Istilah Digital Safety/Cyber Security (Part 1) : Hacker

Cyber crime itu adalah kejahatan yang relatif sulit ditindaklanjuti, biasanya ya sampai pada pelaporan saja. Kenapa? Karena pembuktian forensik digital untuk tergenapi kejadian itu adalah sah cyber crime itu memang tidak mudah.  Selain data yang tidak kuat (bisa jadi karena sudah banyak dihapus permanen dan tidak ada back up), bisa juga data yang jadi bukti juga adalah data ambigu alias data tersebut terjadi karena persetujuan yang diberikan korban secara sah / tahu sama tahu / mau sama mau / alias tidak ada paksaan. 

Oleh karena itu cyber crime lebih baik dicegah jangan sampai terjadi.  Kalau sudah terjadi biasanya penyelesaiannya terekstrem juga penyelesaian secara digital alias viral yang diserahkan kepada netizen untuk memutuskan memberikan sanksi moral dalam dunia digital sendiri untuk meminimalisir rasa sakit / emosi yang terjadi pada korban.

Pahami istilah digital safety, cyber security supaya tidak bingung waktu baca berita atau analisis tentang keamanan digital.

PART 1

1. Hacker: Orang yang memiliki keahlian di bidang komputer dan jaringan, dan menggunakan keahliannya untuk menembus sistem komputer atau jaringan. Hacker itu juga ada macam-macamnya, bukan satu jenis saja.

Pertama, Black Hacker atau Black Hat menembus sistem dengan tujuan jahat, seperti mencuri data, merusak sistem, atau menyebarkan malware.

Kedua, kalau cuman menembus sistem untuk kepentingan yang tidak merusak bahkan membantu untuk pemulihan data atau memperbaiki jaringan bersama disebut White Hacker / White Hat. Jadi pemulihan akun yang hilang karena diretas oleh Black Hat kalau minta bantuan teman yang kita kenal baik untuk mencoba mengembalikan lagi ya tetap dengan cara hacking juga tapi yang melakukan untuk memulihkan disebut White Hat.  Jadi hacker lawan hacker dong? Ya iya emang begitu, tepatnya Black Hat VS White Hat.  

Ketiga, nah ada juga istilah Grey Hat, yaitu hacker yang memasuki sistem orang lain tanpa pake permisi, ya tidak legal, tapi tujuannya tidak jahat karena sistemnya tidak diutak-atik, paling dilihat-lihat, kalaupun ada yang di-copy untuk kepentingan dirinya sendiri (misalnya copy kode software biar dia gak harus bayar alias software bajakan).  Ada yang tujuannya memang iseng aja dan kalau sudah bisa menembus sistem nanti ngabarin yang punya web/sistem supaya orang IT memperbaiki sistem keamanan dengan lebih ketat.

Pencegahan :

Tidak ada yang perlu ditakuti sebenarnya dari istilah hacker. Hacker itu bukan dilawan tapi memang dicegah. Cegahnya tidak susah (lebih susah mencegah maling di dunia nyata sebenarnya), asal mau inisiatif perlindungan akun aja :

  1. Pasang kunci / password yang ribet (tidak berpola yang gampang ditebak).  Disarankan pasang double pengaman alias double password atau two factor authentication (2FA).  Ketahuilah 2FA itu sudah kasta tertinggi dalam pengamanan akun, tapi ya gitulah, banyak yang gak mau melakukan karena tidak tahu dan juga tidak mau repot.
  2. Tiap kamar/akun diberi password beda (jangan ngeyel bilang takut gak inget)
  3. Inget dong semua bentuk platform resmi, jadi loginnya jangan di akun atau software tidak resmi. Sering download aplikasi-aplikasi nambah fitur medsos atau whatsapp yang bukan dari platform resmi alamat langsung ketemu dengan maling.
  4. Kalau memang harus download aplikasi yang tidak resmi atau tidak ada di Playsore / Appstore ya pastikan kamu tahu siapa pembuat aplikasi tersebut.  Jadi aplikasi kantor sendiri atau aplikasi untuk kerja yang dipakai komunitas bersama, aplikasi belajar yang dibuat teman ya gak masalah di-download.
  5. Jangan gunakan 1 email untuk semua akun. Jangan gunakan 1 password untuk semua akun. Karena 1 kena retas ya semua akun juga kena. Aplikasi kantor pakai email sendiri, aplikasi medsos pakai email sendiri, aplikasi pribadi pakai email sendiri.
  6. Akun tidak aktif, akun tidak digunakan, akun tidak pernah di-update lagi sebaiknya dihapus/deactive.  Akun nganggur / rumah kosong yang masih ada isi di dalamnya pasti lebih mengundang maling daripada rumah yang selalu dijaga. Hal ini supaya akun tidak diretas dan malah mengganggu orang sekitar yang mengenal kita.
  7. Jaga etika di dunia digital.  Ini juga kasta tertinggi keamanan akun yang seringkali diremehkan.  Menjaga kelakukan / attitude itu untuk memproteksi diri loh. Maling segan dengan orang yang jejak digitalnya bagus dan punya personal brand yang bagus dan kuat, pasti rugi ngerjain orang gini.  Orang baik akan selalu diakui baik walaupun akunnya diretas dan nanti diisi posting-posting penipuan, friendlists/followers langsung tahu kalau akun tersebut pasti sudah diretas. Orang baik yang difitnah biasanya juga tidak akan berdampak apapun, malah dibela netizen. 

