the technicalities, digital marketing mentors will remind you that it’s useless to know the Artificial Intelligence mechanism if the drivers and executor of AI actions (means : the human) are not involved in it. All sophisticated algorithm systems will depend on the account owner because:

* The system will be consistent if the humans consistently provide content/tasks to be distributed.

* Creativity could occur when we as account owners, use the advantage of the insights which is provided by the system in helping us to make better content / work ideas.

* The most crucial and being forgotten often is : our followers are humans, they cannot be considered as robots who will automatically follow even though our content is super interesting. So a personal and community approach remains the most important way instead of relying on robots to spread our creativity. Unless we are famous artists, people will follow our account if at least they know our behavior or attitude on social media. Unfortunately, robots can’t get along, so online or offline socializing in my opinion is more important than just posting diligently.

Finally, may I try to answer the question above again: how to increase followers? I won’t answer it with technical theories on social media. I am going to ask him/her back: how far is your impact and influence to your social media friends? If the answers are : I almost never post about myself, I don’t have many friends, I’m lazy to interact at social media, then what I would like to fix is ​​the digital marketing attitude mindset first. I’ll teach you how to attract your environment. That’s why I always start my workshop with personal brand strategy in digital world. When he/she knows what to improve from his mindset in digital marketing already, then I believe that he could manage technical tips for running his/her social media according to how the algorithm engine works.

For the conclusion of this topic, we have to understand that followers are reward from the strategies. So if you want to get more rewards, you have to do more efforts.Β 

Femikhirana (Digital Marketing Strategist)

FAQ : Bagaimana Cara Mendapat Banyak Follower???

Pertanyaan terbanyak dalam suatu pelajaran materi digital marketing yaitu : Bagaimana Cara Mendapat Banyak Follower? Setiap kelas digital marketing ataupun para mentor digital bisa saja memberikan tips-tips berupa langkah yang bersifat teknis. Salah satunya adalah mempelajari kunci dari aturan algoritma media sosial. Tapi hasilnya ternyata setelah mencoba mengikuti serangkaian tips masih tidak menambah follower secara signifikan.

Sayangnya ilmu marketing itu tidak sama sifat empirisnya dengan perhitungan matematis yang diwakili oleh sistem digital. Kenyataannya untuk mendapatkan follower memang tidak semudah mengikuti alur mesin program komputer. Karena kita lupa, variabel terpenting dalam program algoritma itu tetaplah teori probabilitas, jadi semakin banyak pengguna media sosial maka semakin kecil juga probabilitas untuk mendapat giliran terangkat oleh sistem. Jadi memahami tips sistem robot saja bukan penentu. Ingat, robot hanya asisten, penentunya tetap kita, manusianya.

Jadi biasanya setelah membahas teknis, para mentor digital marketing akan mengingatkan bila percuma saja mengetahui mekanisme Artificial Inteligent bila penggerak dan pengeksekusi hasil tindakan AI tidak terlibat di dalamnya. Semua sistem algoritma yang canggih akan tergantung kembali pada pemilik akun karena :

  • Sistem akan konsisten bila manusianya konsisten memberi konten/tugas untuk disebarkan.
  • Kreatifitas bisa terjadi bila kita sebagai pemilik akun memanfaatkan insight yang diberikan sistem untuk membantu memberikan ide konten / karya yang lebih baik.
  • Yang paling krusial dan sering dilupakan adalah follower kita itu adalah manusia, tidak bisa dianggap sebagai robot yang otomatis akan follow walaupun konten kita sudah super menarik. Jadi pendekatan personal dan berkomunitas tetap adalah cara yang paling utama daripada mengandalkan robot yang menyebarkan kreatifitas kita. Kecuali kita adalah artis terkenal, maka orang akan follow akun kita bila minimal mereka tahu prilaku kita di media sosial. Sayangnya robot tidak bisa bergaul sehingga pergaulan online atau offline itu menurut saya adalah hal yang lebih penting daripada rajin posting semata.

Akhirnya, jika saya boleh menjawab pertanyaan di atas lagi : bagaimana menambah follower? Maka saya tidak akan memberi jawaban teknis dulu. Saya akan bertanya balik : seberapa besar pengaruh dan dampak yang sudah Anda buat di lingkungan teman medsosmu?
Kalau jawabannya adalah : saya nyaris tidak pernah posting tentang diri saya, saya tidak punya banyak teman, saya malas interaksi di dunia medsos, maka yang akan saya benahi adalah pola pikir digital marketing attitude dulu, saya ajarkan dulu cara untuk menarik perhatian sekitarnya. Itulah sebabnya saya selalu memulai workshop dengan materi strategi personal branding di dunia digital.
Ketika ia sudah tahu apa yang harus diperbaiki dalam prinsip digital marketing barulah saya percaya bila ia bisa mengelola tips-tips teknis untuk menjalankan medsos sesuai dengan cara kerja mesin algoritmanya.

