Balas Dendam Terbaik

Selesai nonton The Glory kemarin.
Udah gak bisa sehari nonton 2 episode euy…
Maksimum 1.5 episode, beneran nanggung, mata dah protes. Ya tiap nonton udah jam 11 malem.

Masih on going yang Taxi Driver. Untung ini on going 2 episode per minggu.

Dua drama itu drama balas dendam.
Sama-sama ceritanya enak diikuti.
Alur gak lelet. Rapih. Seru. Penasaran. Terus habis nonton lega.

Intinya ngajarin kalau mau balas dendam boleh-boleh aja.. ASAL…..

1. Emang yang dibalas pantas menerima akibat perbuatannya.

2. Itu otak harus pintar untuk cari cara biar rencana lancar. Jadi balas dendam tidak berlaku bagi mereka yang lemotttttt… Jangan coba-coba kalau otak tak mampu hehehe…

3. Harus beneran niat bulat, besar tekad, kuat mental, gak boleh baper, gak boleh gampang menyerah.

4. Kerjainnya jangan sendirian! Bundir itu namanya kalo balas dendam pakai usaha sendiri. Cari tim, kerjasama. Saling support, saling berbagi tugas dan memperhatikan. Gak ada balas dendam bisa berhasil kalau dilakukan sendiri.

5. Ini harus ada, kalau gak ada point 1-3 gak bisa terlaksana juga : PUNYA DUIT ! 😂😂😂
Tapi punya duit itu identik dengan kombinasi no. 2 dan no. 3. Ketika otak dilatih tidak lemot plus tekad kuat, duit ngalir untuk jadi modal membuat pergerakan.

Dan ada satu lagi yang harus disadari ketika menyusun lima syarat tadi. Yaitu sebenarnya dirinya yang adalah korban, sudah berhasil kok dalam membalas dendam, karena selalu berproses membalikkan keadaan dari yang dianggap terlemah menjadi yang terkuat.

Proses menjadi yang terkuat itulah justru yang menurut para filsuf adalah inti balas dendam yang terbaik karena fokus pada memperkuat internal diri dan kebahagiaan diri. Membuktikan bila dirinya masih bisa hidup penuh kualitas membalikkan keadaan adalah pukulan telak bagi mereka yang pernah menyakiti dirinya.

Jadi pelajarannya di dua drama itu adalah jangan melakukan pembalasan yang membabi buta yang malah berefek menyimpan sakit hati melainkan gunakan rasa sakit itu menjadi senjata untuk menuju pendewasaan pribadi dan kecerdasan otak plus finansial. Hidup yang berkualitas itu justru akan lebih membawa rasa sakit dan malu yang tajam kepada mereka yang pernah menyakiti.

Saya ingat salah satu quote di drama Crash Landing on You : Aku sedang balas dendam. Menjadi bahagia adalah balas dendam terbaik. Becoming happy is the best revenge.

Kalau di kitab suci dikatakan balas dendam adalah urusan Tuhan ya itu kan yang bagian Tuhan. Yang bagian manusia adalah balas dendamlah dengan menyembuhkan diri dan sah-sah saja untuk menunjukkan kepada para kriminal bila kita bukan sosok yang menyerah dengan hidup dan bisa membalikkan keadaan sesuai dengan hukum semesta dan hukum negara yang berlaku.

So be smart, strategic wisely, and rich! Itu sudah 90% true and best revenge, 10%nya strategi untuk melemahkan lawan. Maka lawan akan auto menerima hukumannya dari semesta yang memang urusan Tuhan.

Soft Skill Manager (Part 3)

Soft Skill Manager (Part 3)
Berimajinasilah!

Ketika lagi ngalor ngidul di chat dengan seorang teman saya yang dulu adalah Finance Accounting Manager dia cerita kalau dia lagi sambil mikir-mikir.
“Mikirin apa?” tanya saya.
“Mikirin ide, sistem, konsep, rumus untuk kelola keuangan biar lebih efektif, efisien. Kalau sudah gini jadi agak harus mengkhayal-khayal gitu kan??”
“Emang…” timpal saya.

