Es Kopi Panas

Saya sebenarnya bingung kenapa orang banyak pengen tahu itu Jessica beneran pelaku pembunuhan atau gak… Sampe nanya-nanya ke dukun (tapi gratis maunya) segala…

Kepentingan untuk diri sendiri apa?

Terus kalau benar kenapa? Kalau salah kenapa?

Apa urusannya dengan kehidupan sehari-hari?

Kalau pakai alasan membela dan melawan ketidakadilan hukum Indonesia kayaknya kok kejauhan mikirnya 😅

Kalau pakai alasan biar waspada dengan kriminalitas, ya kasus lain pun semua sama, ya belajar aja yang jelas-jelas sudah kelihatan psikopatnya…

Saya gak ngikutin kasus ini dari dulu. Gak nonton proses sidang, gak baca-baca, gak googling-googling investigasi sendiri, sampai ada dokumenter Netflix pun gak nonton dan geli sendiri baca komen yang nonton. Mau dia pelaku atau gak ya biarin aja…

Tapiiii… dari cuman dapat info-info dan melihat sekilas konten yang tanpa sengaja lewat di timeline betapa sosok ini dalam kondisi ikhlas, bahagia, menjalankan hukumannya dengan mengisi waktu dengan kegiatan positif, banyak fans, dll dll ada beberapa point yang menarik untuk saya telaah dan terima sendiri (ya kalau orang lain tidak setuju juga gak masalah) :

1. Memangnya kalau pembunuh itu semua harus wajah bengis atau kalau sudah di penjara pas ketemu kamera harus bersikap nyesel banget? Banyak narapidana emang ikhlas dan bisa hidup bahagia ketika tinggal di penjara kok…

2. Setiap orang itu punya sisi heroic dan villain dalam kehidupan sehari-hari. Bukan berarti orang yang sehari-hari yang bertindak baik tapi di otaknya selalu baik. Jangan naiflah yaaaa… Tiap orang itu punya sisi menyebalkan to the max yang kebetulan ada yang bisa ditolerir. Demikian juga kalau dulu dia jahat bukan berarti juga dia 100% jahat ke semua orang, gak juga di otaknya selalu jahat, kenyataannya banyak napi yang disayang keluarganya dan dia pun sayang bahkan ada yang masih bisa menafkahi keluarganya selama di penjara.

Soooooooo… menilai orang itu pembunuh atau bukan hanya berdasarkan apa yang terlihat baik di video timeline itu ibarat anak kecil yang otaknya masih mentah dan gampang diperalat emosinya hanya dengan menyuapnya dengan sesuatu yang “kelihatan baik dan enak”. Gampang banget untuk dikasih permen, dikasih uang, diajarin bahasa Inggris dan langsung berkesimpulan : “Wahhh orang ini mulia sekali hatinya…”

3. Semua orang itu punya kesempatan untuk menyesali perbuatannya tapi tetap menanggung konsekuensinya. Napi yang dihukum lama, ketika masuk dan sekarang sudah tentu beda perilakunya. Tapi ada yang tidak pernah kita bisa tahu : apakah penyesalan yang ada dan pengampunan yang diberikan akan menjadi jaminan orang itu pasti kembali ke jalan yang benar? Tuhan aja gak tahu kalau gini… Apalagi negara kan?! Jadi apa dong dasar yang dipegang oleh hukum memberlakukan periode tinggal di penjara dalam waktu lama? Kembali lagi ke track record kejadian dan track record kesehatan jiwa fisik mental spiritual yang menunjukkan tinggi rendahnya level bahayanya otak error-nya timbul lagi. Makanya untuk kasus tertentu di luar negeri walaupun ada napi yang sudah bebas tapi tetap dipantau melalui alat untuk mendeteksi posisinya. Karena tidak ada jaminan pasti bagi “orang-orang tertentu yang mungkin bisa berwajah malaikat tapi bisa tiba-tiba bertanduk ketika ada trigger yang mengusik mentalnya”

Jadi buat saya untuk tahu apakah memang Jessica itu pelaku atau gak tidaklah lebih penting daripada mengontrol diri sendiri supaya kita tetap dapat mengendalikan diri. Ketika kita dalam hidup yang sulit mengendalikan emosi dan nafsu, maka ancaman menjadi seorang pelaku kriminal itu lebih besar. Demikian juga terlalu lugu dalam menilai seseorang akan menjadi ancaman bagi kita sebagai korban.