Kembali ke menu awal

Es Kopi Panas

Saya sebenarnya bingung kenapa orang banyak pengen tahu itu Jessica beneran pelaku pembunuhan atau gak… Sampe nanya-nanya ke dukun (tapi gratis maunya) segala…

Kepentingan untuk diri sendiri apa?

Terus kalau benar kenapa? Kalau salah kenapa?

Apa urusannya dengan kehidupan sehari-hari?

Kalau pakai alasan membela dan melawan ketidakadilan hukum Indonesia kayaknya kok kejauhan mikirnya 😅

Kalau pakai alasan biar waspada dengan kriminalitas, ya kasus lain pun semua sama, ya belajar aja yang jelas-jelas sudah kelihatan psikopatnya…

Saya gak ngikutin kasus ini dari dulu. Gak nonton proses sidang, gak baca-baca, gak googling-googling investigasi sendiri, sampai ada dokumenter Netflix pun gak nonton dan geli sendiri baca komen yang nonton. Mau dia pelaku atau gak ya biarin aja…

Tapiiii… dari cuman dapat info-info dan melihat sekilas konten yang tanpa sengaja lewat di timeline betapa sosok ini dalam kondisi ikhlas, bahagia, menjalankan hukumannya dengan mengisi waktu dengan kegiatan positif, banyak fans, dll dll ada beberapa point yang menarik untuk saya telaah dan terima sendiri (ya kalau orang lain tidak setuju juga gak masalah) :

1. Memangnya kalau pembunuh itu semua harus wajah bengis atau kalau sudah di penjara pas ketemu kamera harus bersikap nyesel banget? Banyak narapidana emang ikhlas dan bisa hidup bahagia ketika tinggal di penjara kok…

2. Setiap orang itu punya sisi heroic dan villain dalam kehidupan sehari-hari. Bukan berarti orang yang sehari-hari yang bertindak baik tapi di otaknya selalu baik. Jangan naiflah yaaaa… Tiap orang itu punya sisi menyebalkan to the max yang kebetulan ada yang bisa ditolerir. Demikian juga kalau dulu dia jahat bukan berarti juga dia 100% jahat ke semua orang, gak juga di otaknya selalu jahat, kenyataannya banyak napi yang disayang keluarganya dan dia pun sayang bahkan ada yang masih bisa menafkahi keluarganya selama di penjara.

Soooooooo… menilai orang itu pembunuh atau bukan hanya berdasarkan apa yang terlihat baik di video timeline itu ibarat anak kecil yang otaknya masih mentah dan gampang diperalat emosinya hanya dengan menyuapnya dengan sesuatu yang “kelihatan baik dan enak”. Gampang banget untuk dikasih permen, dikasih uang, diajarin bahasa Inggris dan langsung berkesimpulan : “Wahhh orang ini mulia sekali hatinya…”

3. Semua orang itu punya kesempatan untuk menyesali perbuatannya tapi tetap menanggung konsekuensinya. Napi yang dihukum lama, ketika masuk dan sekarang sudah tentu beda perilakunya. Tapi ada yang tidak pernah kita bisa tahu : apakah penyesalan yang ada dan pengampunan yang diberikan akan menjadi jaminan orang itu pasti kembali ke jalan yang benar? Tuhan aja gak tahu kalau gini… Apalagi negara kan?! Jadi apa dong dasar yang dipegang oleh hukum memberlakukan periode tinggal di penjara dalam waktu lama? Kembali lagi ke track record kejadian dan track record kesehatan jiwa fisik mental spiritual yang menunjukkan tinggi rendahnya level bahayanya otak error-nya timbul lagi. Makanya untuk kasus tertentu di luar negeri walaupun ada napi yang sudah bebas tapi tetap dipantau melalui alat untuk mendeteksi posisinya. Karena tidak ada jaminan pasti bagi “orang-orang tertentu yang mungkin bisa berwajah malaikat tapi bisa tiba-tiba bertanduk ketika ada trigger yang mengusik mentalnya”

Jadi buat saya untuk tahu apakah memang Jessica itu pelaku atau gak tidaklah lebih penting daripada mengontrol diri sendiri supaya kita tetap dapat mengendalikan diri. Ketika kita dalam hidup yang sulit mengendalikan emosi dan nafsu, maka ancaman menjadi seorang pelaku kriminal itu lebih besar. Demikian juga terlalu lugu dalam menilai seseorang akan menjadi ancaman bagi kita sebagai korban.