Saya gak terlalu bisa membayangkan kalau mengkhayal untuk konsep keuangan tuh gimana tapi yang jelas kalau di divisi keuangan saja para manager harus menggunakan pikiran out of the box kepentingan efisiensi, apalagi divisi Marketing seperti kerjaan saya hehehe… Bukan mengkhayal lagi kayaknya tapi rada menjurus ke halu hehehe…

Tentu yang dipikirkan oleh para pemimpin bukan khayalan atau halu yang tidak bisa diwujudkan. Khayalan yang bisa dibuat strateginya sehingga tujuan atau mimpi terwujud. Khayalan yang bisa dibuat sistemnya sehingga apa yang kita inginkan bisa tercapai.

Contoh konkretnya : bila kita mau efisiensi biaya transportasi, maka para manager harus memeriksa semua komponen biaya yang bisa diefisiensikan. Kemudian ia mengumpulkan semua informasi tentang sistem transportasi kota/negara yang ada saat ini bahkan kalau perlu rute-rute jalanan pun dia harus cari informasinya. Setelah itu diperiksa opsi-opsi apa yang bisa digunakan agar biaya bisa dikurangi. Namun, si manager pun bisa berimajinasi, seandainya di kantor punya mobil inventaris untuk antar jemput kira-kira gimana ya perhitungannya. Lalu mulailah ia mencari informasi semua kemungkinan investasi yang bagus untuk mobil perusahaan. Dia hitung biaya penyusutannya, semua komponen biaya yang bakal terjadi bila mobil tersebut ada. Ternyata kalau punya mobil antar jemput sendiri, biaya transportasi karyawan bisa dihemat sebesar 30%. Tapi kan mobil gak ada… Jadi hanya diimajinasikan semua seolah-olah nyata dan bila diwujudkan maka kurang lebih tujuan perusahaan akan tercapai.

Kerjaan manager memang yang diandalkan adalah pikirannya. Jadi jangan berkesimpulan :
“Atasan saya mah gak ngapa-ngapain tuh…! Kita yang setengah mati di pabrik. Dia mah duduk aja di ruangannya yang ber-AC, duduk depan komputer, kadang keliatan bengong aja.”
Yaaa namanya juga beda level pemahaman, jadi dimaklumi saja kalau ada pola pikir yang menganggap level managerial hanya ongkang-ongkang kaki sementara karyawan operasional yang pontang-panting. Level pontang-panting managerial itu beda soalnya, gaes…

Manager itu sudah harus cemas was-was kalau di otaknya tidak ada inovasi yang bisa disarankan ke perusahaan. Sehingga semua target perusahaan tidak tercapai. Kalau target tidak tercapai itu alamat manager biasanya ketar-ketir. Ketar-ketir mikirin nasib karyawan lain loh, bukan nasib sendiri. Kalau boleh milih tentu lebih mudah kerja fisik dibandingkan dinilai performance-nya berdasarkan indikator otak, bener gak gaes???

Kalau level managerial sudah hilang daya imajinasinya maka calon kebangkrutan akan datang ke perusahaan itu dan semua karyawan operasional boro-boro naik gaji, tapi kehilangan pekerjaan.

Dalam keseharian saya tidak pernah melihat manager sukses yang malas hanya ongkang-ongkang kaki. Mungkin gaya duduknya emang begitu tapi otaknya ngebul walaupun gak pakai sering-sering mondar-mandir kiri kanan di pabrik.