Makna dari Pengkritik

Diberi komen kritikan itu satu keberkahan karena dilatih mental. Dari mental sensitif bisa jadi mental logis, sabar, ikhlas.

Sering dikasih komen pas nyanyi lagu yang beda dikit : kurang cengkok dangdutnya, kurang medhok bahasa Jawanya, belepotan pengucapan pinyinnya. Yang komen dan kritik yaaa jangankan pernah rekam suara buat nyanyi, ngomong aja fals dan gemeteran. Apakah saya yang sudah nyanyi dari batita lalu saya terima komen mereka?
Sejauh ini saya terima aja.

Tulisan dikritik. Yang mengkritik isinya teknis banget. Saya sebagai orang yang sudah pernah menerbitkan buku, menulis ribuan konten, menulis jurnal di media apakah menerima? Tetap saya terima walaupun mereka cuman penulis status dan inbox.

Konten dan konsep gambar dikomen dan dikritik? Ya terima aja walaupun di lain waktu juga saya suka ditanya-tanya tutorial cari gambar. Saya dikritik client itu ratusan kali. Sebagai profesional saya terima pasti.

Apakah saya setambeng dan sekuat itu nerima komen-komen yang kadang juga gak masuk akal dan sistem? Ya gak… Perlu latihan dan pemahaman sehingga saya bisa menerima bila kritik itu untungnya justru di saya.

Selama bertahun-tahun memperhatikan prilaku komen dan kritik yang sekarang orang (yang gak kenal kita) merasa bebas bisa memberi komen dengan alibi kebebasan berpendapat saya bisa menyimpulkan :

1. Kritik itu bentuk perhatian yang disampaikan oleh orang yang juga butuh perhatian. Rata-rata gitu. Jujur kalau saya memberi komen atau kritik ya ada unsur “mau diperhatikan pendapat saya”. Ngapain capek ngetik kalau gak diperhatikan dan dibaca? Ya gak?! Orang yang tidak punya kepentingan untuk diperhatikan ya jelas tidak menyampaikan paragraf-paragraf yang dipikirkan oleh otak dan dirasakan oleh emosi. Jadi sebagai orang yang dikritik, akhirnya saya bisa menerima : ohhh mereka butuh diperhatikan dan otak mereka waktu ngetik juga penuh perhatian ke saya. Ya syukuri aja kannn… Ada yang gak ada ujung pangkal kasih komen tanda otaknya penuh dengan diri saya, saya seketika merasa hebat dan kasihan sama yang komen kok ya mau-maunya mikirin saya hehehe…

Sehubungan dengan kritik komen sekarang saya melakukan hal ini : Saya biasanya hanya komen / kritik ke orang yang saya pahami, hormati, sayangi, kagumi. Ya karena memang saya merelakan otak saya memikirkan orang yang layak saya pikirkan. Yang cuman tau nama, EGP. Sayang otak dan jempol. Kalau bisa malah saya gak perlu tahu kalau dia ada posting atau bikin apa.

Atau saya baru rela memberi komentar atau membahas sebuah kritik bila ada indikator yang mengukur impresi tulisan saya yang secara tidak langsung bisa dikonversi jadi uang atau peluang. Kalau gak ya rugi tenaga, waktu, dan pikiran. Ogah hehe…

2. Kritik adalah salah satu bentuk luapan emosi dan pendapat yang berbeda. Alibi dengan kebebasan berpendapat tapi sebenarnya fokusnya ke kebutuhan diri sendiri . Pemberi komen atau kritik adalah mereka yang ingin memuaskan ego, kurang kerjaan, kurang sarana untuk didengar. Sebagai orang yang kena pelampiasan emosi ya dapat pahala bisa bikin orang lega menyampaikan unek-uneknya.