Orang Miskin, Orang Kaya, dan Tao Ming Shi

Bagi kebanyakan orang miskin yang gak mau nasib berubah dan playing victim, kekayaan atau menjadi orang kaya itu cenderung adalah kejahatan.
Bingung kenapa orang kaya itu gak pernah susah, pasti yang dikerjain jahat-jahat…

Padahal orang kaya selalu akan kaya karena mentalnya. Orang kaya itu bukan berarti gak pernah kesusahan duit, tapi ketika kesusahanpun dia bermental kaya jadi ya akhirnya dia kaya lagi, makanya gak pernah terlihat susah. Mental kaya tuh apa? Susah-susah gampang jelasinnya tapi itu memang mindset orang orang kaya berpikir high self bukan egosentris. Mikirnya ya kalau lagi susah, ada masalah jalanin aja, terima keadaan dan berusaha lagi dengan rajin dan mental baja, ehhh bisa balik kaya lagi beneran kok… Kalau pas susah malah menyalahkan keadaan dan tidak terima diperlakukan semesta karena egonya yang marah sudah direndahkan dan berontak protes saja ya sampai kapanpun gak akan kaya itu.

Nah bagi orang kaya, kemiskinan itu nyaris sulit didefinisikan. Kadang dia bisa ngerasa makan nasi goreng aja udah miskin jadi dia berusaha untuk bisa lebih rajin supaya lain kali bisa makan fine dining food di resto mahal. Kadang dia merasa makan nasi goreng aja juga kemiskinan yang disyukuri karena masih banyak yang mau makan nasi goreng aja susah. So bukan mengkriminalisasikan kemiskinan tapi jadi motivasi makanya hasilnya gak miskin-miskin, lah manifestasinya selalu hardwork soalnya jadi lama-lama pun berhasil.

Tapi kalau bagi orang kaya macam Tao Ming Shi di Meteor Garden beda lagi sih… Orang ini hanya bikin orang miskin jadi halu berkepanjangan. Bagi Tao Ming Shi : Aku benci orang miskin, mau diajak ngapa-ngapain susah. Diajak senang gak bisa, diajak main gak mau, ya udah gua pacarin aja… #eh…

Survival Skill Masa Depan : Digital Marketing

Kemarin saya ke BCA untuk urusan yang panjang dan memang harus datang. Biasanya kan saya menghindar antre di bank mengingat semua transaksi sudah bisa dengan online saja. Menyisihkan setengah hari untuk urusan perbankan dan melihat kembali hiruk pikuk yang biasa terjadi di BCA.

Ya harus diakui BCA memang seperti Yamaha, selalu terdepan 🤣
Pelayanannya memang keren. Semua staff kerja dengan wajah full senyum dari jejeran depan sampai lantai atas. Nasabah ketika mengantre pun tidak dibiarkan bengong, karena ada satu CS yang spesial keliling-keliling untuk bertanya tentang masalah mereka. Jika ia dapat membantu saat itu juga maka mereka sudah tidak perlu menunggu antrean untuk dipanggil lagi ke teller. Langsung bisa pulang. Ada pula CS yang berupa mesin, sehingga yang bisa diselesaikan mesin langsung diarahkan ke mesin.

Bila sebuah Bank dulu kebanyakan teller daripada tim CS, sekarang hampir sama rata, bahkan teller lebih sedikit pasukannya karena hanya melayani transaksi yang memang bisa belum online atau melayani nasabah yang belum online.

Sambil saya mengurus keperluan di BCA eh ada juga ternyata pasukan sales marketing. Pasukan ini memasarkan produk layanan BCA yang mungkin saja berguna bagi nasabah misalnya asuransi, reksa dana, dan produk-produk keuangan deh…

Lalu ketika sudah beres, malam tiba, baru saya sempat bicara dengan sepupu yang kerja di BCA. Beliau sudah staf senior, jadi saya cukup terbantu dengan urusan di kantornya tadi. Dari dia saya tahu bila nanti semua karyawan bank adalah marketer. Urusan keuangan sudah pakai mesin semua. Manusianya diberdayakan untuk jadi marketer dan jualan produk perbankan. Yang hanya mau jadi teller gimana? Ya gak bisalah… Kalau gak mau switch dan nambah ilmu marketing ya nganggur aja.