Jadi kesimpulannya soft skill yang harus dimiliki owner atau level managerial di bagian ke-3 ini adalah :
1. Kemampuan berimajinasi tentang mimpi / tujuan perusahaan. Makanya tuh manager harus bisa menjabarkan visi misi yang emang kayak mengkhayal itu hehe…
2. Kemampuan berpikir yang kompleks namun konkret.
3. Memiliki pengetahuan yang luas, banyak baca dan tahu kondisi luar perusahaan.
4. Mampu mengelola informasi menjadi keputusan yang diperlukan.
5. Mampu mengkonsep mimpi jadi sebuah sistem konkret yang bisa diwujudkan.

Bagaimana supaya bisa punya kemampuan di atas?
1. Banyak baca buku dari komik sampai science
2. Belajar mengelola dan menganalisis informasi agar tidak kewalahan akibat banyaknya informasi, melainkan menyeleksi mana informasi yang perlu dan tidak perlu dibaca/diterapkan
3. Belajar kesenian apapun : sastra, musik, gambar, dll. Fungsinya apa? Biar gak bisanya ngomong dan ngetik doang tapi bisa mewujudkan dalam bentuk karya konkret yang bisa dipresentasikan dengan menarik dan berguna. Belajar kesenian melatih keseimbangan imajinasi dan sistem kerja logika otak dalam perencanaan untuk mewujudkan imajinasi jadi kenyataan. Saya kasih tahu rahasia dikit, orang seni biasanya jarang gaptek karena mereka punya sensitifitas untuk menerjemahkan simbol icon/gambar/chart/suara jadi satu fungsi instruksi otomatisasi.

Part 1 baca di SINI

Part 2 baca di SINI

Digital Behavior 2023

Digital Behavior 2023 (2)
Karakteristik pengguna yang koplak di berbagai medsos.

Seleksi pertemanan di FB
Paling gampang lihat kelakuan user FB yang layak jadi friend atau tidak. Usia kebanyakan di atas 30, di saat banyak yang ngerasa udah perlu tempat untuk pelampiasan pendapat tanpa merasa malu bahkan gak masalah kalau mempermalukan diri. Orang koplak rata-rata modelnya gini di FB :

1. Ngomongin orang statusnya ribet, tapi status dia lebih ribet. Laper kehujanan sendiri sambil marah-marah dan doa pada Tuhan di status saja nulis bisa dua paragraf, minimal 400 karakter kayaknya.

2. Ngomongin profile picture orang gak jelas, tapi gak nyadar profile picture-nya sendiri juga bukan fotonya sendiri.

3. Komennya membosankan dan nanya sesuatu yang gak nyambung karena dijawab juga ujungnya pembelaan diri.

Yang gini ya auto unfollow aja. Perlu waktu 100 tahun untuk jadi customer karena pola pikirnya maju selangkah mundur 100 langkah.

Dengan kata lain : orang yang tidak konsisten di FB bukan calon teman yang pas di FB. Dan cari yang inkonsisten paling gampang emang di FB karena user-nya merasa bebas nulis tanpa mikirin efek samping hehe…

Seleksi pertemanan di IG :
1. Kalau gak kenal, akun private, auto blokir. Jangan coba-coba dibiarin. Pantau follower tiap hari bukan setahun sekali. Ada yang men-curigation langsung blokir. Kalau tidak blokir dampaknya mereka akan follow teman-teman kita dan nanti takutnya sasarannya adalah teman kita juga.

2. Kalau tidak kenal, akun dibuka, gak ada posting, gak usah folback. Tak perlu sampai berbaik hati folback segala.

3. Lihat status di-like sama akun IG bule tak dikenal, apalagi cewek2 yang langsung kelihatan semua onderdilnya, auto blokir aja. Kalo gak diblokir ntar algoritmanya ngalir banyak dilihat orang model begituan juga hehehe…

Seleksi pertemanan di TikTok :
Nah ini yang agak fenomenal. Di Tiktok yang terlihat liar ternyata di-follow gak bikin parno. Sampai sekarang belum pernah lihat akun open BO di Tiktok yang ganggu-ganggu. Di IG malah banyakkkk… Jadi so far selama akun dilindungi two factor authentication dan tidak diganggu inbox yang macam-macam ya nyantai aja. Paling banyak sih orang inbox invite untuk nonton live. Tapi bisa diabaikan karena yaaa namanya juga mereka usaha, kita gak mau nonton ya cuekin aja. Walaupun dari segi konten Tiktok banyak yang suka koplak tapi untuk dapat follower di Tiktok paling aman dari gangguan.