3. Kritik atau haters’ comment dalam insight digital marketing itu dihitung sebagai impresi view yang bisa dikonversi jadi uang. Makin banyak haters sejatinya makin banyak pundi-pundi yang masuk di Tiktokers, Youtubers dan medsos lain. Jadi antara suka gak suka dengan banyaknya komen negatif. Gak sukanya juga dihibur dengan suka karena dapat uang. Lama-lama yang dikritik kebal aja, gak usah dibaca, yang penting waktu dicek saldo nambah, peduli amat dicerca. Yang kasih komen emang baik banget kasih sumbangan. Kekurangan dijadikan peluang dan uang. Teman-teman ingat ada seleb stand up comedian yang malah transfer uang ke haters-nya, ya itu bukan sumbangan murni sukarela juga dehhh.. Dia sudah menghasilkan banyak uang dari haters, saatnya berbagi hehe..

4. Kritik ilmiah biasanya akan disampaikan oleh mereka yang ahli. Nah kalau sampai dikritik oleh ahli tentu sebuah kehormatan. Yang menyampaikan kritik bisa jadi sopan tapi bisa juga tidak sopan. Namun terlepas dari itu bila ada yang mau berbagi ilmunya tentu satu hal yang patut diterima. Jadikan hal tersebut satu pelajaran gratis yang membuat kita maju.

Bagaimana menurut teman-teman yang sudah pasti pernah di dua sisi dalam kegiatan komen dan dikomen pedas?

Bila kita merasa ingin medsos jadi sebuah kegiatan positif tentu kita menimbang untung rugi dalam mengetik dan mencurahkan pikiran. Itu yang sering jadi keluhan warganet sendiri, merasa medsos adalah sampah tapi gak sadar sampahnya juga dari dirinya sendiri. Yang dikritik justru yang mendapatkan tempat dan berkat.



Femi
Digital Behavior Observer

Hari Gini Gak Bisa Dapet Duit???

Hari gini sebenarnya gak ada alasan gak ada kesempatan gak bisa dapet duit.

Itu nenek-nenek mandi lumpur di Live Tiktok aja dapet penghasilan lebih dari UMR tiap bulannya 🤣
Tidur aja bisa dapet gaji lebih dari UMR juga di Live Tiktok

Itu no skill loh ya…
Cuman perlu strategi dan konsisten, jadi tuh…

Ada yang suka bilang : saya bingung saya sukanya apa, kayaknya yang saya suka gak bisa dapet duit deh…. Weleh itu karena gak tahu medianya aja. Banyak penggangguran yang akhirnya bisa kerja kreatif, bukan demi ngetop, tapi demi kebutuhan sehari-hari. Ngetop itu imbas aja.

Dulu saya juga pas SMA pernah bingung saya tuh mau ambil bidang apaaaa yaaaa buat masa depan. Sampe panas mikir akhirnya selentingan otak saya disentil dengan semua yang sudah saya baca dan imani.

Tiba-tiba saya merasa tercerahkan pas lagi jalan kaki itu, “Duh Tuhan saya kok ya bego amat, banyak pilihan bukannya disyukuri kok malah dipusingin jadi masalah yakkkk!”
Sejak saat itu apapun saya jajal, atur waktu aja, makin sibuk makin bagus karena lebih ketahuan garis hidup kita diarahkan ke mana.
Lah wong banyak di depan mata yang bisa dicoba kenapa juga dipusingin bahkan ditakuti. Cobain, salah ya ngulang. Gak cocok ya tinggal cobain lagi yang lain. Kalau gak dicobain semua ya mana kita tahu juga sih…! Kalau dilihatin terus ya dah keburu basi kesempatannya.

Multi talent itu gak akan jadi juga kalau talent-nya jadi talenan tok… Saya yakin setiap manusia itu multi skills, kita dikasih opsi, tapi banyak yang malah merasa itu masalah bukan berkat yang disyukuri.

Ya minimal seperti yang saya kasih contoh di atas itu. Tidur saja kalau kreatif ternyata menghasilkan. Gak jadi ngetop tapi lumayan buat ada uang untuk cari skill lain lagi yang bisa dikerjain.