Ini yang pasti terjadi di era merebaknya teknologi AI, bukan manusianya gak bisa kerja lagi karena digantikan robot melainkan manusianya harus beralih melihat peluang dan skill yang memerlukan tenaga manusia. Pekerjaan teknis yang bersifat pengulangan tidak akan lagi dilakukan manusia karena manusia bukan robot!

Manusia melakukan pekerjaan yang memang fitrahnya manusia sebagai peran konseptor, kreator, editor, pengawas, relasional / penghubung antar manusia, peneliti, investigator. Yang memilih pekerjaan jadi robot pabrikan saja sejatinya merendahkan potensi sebagai manusia.

Satu hal lagi yang pada akhirnya akan terjadi, seperti yang sepupu saya jelaskan tadi : semua adalah marketer. Semua pekerjaan masa depan memerlukan skill marketing terlebih spesifik karena di era digital, maka semua profesi yang dilakukan seharusnya dibekali dengan keterampilan digital marketing dan menguasai marketing attitude. Jadi apakah nanti semua manusia dituntut jualan? Sejak zaman kuno pun sejatinya manusia sudah dituntut bisa jualan untuk hidup, jadi personaliti atau jiwa (soul) sebagai marketing itu harus disadari ada di setiap manusia. Tinggal cari trigger untuk mengembangkannya.

Pada akhirnya skill digital marketing dan marketing attitude adalah survival skill di masa depan. Jangan khawatir karena marketing soul itu selalu ada di setiap orang. Tanpa itu saya rasa orang tersebut akan mirip dengan robot yang disingkirkan bila sudah tidak bisa di-upgrade.

Femikhirana, CDS
Digital Marketing & Ethic Strategist

Balas Dendam Terbaik

Selesai nonton The Glory kemarin.
Udah gak bisa sehari nonton 2 episode euy…
Maksimum 1.5 episode, beneran nanggung, mata dah protes. Ya tiap nonton udah jam 11 malem.

Masih on going yang Taxi Driver. Untung ini on going 2 episode per minggu.

Dua drama itu drama balas dendam.
Sama-sama ceritanya enak diikuti.
Alur gak lelet. Rapih. Seru. Penasaran. Terus habis nonton lega.

Intinya ngajarin kalau mau balas dendam boleh-boleh aja.. ASAL…..

1. Emang yang dibalas pantas menerima akibat perbuatannya.

2. Itu otak harus pintar untuk cari cara biar rencana lancar. Jadi balas dendam tidak berlaku bagi mereka yang lemotttttt… Jangan coba-coba kalau otak tak mampu hehehe…

3. Harus beneran niat bulat, besar tekad, kuat mental, gak boleh baper, gak boleh gampang menyerah.

4. Kerjainnya jangan sendirian! Bundir itu namanya kalo balas dendam pakai usaha sendiri. Cari tim, kerjasama. Saling support, saling berbagi tugas dan memperhatikan. Gak ada balas dendam bisa berhasil kalau dilakukan sendiri.

5. Ini harus ada, kalau gak ada point 1-3 gak bisa terlaksana juga : PUNYA DUIT ! 😂😂😂
Tapi punya duit itu identik dengan kombinasi no. 2 dan no. 3. Ketika otak dilatih tidak lemot plus tekad kuat, duit ngalir untuk jadi modal membuat pergerakan.

Dan ada satu lagi yang harus disadari ketika menyusun lima syarat tadi. Yaitu sebenarnya dirinya yang adalah korban, sudah berhasil kok dalam membalas dendam, karena selalu berproses membalikkan keadaan dari yang dianggap terlemah menjadi yang terkuat.

Proses menjadi yang terkuat itulah justru yang menurut para filsuf adalah inti balas dendam yang terbaik karena fokus pada memperkuat internal diri dan kebahagiaan diri. Membuktikan bila dirinya masih bisa hidup penuh kualitas membalikkan keadaan adalah pukulan telak bagi mereka yang pernah menyakiti dirinya.

Jadi pelajarannya di dua drama itu adalah jangan melakukan pembalasan yang membabi buta yang malah berefek menyimpan sakit hati melainkan gunakan rasa sakit itu menjadi senjata untuk menuju pendewasaan pribadi dan kecerdasan otak plus finansial. Hidup yang berkualitas itu justru akan lebih membawa rasa sakit dan malu yang tajam kepada mereka yang pernah menyakiti.