Pada akhirnya, follower itu juga adalah hadiah dari sebuah strategi. Bila kita ingin dapat hadiah lebih, ya harus berusaha lebih.

Femikhirana (Digital Marketing Strategist)

Article in English

The most questions that I got in a digital marketing material lesson are: How to Get Many Followers? Every digital marketer class could provide some technical tips in order to get followers. One of them is by learning the rules of social media algorithms. But too bad, after trying to follow those bunch of tips, the result is nothing. It still doesn’t increase your followers significantly.

Unfortunately, the science of marketing is not the same character as the empirical mathematical calculations which is represented by the digital system. In fact, getting followers is not as easy as following the flow of a computer program machine. Because we forget, the most important variable in the algorithm program is still probability theory. So the more social media users, the smaller probability for you to get your turn to be raised by the system. So understanding the robot system tips is not the main key. Remember, robots are only our assistants, the determinant is still us, the humans.

So, usually after discussing the technicalities, digital marketing mentors will remind you that it’s useless to know the Artificial Intelligence mechanism if the drivers and executor of AI actions (means : the human) are not involved in it. All sophisticated algorithm systems will depend on the account owner because:

* The system will be consistent if the humans consistently provide content/tasks to be distributed.

* Creativity could occur when we as account owners, use the advantage of the insights which is provided by the system in helping us to make better content / work ideas.

* The most crucial and being forgotten often is : our followers are humans, they cannot be considered as robots who will automatically follow even though our content is super interesting. So a personal and community approach remains the most important way instead of relying on robots to spread our creativity. Unless we are famous artists, people will follow our account if at least they know our behavior or attitude on social media. Unfortunately, robots can’t get along, so online or offline socializing in my opinion is more important than just posting diligently.

Finally, may I try to answer the question above again: how to increase followers? I won’t answer it with technical theories on social media. I am going to ask him/her back: how far is your impact and influence to your social media friends? If the answers are : I almost never post about myself, I don’t have many friends, I’m lazy to interact at social media, then what I would like to fix is ​​the digital marketing attitude mindset first. I’ll teach you how to attract your environment. That’s why I always start my workshop with personal brand strategy in digital world. When he/she knows what to improve from his mindset in digital marketing already, then I believe that he could manage technical tips for running his/her social media according to how the algorithm engine works.

For the conclusion of this topic, we have to understand that followers are reward from the strategies. So if you want to get more rewards, you have to do more efforts. 

Cita-Cita Waktu Kecil

#weeklywritingchallengeLike
#femikhiranawritingchallengelike

(ini tulisan untuk challenge di komunitas πŸ˜ƒ)

Cita-cita dari remaja ada banyak, tetapi satu per satu dihilangkan dan beberapa ada yang ditangguhkan karena siapa tahu tercapai nanti. Ada juga yang tercapai dengan modifikasi setelah sekian lama.

Waktu kecil banget, cita-cita standar jadi dokter. Tapi saya sadar kalau tampang saya saja yang cocok jadi dokter. Minat dan kemampuan cuman cocok jadi pasien. Waktu penjurusan di SMA pun saya tidak bisa masuk A2 karena nilai eksakta tidak memadai. Nasib sekolah di sekolah kaporit eh favorit ya gitu. Walaupun sekarang saya juga yakin ilmu eksakta saya lebih jago daripada dokter abal-abal yang asal lulus πŸ˜† tapi ya memang nasib tidak untuk jadi dokter.

Waktu kecil juga pengin jadi artis! Nyanyi, model, main film, atau apalahhh! Saya ingat ada teman sekelas saya yang sering ranking 1 yang akhirnya pengin ikutan jadi artesss gara-gara saya ngomong gitu ke dia πŸ˜‚ Dia ranking 1 konsisten, saya ranking 1 kalau pas teman-teman lagi lengah belajar aja πŸ˜† Lucu gitu sama-sama pengin jadi penyanyi.

Tapi saya tidak main-main waktu saya berniat untuk jadi seniman. Saya ikut semua kegiatan seni suara di sekolah, gereja. Saya memang tidak punya masalah tampil sedari kecil, justru sudah tua gini baru mikir gak terlalu nyaman. Saya juga ikutan kegiatan teater, drama, sampai prestasi tertinggi saya bisa lolos jadi dubber untuk sandiwara radio. Saya sudah SMA kelas 1 waktu itu. Zaman dulu sandiwara radio kan popularitasnya tidak kalah dengan sandiwara televisi. Malah enak kita hanya rekam suara, tidak perlu akting panggung. Dapat job dubbing pertama jadi figuranlah jelas, rekaman tidak sampai 10 menit selesai karena hanya baca beberapa lines saja, dan itu jadi anak kecil bukan jadi ABG πŸ˜… Tapi walaupun figuran tapi duitnyaaa weh banyak buat anak sekolahan. Sayangnya semua tidak bisa diteruskan karena ortu melarang saya jadi pulang malam. Dongkol sih iya, tapi saya masih bisa nyanyi di sekolah dan gereja. Masih bisa tampil di televisi stasiun lokal Palembang bareng teman-teman vokal grup di sekolah juga sudah lumayanlahhh…
Saya juga sebenarnya pengin kuliah di Institut Kesenian Jakarta, tapi ya sutralah, tangguhkan saja. Saya tetap cinta kegiatan seni, film, musik dan saya belajar otodidak saja dan sangat membantu pekerjaan saya sebenarnya. Jadi sejak kuliah saya putuskan tidak terjun di dunia entertainment walaupun kesempatan untuk itu sangat banyak. Salah satunya kesempatan jadi American Idol saya hempaskan jauh-jauh… Ya iyalahhh kan kejauhannnn…