Seleksi pertemanan di Linked In :
Sejak diambil alih Microsoft, Linked jadi kayak pasar beneran. Awalnya pasar tenaga kerja, lama-lama banyak orang koplak juga masuk yang merusak dunia pasaran.

Hati-hati di aplikasi profesional, tukang tipunya beneran jauh lebih profesional loh! Yang propaganda pun tak maen-maen.

Seleksinya mirip dengan FB, mudah!
Selama orang yang posting tidak konsisten, ya tidak perlu follow atau connected. Banyak yang tidak konsisten, misalnya :
1. Posting yang profesional di jendelanya tapi komen di postingan profil yang fotonya menarik dengan kalimat menjurus flirting.
2. Posting profesional bercampur dengan posting agama, politik, plus hoax. (Banyak yang gini)

Satu lagi nih… Jangan berharap dapat banyak connection terus bisa dapat kerjaan dari yang rajin posting. Rajin posting itu indikasinya mereka juga banyak waktu luang, nganggur, nyari komunitas, jadi ngarepin mereka bisa do something to your account itu keajaiban.

Beberapa orang yang contact saya bahas kerjaan cenderung kebanyakan yang jarang komen cari relasi. Jadi ngeliat mereka yang suka komen ngarep di seleb Linked itu aslinya bikin geleng-geleng kaki eh kepala.

KESIMPULAN :
PENGEN JADI TEMAN BERKUALITAS, perbaiki prilaku digital jangan sampai kayak di atas itu. Dijamin kalo gak nyebelin, berkah melimpah di dunia. Dijamin! Gak berlaku buat yang nyari berkah melimpah di akhirat tapi di dunia asli dan maya dia reseh…

Soft Skill Manager (Part 2)

Part 1 di SINI

Ini awal didikan dari boss saya ketika saya baru saja diangkat jadi manager. Saat itu saya diminta untuk membuat meeting bersama para dealer yang akan mendukung program kerja divisi saya. Akhirnya saya dan boss saya sudah menentukan tempat dan tanggal, tinggal telepon dealer-nya untuk datang.

Karena saya masih belum terlalu banyak kenal dengan dealer yang ada, boss saya minta rekan manager lainnya untuk bantu telepon dealer bawaan mereka masing-masing agar datang ke meeting yang saya buat. Lalu saya tinggal tanya saja ke manager lain siapa saja yang bakal hadir.

Kelihatannya gampang. Tapi ketika saya minta tolong dengan instruksi dari Boss, rekan manager lain banyak yang merespons negatif dan pesimis :
“Hmmm susah loh, Fem. Mereka sibuk jam segitu, belum tentu mau datenglah!”
“Emang mau ngomong apa sih? Kan bisa pake telepon atau kita yang sampein?”
Banyaklah kalimat-kalimat yang intinya para dealer tidak akan hadir ke meeting saya. Padahal Boss saya juga bakal hadir.

Berbagai alasan dari para manager senior tentang dealer yang sibuk atau belum tentu mau datang saya sampaikan ke Boss. Siapa tahu kita bisa buat cara yang lebih pas untuk para dealer agar bisa paham proyek kerja saya. Tapi Boss saya geleng-geleng kepala aja, menolak usulan cara lain, jadi harus meeting biar semua jelas dan kelar dalam hari itu, langsung proyek bisa dimulai.

“Kamu jangan dengerin orang laen, Fem. Udah kamu telepon mereka sendiri aja kalau gitu… Kamu aja yang ngomong sekalian kenalan. Pasti dateng deh!”