Jadi Bermental Kaya

Netizen mental miskin emang error pola pikirnya. Merasa wajar sebuah kehilangan dan tidak pantas diratapi hanya karena dia itu kaya dan banyak privilege-nya. Kalau buat aku ada anak yang sultan dan bisa meratap 800jt itu sampai 3 hari berarti dia menghargai nilai kehilangan kecil sekalipun. Aku walaupun ada uang 10jt, kehilangan Rp 500rb karena gagal usaha juga bikin merenung seharian kok. Trading forex kadang loss $10 (150rb) aja kepikiran seharian loh… Padahal ya cuman $10 yang notabene pengeluaran sehari bisa lebih dari itu.

Yang dia dan kita ratapi bukan hilang uang, tapi penyesalan kok bisa kita sebodoh (ceroboh, konyol, apapunlah) itu. Padahal golongan the haves itu kalau keluar uang bisa lebih dari 800jt sebulan, ngapain dia tangisin duitnya???? Yang bikin dia duduk di kamar 3 hari ya mikirin dia harus gimana sekarang, PRIDE-nya itu harganya jauh dari 800jt, itu yang ditangisi karena ada yang salah dalam dirinya. Jadi dia harus mikirin bagaimana harus bersikap, lanjutkan atau nyerah?

Justru yg aneh adalah orang kaya yang gak pedulian yang gak koreksi diri kalau uang melayang. Bahaya gini..

Yaaa entah mungkin media yang cara blowing up-nya salah, mungkin juga Putrinya kurang bisa menjelaskan apa arti kehilangan sesungguhnya, terus sesama seleb atau influencer juga saling menjatuhkan, atau anak horang kaya itu ortu yang tidak disukai khalayak ramai, jadi inti cerita hilang begitu saja.

Tapi berdasarkan apa yang kita alami sehari-hari ajalahhh menilai motivasi di sini… Kadang kita rugi Rp 10.000,- atau Rp 50.000,- aja bisa nyap-nyap dan merasa kok bego banget ya gua gak cek dulu, gak tanya-tanya dulu, jadi masalah besar juga padahal yaaa cuman ceban goban! Nah masalahnya bukan di kehilangan ceban goban tapi kehilangan semangat dan kehilangan motivasi, trauma, sedih kenapa aku bisa gagal, bisa salah, bisa bego. Lalu keputusan di tangan kita, mau belajar dari kesalahan dan cari cara nutupin rugi ceban goban, atau pasrah saja sudah rugi dan berhenti.

Inilah masalah dan gaya berpendapat ala mental kaya dan miskin, mental nyerah dan mental berjuang. Ada anak yang dapat nilai 7 dan merasa sedih karena biasa dapat nilai 10, terus ada yang ngenyek : Halahhhhh lebai amat, biasa dapat 10 juga, sekarang dapat 7. Tuhhh si A dapat 5 aja gak sedihhh… Ealahhh… Anak yang punya mental kaya dan berjuang ya pasti wajar merasa kehilangan dirinya saat tidak berhasil. Anak yang punya mental miskin dan nyerah ya pasrah aja dapat segitu, mampunya segitu, syukuri aja, padahal kalau mau belajar bisa dapat 7, tapi pakai alibi Ketuhanan yang Masa Esa : udah takdir gue, lihat aja gimana nanti kaki melangkah, semua gue serahkan ke Tuhan terus dia lanjut rebahan 😆

Kalau ada yang merasa emang mau mengubah nasib miskin dengan mental kaya pasti bisa kok.. Jadi teori ini buat siapa saja anak sultan atau anak penggangguran. Mau bapaknya kaya bisa kasih modal banyak maupun yang bapaknya tidak kaya itu sama-sama berjuang dan sama-sama punya privilege. Jangan dikira jadi orang biasa tidak punya privilege, jangan underestimate ke diri sendiri. Bedanya orang kaya memang semua sudah tersedia tapi kalau dia tidak bisa menjaga dan memanfaatkannya atau mengembangkannya ya sama aja, duit itu bisa hilang juga. Jadi golongan the haves itu juga pasti berjuang kalau tidak gaya hidup yang akan menggerogoti sampai habis.

Cuman khusus anak yang sudah terjebak dalam lingkaran setan kemiskinan harus berani mendobrak keluar dari lingkaran itu bukan malah merasa terjebak dan ya sudah jalanin aja..