Saya ingat salah satu quote di drama Crash Landing on You : Aku sedang balas dendam. Menjadi bahagia adalah balas dendam terbaik. Becoming happy is the best revenge.

Kalau di kitab suci dikatakan balas dendam adalah urusan Tuhan ya itu kan yang bagian Tuhan. Yang bagian manusia adalah balas dendamlah dengan menyembuhkan diri dan sah-sah saja untuk menunjukkan kepada para kriminal bila kita bukan sosok yang menyerah dengan hidup dan bisa membalikkan keadaan sesuai dengan hukum semesta dan hukum negara yang berlaku.

So be smart, strategic wisely, and rich! Itu sudah 90% true and best revenge, 10%nya strategi untuk melemahkan lawan. Maka lawan akan auto menerima hukumannya dari semesta yang memang urusan Tuhan.

My Midjourney

Ini adalah gambar yang saya buat.
Saya buat dengan Robot AI Midjourney.
Dengan perintah deskripsi, 1 menit selesai.

1. Indonesian girl with traditional clothes
2. Logo with flower and moon
3. Web template design with kids theme
4. Young women rocker is singing in the church
5. A boy eats Pempek Palembang (tapi AI nya gak pernah makan pempek jadinya roti hahaha…)
6. Liverpool FC and Tarot card
7. Beautiful chic woman with modern techno lifestyle
8. A girl eats brownies in the dining room
9. Hasil editing no 8 untuk di-customise dalam bentuk konten promosi.

Mau cari model virtual jadi asik. Tapi tentu kemampuan editing grafis dan video perlu untuk finishing sesuai kepentingan konten.

Nanti coba AI untuk buat lagu, supaya pas posting lagu gak kena copyright muluuuu dehhh…

Mau coba kerjakan ilustrasi sendiri dengan robot design? Try midjourney AI, you need discord account.

Yang bingung dengan Discord? Apalagi kalian masih di bawah usia 30 mending belajar pakek Discord deh… WA dng Telegram itu sudah old generation banget!

Semua dari bikin grup belajar sampe robot AI ada di Discord. Anak-anak pakai Discord juga. Pantaulah dengan punya akun Discord juga.

Nanti deh yaaa kita belajar kutak katik Discord dengan Robot AI.

Makna dari Pengkritik

Diberi komen kritikan itu satu keberkahan karena dilatih mental. Dari mental sensitif bisa jadi mental logis, sabar, ikhlas.

Sering dikasih komen pas nyanyi lagu yang beda dikit : kurang cengkok dangdutnya, kurang medhok bahasa Jawanya, belepotan pengucapan pinyinnya. Yang komen dan kritik yaaa jangankan pernah rekam suara buat nyanyi, ngomong aja fals dan gemeteran. Apakah saya yang sudah nyanyi dari batita lalu saya terima komen mereka?
Sejauh ini saya terima aja.

Tulisan dikritik. Yang mengkritik isinya teknis banget. Saya sebagai orang yang sudah pernah menerbitkan buku, menulis ribuan konten, menulis jurnal di media apakah menerima? Tetap saya terima walaupun mereka cuman penulis status dan inbox.

Konten dan konsep gambar dikomen dan dikritik? Ya terima aja walaupun di lain waktu juga saya suka ditanya-tanya tutorial cari gambar. Saya dikritik client itu ratusan kali. Sebagai profesional saya terima pasti.

Apakah saya setambeng dan sekuat itu nerima komen-komen yang kadang juga gak masuk akal dan sistem? Ya gak… Perlu latihan dan pemahaman sehingga saya bisa menerima bila kritik itu untungnya justru di saya.

Selama bertahun-tahun memperhatikan prilaku komen dan kritik yang sekarang orang (yang gak kenal kita) merasa bebas bisa memberi komen dengan alibi kebebasan berpendapat saya bisa menyimpulkan :

1. Kritik itu bentuk perhatian yang disampaikan oleh orang yang juga butuh perhatian. Rata-rata gitu. Jujur kalau saya memberi komen atau kritik ya ada unsur “mau diperhatikan pendapat saya”. Ngapain capek ngetik kalau gak diperhatikan dan dibaca? Ya gak?! Orang yang tidak punya kepentingan untuk diperhatikan ya jelas tidak menyampaikan paragraf-paragraf yang dipikirkan oleh otak dan dirasakan oleh emosi. Jadi sebagai orang yang dikritik, akhirnya saya bisa menerima : ohhh mereka butuh diperhatikan dan otak mereka waktu ngetik juga penuh perhatian ke saya. Ya syukuri aja kannn… Ada yang gak ada ujung pangkal kasih komen tanda otaknya penuh dengan diri saya, saya seketika merasa hebat dan kasihan sama yang komen kok ya mau-maunya mikirin saya hehehe…

Sehubungan dengan kritik komen sekarang saya melakukan hal ini : Saya biasanya hanya komen / kritik ke orang yang saya pahami, hormati, sayangi, kagumi. Ya karena memang saya merelakan otak saya memikirkan orang yang layak saya pikirkan. Yang cuman tau nama, EGP. Sayang otak dan jempol. Kalau bisa malah saya gak perlu tahu kalau dia ada posting atau bikin apa.