“Mereka ngomong dealer gak bakal dateng itu pendapat mereka, bukan dealer-nya! Cari gampangnya aja biar gak ribet bujuk-bujuk dateng. Mereka fokus sama kerjaan mereka sendiri. Jadi kamu telepon aja sendiri.”

Akhirnya saya telepon sendiri semua dealer yang mau diundang. Ya dari kenalan sambil mengundang dan memberi kisi-kisi materi meeting. Anehnya semua responsnya positif dan semua bilang bakal dateng. Weh??!! Bener juga si Boss bilang…

Meeting berjalan sangat menyenangkan, sukses, semua setuju presentasi saya. Waktu mau pulang, Boss saya kembali lagi ngomong ke saya :
“Tuh kan, Fem! Pada dateng kan… Kamu jangan dengerin yang lain. Beda kerjaan, beda kepentingan, beda orang, respons beda. Aku tuh yakin mereka mau dateng. Kalo ada yang negatif kamu jangan langsung terima, harus verifikasi dan buktiin sendiri apa emang kayak gitu kondisinya…”

Sejak itu saya yang aslinya udah PeDe jadi tambah yakin bila yang dibutuhkan seorang pemimpin itu :
* Pede, yakin dengan program kerja yang sudah dibuat dengan rapih walaupun banyak yang sangsi bakal gagal.
* Buktikan bila pendapat orang negatif kebanyakan itu salah dengan cara membuat strategi yang benar-benar kuat dari perencanaan sehingga kita dapat mengantisipasi semua bentuk pertanyaan yang kesannya mencari kelemahan.
* Ketulusan dan integritas personality itu penting dalam mengajak / menyajikan gagasan. Jujur waktu saya telepon, saya ini bukan siapa-siapa, skill jualan pun saya masih belum banyak tahu, saya sudah harus pegang divisi retail. Tapi yang membuat semua dealer pada akhirnya jadi partner dan teman saya ya ketulusan dan kepribadian.

FAQ : Bagaimana Cara Mendapat Banyak Follower???

Pertanyaan terbanyak dalam suatu pelajaran materi digital marketing yaitu : Bagaimana Cara Mendapat Banyak Follower? Setiap kelas digital marketing ataupun para mentor digital bisa saja memberikan tips-tips berupa langkah yang bersifat teknis. Salah satunya adalah mempelajari kunci dari aturan algoritma media sosial. Tapi hasilnya ternyata setelah mencoba mengikuti serangkaian tips masih tidak menambah follower secara signifikan.

Sayangnya ilmu marketing itu tidak sama sifat empirisnya dengan perhitungan matematis yang diwakili oleh sistem digital. Kenyataannya untuk mendapatkan follower memang tidak semudah mengikuti alur mesin program komputer. Karena kita lupa, variabel terpenting dalam program algoritma itu tetaplah teori probabilitas, jadi semakin banyak pengguna media sosial maka semakin kecil juga probabilitas untuk mendapat giliran terangkat oleh sistem. Jadi memahami tips sistem robot saja bukan penentu. Ingat, robot hanya asisten, penentunya tetap kita, manusianya.

Jadi biasanya setelah membahas teknis, para mentor digital marketing akan mengingatkan bila percuma saja mengetahui mekanisme Artificial Inteligent bila penggerak dan pengeksekusi hasil tindakan AI tidak terlibat di dalamnya. Semua sistem algoritma yang canggih akan tergantung kembali pada pemilik akun karena :

  • Sistem akan konsisten bila manusianya konsisten memberi konten/tugas untuk disebarkan.
  • Kreatifitas bisa terjadi bila kita sebagai pemilik akun memanfaatkan insight yang diberikan sistem untuk membantu memberikan ide konten / karya yang lebih baik.
  • Yang paling krusial dan sering dilupakan adalah follower kita itu adalah manusia, tidak bisa dianggap sebagai robot yang otomatis akan follow walaupun konten kita sudah super menarik. Jadi pendekatan personal dan berkomunitas tetap adalah cara yang paling utama daripada mengandalkan robot yang menyebarkan kreatifitas kita. Kecuali kita adalah artis terkenal, maka orang akan follow akun kita bila minimal mereka tahu prilaku kita di media sosial. Sayangnya robot tidak bisa bergaul sehingga pergaulan online atau offline itu menurut saya adalah hal yang lebih penting daripada rajin posting semata.