Lalu cita-cita remaja yang mulai serius dan sesuai minat juga adalah : bekerja di media massa, jadi jurnalis. Karena saya memang suka nulis (semua yang orang gak suka, saya suka gitu aja ya kesimpulannya sebagai anti mainstream person) dan sudah terlibat dengan urusan penerbitan sejak SMP. Ngurus penerbitan majalah sekolah dan gereja dari A sampai Z. Satu majalah semua saya kerjakan sendiri dari nulis artikel, kumpulin naskah, ngetik, layout, instruksi ilustrator, sampai jadi mock up majalah sebelum terbit dan saya juga yang pantau produksi baik dari cara fotokopi sampai percetakan. Beberapa kali juga pernah study tour ke penerbitan surat kabar sampai magang di penerbitan waktu liburan kuliah. Suka. Tapi… saya jadi melihat ritme kerja para penulis, wartawan, dan tim produksi : gak ada jam kerja tetap, harus siap sedia waktu ada peristiwa dan sekejap nyampe di lokasi peristiwa mau jam berapapun, kalau deadline pasti begadang. Baru saya mikir : Is this what I want??? Can I do it? Me time nya nyaris bareng kerjaan. Duitnya? Dikitttt.. Sampai sekarang dunia penulisan itu dibayar paling sedikit daripada profesi manapun. Untuk mencapai jenjang yang enak paling sulit karena kita harus ngetop banget, kreatif jungkir balik. Pada akhirnya saya berpuas diri jadi penulis lepas saja daripada harus terlibat di dunia media. Sejak mulai ada internet saya merasa passion nulis-nulis sudah terealisasi karena sudah bikin blog, buku, sampai copy writing.

Setelah tamat SMA, pengin jadi psikolog. Merasa cocoklah karena memang minat. Psikolog juga profesi yang saat itu diramalkan jadi profesi yang banyak digunakan jasanya di era 2000an. Tapi tiba-tiba Papa menarik izin kuliah di Jakarta karena alasan tertentu. Awalnya sudah diizinkan. Kesel pasti. Di Palembang tidak ada jurusan psikologi. Tapi yang penting saya kuliah deh… Keinginan selanjutnya yang mendekati minat saat itu akhirnya jadi Manager, belajar bisnis, jadi boss lah. Ya sudah kuliah Management-lah πŸ˜ƒ

Waktu kuliah saya disadarkan kalau saya juga punya hobi main sekolah-sekolahan sejak kecil, saya jadi gurunya, lalu yang jadi muridnya mahkluk tak kasat mata πŸ˜‚ Memang gak ada yang jadi murid di rumah, jadi saya buat murid imajiner. Sejak kuliah itu juga sampai sekarang saya bersyukur belajar bisnis edukasi dimulai dari jadi guru privat waktu kuliah. Bayarannya? Lebih besar daripada kerja di media dan saya masih bisa nulis.

Sejak kuliah akhirnya saya memang selektif mencari kerjaan yang sepadan hasilnya. Boleh kerja bakti tapi hasilnya harus menyenangkan agar jadi motivasi. Saya juga mulai melihat peluang yang lebih banyak menghasilkan uang dan mencoba mendalami skill yang akan terus dipakai orang. Itu yang memutuskan saya ambil diploma program komputer ketika kuliah semester akhir sebagai keterampilan yang berbeda dibandingkan lulusan management lainnya.

Singkat cerita sekarang ini apakah cita-cita saya waktu remaja tercapai? Yaaa bisa dikatakan beberapa akhirnya terealisasi. Thanks to technology yang memudahkan untuk mewujudkan cita-cita. Saya menulis, mengajar, bikin usaha sendiri di bidang yang saya kuasai dari kuliah, dan saya juga senang bisa mengartiskan diri di Smule dan TikTok πŸ˜†

Saya selalu percaya selama masih dikasih nafas kita masih sah untuk mewujudkan cita-cita yang sempat mandek. Ada yang lulus sarjana di usia 70 tahun, dan akhirnya bisa berkreasi sesuai passion-nya di usia yang sudah menanjak. Sah! Mau jadi dokter di usia tua pun bisa kalau memang masih pengin loh yaaa… Prestasi dan pencapaian diri tidak mengenal usia dan hak asasi semua makhluk hidup sampai kapanpun.

Femikhirana (Digital Marketing Strategist)