Atau saya baru rela memberi komentar atau membahas sebuah kritik bila ada indikator yang mengukur impresi tulisan saya yang secara tidak langsung bisa dikonversi jadi uang atau peluang. Kalau gak ya rugi tenaga, waktu, dan pikiran. Ogah hehe…

2. Kritik adalah salah satu bentuk luapan emosi dan pendapat yang berbeda. Alibi dengan kebebasan berpendapat tapi sebenarnya fokusnya ke kebutuhan diri sendiri . Pemberi komen atau kritik adalah mereka yang ingin memuaskan ego, kurang kerjaan, kurang sarana untuk didengar. Sebagai orang yang kena pelampiasan emosi ya dapat pahala bisa bikin orang lega menyampaikan unek-uneknya.

3. Kritik atau haters’ comment dalam insight digital marketing itu dihitung sebagai impresi view yang bisa dikonversi jadi uang. Makin banyak haters sejatinya makin banyak pundi-pundi yang masuk di Tiktokers, Youtubers dan medsos lain. Jadi antara suka gak suka dengan banyaknya komen negatif. Gak sukanya juga dihibur dengan suka karena dapat uang. Lama-lama yang dikritik kebal aja, gak usah dibaca, yang penting waktu dicek saldo nambah, peduli amat dicerca. Yang kasih komen emang baik banget kasih sumbangan. Kekurangan dijadikan peluang dan uang. Teman-teman ingat ada seleb stand up comedian yang malah transfer uang ke haters-nya, ya itu bukan sumbangan murni sukarela juga dehhh.. Dia sudah menghasilkan banyak uang dari haters, saatnya berbagi hehe..

4. Kritik ilmiah biasanya akan disampaikan oleh mereka yang ahli. Nah kalau sampai dikritik oleh ahli tentu sebuah kehormatan. Yang menyampaikan kritik bisa jadi sopan tapi bisa juga tidak sopan. Namun terlepas dari itu bila ada yang mau berbagi ilmunya tentu satu hal yang patut diterima. Jadikan hal tersebut satu pelajaran gratis yang membuat kita maju.

Bagaimana menurut teman-teman yang sudah pasti pernah di dua sisi dalam kegiatan komen dan dikomen pedas?

Bila kita merasa ingin medsos jadi sebuah kegiatan positif tentu kita menimbang untung rugi dalam mengetik dan mencurahkan pikiran. Itu yang sering jadi keluhan warganet sendiri, merasa medsos adalah sampah tapi gak sadar sampahnya juga dari dirinya sendiri. Yang dikritik justru yang mendapatkan tempat dan berkat.



Femi
Digital Behavior Observer

Soft Skill Manager Part 5 : Serabutan

Soft Skill Manager Part 5 : Kemampuan Kerja Serabutan

Setelah mengenyam masa kerja yang lama sampai sekarang makin kelihatan jelas mereka yang tidak keberatan untuk kerja serabutan itu malah yang cepat menggapai jenjang superivisi dan manajerial. Mereka yang ngotot kerja di bawah kertas yang berisi Job descriptions malah yang tidak bisa direkomendasi untuk kenaikan otoritas.

Kenyataannya memang mereka yang mau kerja serabutan (walaupun tidak tercantum dalam job descriptions) hanya beberapa saja dan hanya sanggup dilakukan oleh orang tertentu. Orang yang bagaimana tuh? Mereka pastinya punya :

  1. Keikhlasan dan kesenangan untuk mengerjakan yang random gitu.
  2. Keinginan untuk belajar banyak hal.
  3. Punya mental wirausaha karena wirausaha selalu dimulai dari kerja serabutan, semua dikerjain sendiri.

Pada akhirnya tim kerjaan serabutan ini banyak tahu ilmu, banyak tahu kasus-kasus untuk melatih pengambilan keputusan. 

Berbanding terbalik dengan mereka yang nyaman dengan :

  1. Bekerja dengan ritme yang sudah fit
  2. Kerjaannya harus jelas, melenceng dikit lebih memilih menghindar karena merasa bukan wewenangnya. 
  3. Memilih untuk tidak berkontribusi karena merasa takut dimanfaatkan dengan tidak semestinya.