Femikhirana -digital marketing specialist-

Saya = Ular dan Merpati

CaPer 19 Januari 2022

Saya = Ular dan Merpati

“Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.” (Matius 10:16)

Terjemahan bebas : Tuhan itu membuat kita jadi orang baik + cerdas, bukan jadi orang polos, lugu, apalagi dibegoin orang atau hidup penuh kekonyolan.

Kalau dikerjain, ditekan, kita harus cari strategi yang tidak membuat kita jadi orang jahat. Namun, tidak pula harus terjebak dalam tujuan orang yang ngerjain : bikin kita ngamuk atau kita jadi lebay menunjukkan kita seorang victim adalah kemenangan orang yang ngerjain. Weh jangan sampai dong mereka tertawa berhasil membuat kita berasa tak berdaya.

Prinsip utama dalam kasih tetap begini :
Lu baik, gua baik.
Lu jahat, gua tetap baiklah!
Kalau gua ikutan jahat, apa beda gua dengan lu?

That’s why, tulus dan cerdik itu harus. Melawan orang licik hanya bisa dengan kecerdikan, dengan strategi! BUKAN malah menunjukkan keluguan, kepolosan, merengek, ikutan ngamuk bikin drama, atau balas dendam. Hal itu tak menunjukkan kebaikan kita malah kelemahan kita yang terpancing.

Banyak strategi melepaskan diri dari kerjaan srigala daripada habis energi marah, pasrah, atau malah terpengaruh jadi bego karena gas lighting. Pelajari strategi yang membungkam mulut agar tak lagi berani meremehkan kita. Strategi yang tak membuat kita hancur, tak membuat kita juga jadi orang jahat seperti lawan.

Pelajari banyak jenis strategi, misalnya : melawan strategi perang psikologis dari lawan, cari titik lemah lawan, strategi merangkul lawan. Bisa gunakan strategi tetesan air sedikit-sedikit tapi sanggup mengikis, meluluhkan, bahkan memecahkan yang batu keras setelah sekian lama. Melawan batu dengan batu malah rusak dua-duanya, sama-sama keras kita juga remuk dan ikutan brutal, tapi menggunakan strategi lawan dengan menjadi kinclong, tetap jadi baik, selalu tunjukkan kita tetap positif, tidak membenci sampai akar, akan membuat lawan menyerah sendiri.

Ingat saja tujuan musuh selalu ingin membuat kita jadi marah, semakin marah, mereka semakin senang. Selalu ingin membuat kita jadi nangis, jadi kesal, jadi tak berdaya. Cara melawannya bukan dengan balas dendam atau malah jadi kepahitan ke diri sendiri. Cara melawannya pakai strategi ular dan ketulusan merpati karena image kita itu memang bukan jadi ikutan jahat tapi tak membiarkan orang untuk mengubah diri kita untuk tetap glowing and full of kindness and blessing.

Cita-Cita Waktu Kecil

#weeklywritingchallengeLike
#femikhiranawritingchallengelike

(ini tulisan untuk challenge di komunitas 😃)

Cita-cita dari remaja ada banyak, tetapi satu per satu dihilangkan dan beberapa ada yang ditangguhkan karena siapa tahu tercapai nanti. Ada juga yang tercapai dengan modifikasi setelah sekian lama.

Waktu kecil banget, cita-cita standar jadi dokter. Tapi saya sadar kalau tampang saya saja yang cocok jadi dokter. Minat dan kemampuan cuman cocok jadi pasien. Waktu penjurusan di SMA pun saya tidak bisa masuk A2 karena nilai eksakta tidak memadai. Nasib sekolah di sekolah kaporit eh favorit ya gitu. Walaupun sekarang saya juga yakin ilmu eksakta saya lebih jago daripada dokter abal-abal yang asal lulus 😆 tapi ya memang nasib tidak untuk jadi dokter.

Waktu kecil juga pengin jadi artis! Nyanyi, model, main film, atau apalahhh! Saya ingat ada teman sekelas saya yang sering ranking 1 yang akhirnya pengin ikutan jadi artesss gara-gara saya ngomong gitu ke dia 😂 Dia ranking 1 konsisten, saya ranking 1 kalau pas teman-teman lagi lengah belajar aja 😆 Lucu gitu sama-sama pengin jadi penyanyi.