Akhirnya, jika saya boleh menjawab pertanyaan di atas lagi : bagaimana menambah follower? Maka saya tidak akan memberi jawaban teknis dulu. Saya akan bertanya balik : seberapa besar pengaruh dan dampak yang sudah Anda buat di lingkungan teman medsosmu?
Kalau jawabannya adalah : saya nyaris tidak pernah posting tentang diri saya, saya tidak punya banyak teman, saya malas interaksi di dunia medsos, maka yang akan saya benahi adalah pola pikir digital marketing attitude dulu, saya ajarkan dulu cara untuk menarik perhatian sekitarnya. Itulah sebabnya saya selalu memulai workshop dengan materi strategi personal branding di dunia digital.
Ketika ia sudah tahu apa yang harus diperbaiki dalam prinsip digital marketing barulah saya percaya bila ia bisa mengelola tips-tips teknis untuk menjalankan medsos sesuai dengan cara kerja mesin algoritmanya.

Pada akhirnya, follower itu juga adalah hadiah dari sebuah strategi. Bila kita ingin dapat hadiah lebih, ya harus berusaha lebih.

Femikhirana (Digital Marketing Strategist)

Article in English

The most questions that I got in a digital marketing material lesson are: How to Get Many Followers? Every digital marketer class could provide some technical tips in order to get followers. One of them is by learning the rules of social media algorithms. But too bad, after trying to follow those bunch of tips, the result is nothing. It still doesn’t increase your followers significantly.

Unfortunately, the science of marketing is not the same character as the empirical mathematical calculations which is represented by the digital system. In fact, getting followers is not as easy as following the flow of a computer program machine. Because we forget, the most important variable in the algorithm program is still probability theory. So the more social media users, the smaller probability for you to get your turn to be raised by the system. So understanding the robot system tips is not the main key. Remember, robots are only our assistants, the determinant is still us, the humans.

So, usually after discussing the technicalities, digital marketing mentors will remind you that it’s useless to know the Artificial Intelligence mechanism if the drivers and executor of AI actions (means : the human) are not involved in it. All sophisticated algorithm systems will depend on the account owner because:

* The system will be consistent if the humans consistently provide content/tasks to be distributed.

* Creativity could occur when we as account owners, use the advantage of the insights which is provided by the system in helping us to make better content / work ideas.

* The most crucial and being forgotten often is : our followers are humans, they cannot be considered as robots who will automatically follow even though our content is super interesting. So a personal and community approach remains the most important way instead of relying on robots to spread our creativity. Unless we are famous artists, people will follow our account if at least they know our behavior or attitude on social media. Unfortunately, robots can’t get along, so online or offline socializing in my opinion is more important than just posting diligently.

Finally, may I try to answer the question above again: how to increase followers? I won’t answer it with technical theories on social media. I am going to ask him/her back: how far is your impact and influence to your social media friends? If the answers are : I almost never post about myself, I don’t have many friends, I’m lazy to interact at social media, then what I would like to fix is ​​the digital marketing attitude mindset first. I’ll teach you how to attract your environment. That’s why I always start my workshop with personal brand strategy in digital world. When he/she knows what to improve from his mindset in digital marketing already, then I believe that he could manage technical tips for running his/her social media according to how the algorithm engine works.

For the conclusion of this topic, we have to understand that followers are reward from the strategies. So if you want to get more rewards, you have to do more efforts.