Tim yang gak random ini sudah jelas bukan calon yang akan dipertimbangkan untuk di-upskill. Biarkan mereka selalu di jenjang operasional level paling bawah. Apalagi kalau pakai acara demo, kategori yang model begini jangankan terus bekerja di perusahaan itu, dia bahkan akan jadi blacklist di pabrik atau perusahaan lain. 

Kita lihat kenyataannya mereka yang di top manajerial kerjanya beneran serabutan. Dalam sehari kadang harus ke kantor A buat unggah ungguh aja, ke bank cuman buat tanda tangan, terus langsung jalan ke hotel B untuk meeting tapi ternyata di tengah perjalanan di telepon sekretarisnya kalau jadwal meeting di-reschedule. Yahhh udah OTW ke hotel B, ya sudahlah langsung lunch sambil periksa laptop, beresin dokumen, cross check quality control dengan timnya. Balik kantor dipanggil Direktur atau Owner, terus meeting lagi sampai akhirnya jam pulang. Enak kelihatannya jalan aja terus tapi kerjanya serabutan kok itu hehehe… Otak harus selalu stand by dan ingat daily routine dia untuk olahraga, makan teratur, family time dan me time untuk produktivitas dan eksistensi karya pribadi dan tidur.

Jadi gak masalah dong kerja serabutan? Bukannya jadi kelihatan gak profesional? Nah yang dilihat orang selalu jenis kerjanya yang serabutan, tapi orang lupa yang dipunyai atau dituntut sebagai top Manager adalah HAK MEMILIKI DAN MENGGUNAKAN WEWENANG ATAU OTORITAS. Hak tersebut hanya diberikan kepada mereka yang sudah banyak paham dengan situasi dan dapat menganalisisnya untuk perusahaan. Nah ilmu untuk tahu banyak itu hanya bisa dimiliki mereka yang mau dan tidak cepat stres dengan permasalahan kerjaan yang serabutan itu.

Otoritas bisa dimiliki karena sikap yang tidak menghindar dari kesulitan (Cek tulisan paragraf 3 poin 2 dan 3 adalah contoh yang sebaliknya dan tidak pernah bisa punya wewenang bahkan untuk kehidupan dirinya). Akhirnya timbul tanggung jawab tinggi dan kemampuan untuk menanggung risiko. Sikap menanggung risiko ini yang jadi cikal bakal kepercayaan untuk memimpin. Dan hanya pemimpin lah yang diberi wewenang atau otoritas. 

Jangan dikira kerjaan serabutan berarti tidak disiplin. Justru kerjaan random begini hanya bisa dilakukan oleh mereka yang mau punya dan belajar disiplin tinggi. Kalau gak disiplin bisa keteteran dan stress. Disiplin membuat mereka bisa bekerja secepatnya, tidak menunda-nunda, dan seperlunya sesuai jatah waktu yang sudah dibagi agar otak tidak kewalahan. Namun dengan sejak awalnya sudah berlatih menghadapi kasus serabutan mental disiplin, instropeksi, inovasi, refleksi akan meningkat. Tuh semua mental itu adalah keahlian yang harus sudah dimiliki para boss.

Jadi kalau kamu merasa kerja kamu random gitu, gak usah bingungggg… Semua boss boss besar di dunia memulai dengan itu dan tetap melakukannya hingga sekarang. Anda sudah di jalur yang tepat. Ingat yang jadi poin utama bukan jenis kerja serabutannya melainkan proses mendapat banyak ilmu dan kekuatan mentalnya untuk menuju tangga ke atas.

Hari Gini Gak Bisa Dapet Duit???

Hari gini sebenarnya gak ada alasan gak ada kesempatan gak bisa dapet duit.

Itu nenek-nenek mandi lumpur di Live Tiktok aja dapet penghasilan lebih dari UMR tiap bulannya 🤣
Tidur aja bisa dapet gaji lebih dari UMR juga di Live Tiktok

Itu no skill loh ya…
Cuman perlu strategi dan konsisten, jadi tuh…

Ada yang suka bilang : saya bingung saya sukanya apa, kayaknya yang saya suka gak bisa dapet duit deh…. Weleh itu karena gak tahu medianya aja. Banyak penggangguran yang akhirnya bisa kerja kreatif, bukan demi ngetop, tapi demi kebutuhan sehari-hari. Ngetop itu imbas aja.

Dulu saya juga pas SMA pernah bingung saya tuh mau ambil bidang apaaaa yaaaa buat masa depan. Sampe panas mikir akhirnya selentingan otak saya disentil dengan semua yang sudah saya baca dan imani.