Tapi saya tidak main-main waktu saya berniat untuk jadi seniman. Saya ikut semua kegiatan seni suara di sekolah, gereja. Saya memang tidak punya masalah tampil sedari kecil, justru sudah tua gini baru mikir gak terlalu nyaman. Saya juga ikutan kegiatan teater, drama, sampai prestasi tertinggi saya bisa lolos jadi dubber untuk sandiwara radio. Saya sudah SMA kelas 1 waktu itu. Zaman dulu sandiwara radio kan popularitasnya tidak kalah dengan sandiwara televisi. Malah enak kita hanya rekam suara, tidak perlu akting panggung. Dapat job dubbing pertama jadi figuranlah jelas, rekaman tidak sampai 10 menit selesai karena hanya baca beberapa lines saja, dan itu jadi anak kecil bukan jadi ABG 😅 Tapi walaupun figuran tapi duitnyaaa weh banyak buat anak sekolahan. Sayangnya semua tidak bisa diteruskan karena ortu melarang saya jadi pulang malam. Dongkol sih iya, tapi saya masih bisa nyanyi di sekolah dan gereja. Masih bisa tampil di televisi stasiun lokal Palembang bareng teman-teman vokal grup di sekolah juga sudah lumayanlahhh…
Saya juga sebenarnya pengin kuliah di Institut Kesenian Jakarta, tapi ya sutralah, tangguhkan saja. Saya tetap cinta kegiatan seni, film, musik dan saya belajar otodidak saja dan sangat membantu pekerjaan saya sebenarnya. Jadi sejak kuliah saya putuskan tidak terjun di dunia entertainment walaupun kesempatan untuk itu sangat banyak. Salah satunya kesempatan jadi American Idol saya hempaskan jauh-jauh… Ya iyalahhh kan kejauhannnn…

Lalu cita-cita remaja yang mulai serius dan sesuai minat juga adalah : bekerja di media massa, jadi jurnalis. Karena saya memang suka nulis (semua yang orang gak suka, saya suka gitu aja ya kesimpulannya sebagai anti mainstream person) dan sudah terlibat dengan urusan penerbitan sejak SMP. Ngurus penerbitan majalah sekolah dan gereja dari A sampai Z. Satu majalah semua saya kerjakan sendiri dari nulis artikel, kumpulin naskah, ngetik, layout, instruksi ilustrator, sampai jadi mock up majalah sebelum terbit dan saya juga yang pantau produksi baik dari cara fotokopi sampai percetakan. Beberapa kali juga pernah study tour ke penerbitan surat kabar sampai magang di penerbitan waktu liburan kuliah. Suka. Tapi… saya jadi melihat ritme kerja para penulis, wartawan, dan tim produksi : gak ada jam kerja tetap, harus siap sedia waktu ada peristiwa dan sekejap nyampe di lokasi peristiwa mau jam berapapun, kalau deadline pasti begadang. Baru saya mikir : Is this what I want??? Can I do it? Me time nya nyaris bareng kerjaan. Duitnya? Dikitttt.. Sampai sekarang dunia penulisan itu dibayar paling sedikit daripada profesi manapun. Untuk mencapai jenjang yang enak paling sulit karena kita harus ngetop banget, kreatif jungkir balik. Pada akhirnya saya berpuas diri jadi penulis lepas saja daripada harus terlibat di dunia media. Sejak mulai ada internet saya merasa passion nulis-nulis sudah terealisasi karena sudah bikin blog, buku, sampai copy writing.

Setelah tamat SMA, pengin jadi psikolog. Merasa cocoklah karena memang minat. Psikolog juga profesi yang saat itu diramalkan jadi profesi yang banyak digunakan jasanya di era 2000an. Tapi tiba-tiba Papa menarik izin kuliah di Jakarta karena alasan tertentu. Awalnya sudah diizinkan. Kesel pasti. Di Palembang tidak ada jurusan psikologi. Tapi yang penting saya kuliah deh… Keinginan selanjutnya yang mendekati minat saat itu akhirnya jadi Manager, belajar bisnis, jadi boss lah. Ya sudah kuliah Management-lah 😃

Waktu kuliah saya disadarkan kalau saya juga punya hobi main sekolah-sekolahan sejak kecil, saya jadi gurunya, lalu yang jadi muridnya mahkluk tak kasat mata 😂 Memang gak ada yang jadi murid di rumah, jadi saya buat murid imajiner. Sejak kuliah itu juga sampai sekarang saya bersyukur belajar bisnis edukasi dimulai dari jadi guru privat waktu kuliah. Bayarannya? Lebih besar daripada kerja di media dan saya masih bisa nulis.

Sejak kuliah akhirnya saya memang selektif mencari kerjaan yang sepadan hasilnya. Boleh kerja bakti tapi hasilnya harus menyenangkan agar jadi motivasi. Saya juga mulai melihat peluang yang lebih banyak menghasilkan uang dan mencoba mendalami skill yang akan terus dipakai orang. Itu yang memutuskan saya ambil diploma program komputer ketika kuliah semester akhir sebagai keterampilan yang berbeda dibandingkan lulusan management lainnya.

Singkat cerita sekarang ini apakah cita-cita saya waktu remaja tercapai? Yaaa bisa dikatakan beberapa akhirnya terealisasi. Thanks to technology yang memudahkan untuk mewujudkan cita-cita. Saya menulis, mengajar, bikin usaha sendiri di bidang yang saya kuasai dari kuliah, dan saya juga senang bisa mengartiskan diri di Smule dan TikTok 😆

Saya selalu percaya selama masih dikasih nafas kita masih sah untuk mewujudkan cita-cita yang sempat mandek. Ada yang lulus sarjana di usia 70 tahun, dan akhirnya bisa berkreasi sesuai passion-nya di usia yang sudah menanjak. Sah! Mau jadi dokter di usia tua pun bisa kalau memang masih pengin loh yaaa… Prestasi dan pencapaian diri tidak mengenal usia dan hak asasi semua makhluk hidup sampai kapanpun.

Femikhirana (Digital Marketing Strategist)

Alasan in-TELEK-tual

Istilah Malas bagi orang in-TELEK-
bisa bervariasi tergantung kondisi :

  • not my kind of things to do
  • not my passion
  • not my things
  • not in the mood
  • not sure enough
  • need to take a break
  • need to consider
  • need to check my schedule
    (kelihatan sibuk, padahal rebahan)
  • need to motivate myself

Itu saya kalau sedang menghadapi untuk mencoba suasana baru, lingkungan baru, tantangan baru tapi enggan saya urusin lalu pakai alibi yang not not dan need need itu. Padahal aslinya kalau ditelaah intinya itu : males yang dikasih prestige biar kesannya jadi alasan elegan untuk menolak atau mungkin menghindari.

Jadi kudu hati-hati saya terjebak dengan alasan inTELEK yang sebenarnya merugikan saya juga. Padahal, sebelum saya menghindar atau menolak dengan not not dan need need, tidak salahnya saya mencoba dulu. Yaaa mungkin masih malas tapi saya menggunakan niat pribadi untuk memaksakan mencoba sesuatu yang baru yang positif bila dipikirkan dengan logika jernih. Awalnya mungkin tidak nyaman, kagok, tapi yaaaa who knows become blessing in disguise. Nothing to lose.

Kalaupun nanti setelah dicoba dan memang tidak cocok, minimal saya mengalahkan diri sendiri untuk tidak menggunakan alasan inTELEK tadi yang aslinya MALAS tapi otak saya memanipulasi diri dengan membuat pembenaran dalam diri, malah kadang juga membuat penilaian awal yang terlalu subjektif terhadap kesempatan yang baik.

So, I learn not to make more shit (TELEK) excuse for laziness. Kalau malas ya memang malas, gak perlu alibi, alasan ini orang gini, saya gak sreg, gak cocok (padahal belum coba). Kalau memang saya punya alasan tertentu untuk menolak, saya harus pastikan itu bukan karena saya malas tapi memang keputusan tegas karena alasan yang jelas sehingga saya memang tidak mungkin melakukan hal tersebut karena ada prioritas yang lebih mendesak untuk diselesaikan.

femikhirana -digital marketing strategist-