Tiba-tiba saya merasa tercerahkan pas lagi jalan kaki itu, “Duh Tuhan saya kok ya bego amat, banyak pilihan bukannya disyukuri kok malah dipusingin jadi masalah yakkkk!”
Sejak saat itu apapun saya jajal, atur waktu aja, makin sibuk makin bagus karena lebih ketahuan garis hidup kita diarahkan ke mana.
Lah wong banyak di depan mata yang bisa dicoba kenapa juga dipusingin bahkan ditakuti. Cobain, salah ya ngulang. Gak cocok ya tinggal cobain lagi yang lain. Kalau gak dicobain semua ya mana kita tahu juga sih…! Kalau dilihatin terus ya dah keburu basi kesempatannya.

Multi talent itu gak akan jadi juga kalau talent-nya jadi talenan tok… Saya yakin setiap manusia itu multi skills, kita dikasih opsi, tapi banyak yang malah merasa itu masalah bukan berkat yang disyukuri.

Ya minimal seperti yang saya kasih contoh di atas itu. Tidur saja kalau kreatif ternyata menghasilkan. Gak jadi ngetop tapi lumayan buat ada uang untuk cari skill lain lagi yang bisa dikerjain.

Soft Skill Manager (Part 4)

Mempersiapkan Calon Pemimpin

Walaupun cuman sebentar tapi saya pernah kerja membawahi divisi HRD. Bukan perusahaan skala besar tapi juga gak kecil. Jadi lumayanlah pernah ngurusin data gajian, data karyawan, sampai curhat karyawan. Ini kerjaan sambilan dari Boss, karena tugas utama saya tetap Marketing Manager untuk satu produk ponsel Cina saat itu.

Curhat yang paling saya ingat ketika salah satu supervisor galau bercerita tentang salah satu karyawan yang akan ditunjuk untuk menggantikan dirinya sebagai supervisor toko.  Sementara dia akan dipromosikan menjadi Retail Manager.

“Terus masalah kamu di mana?” tanya saya

“Ya, saya merasa dia itu belum siap, Ci… Masih banyak yang kalau saya gak di sana, semua berantakan padahal saya sudah minta dia begini begitu… Apa sudahlah ya, dia gak usah jadi supervisor toko, tetap saya aja…”

“Lah ya gak bisa gitulah… Kalau dia naik jabatan kan kamu juga naik. Kalau dia gak naik jabatan kamu juga gak naik…” saya jadi bingung, dipromosiin kok malah galau hehehe…

“Daripada nanti kacau semua…” keluhnya.

“Tapi memang tugas kamu supaya kamu naik jabatan itu melatih dia punya kemampuan kayak kamu. Kan dia juga di bawah pengawasan kamu nanti. Nanti kalau dia sudah terbiasa, kamu juga sudah bisa lepasin pelan-pelan dan kamu pikirin program kamu.  Kamu siapin dia jadi pengganti yang setara dengan kamu, harus! Kalau gak karier kamu juga mandek,” saran saya.

Dia mengangguk-angguk akhirnya.

Nah keterampilan manager yang perlu dikuasai agar menjadi pemimpin yang baik adalah : mempersiapkan dan melatih bawahannya agar bisa dipromosi. Bahkan ketika kita adalah pemimpin yang sudah mentok paling atas tetap keterampilan melatih bawahan kita agar lebih berprestasi akan membantu kinerja kita sebagai pemimpin.  Ketika bisnis harus berekspansi, tenaga pemimpin di bisnis baru sudah siap dipakai.

Kalau bawahan masih harus mengandalkan manager di setiap saat dan kesempatan yang akan terjadi adalah :

  1. Kelelahan yang terjadi di top management.
  2. Prestasi semua divisi jadi mandek.  Karyawan tidak mendapatkan promosi, pemimpinnya pun stagnan di posisi yang sama terus.
  3. Kinerja lama-lama pasti turun, profit akan menyusul turun.

Nah untuk Anda yang bekerja di level operasional maklumi saja bila pemimpin Anda bisa bawel seketika, bisa teliti seketika, bisa ribet seketika, bisa nasihatin ini itu seketika, minta perhatikan ini itu seketika. Anda pasti pernah merasa :

“Ihhh kalo si boss udah gak keluar-keluar pasti deh kita diutak-atik terus…” Lah ya memang pas ada waktu itulah saat manager dapat memeriksa apa potensi yang bisa dikembangkan bawahannya dan mana yang masih harus dikoreksi agar lebih berpotensi. Itu memang ceritanya lagi menurunkan ilmu. Setiap karyawan kan dinilai / dievaluasi berdasarkan indikator tertentu, jadi kalau semakin membaik kinerja indikator kita, berarti akan makin terbuka kesempatan untuk promosi.