Survival Skill Masa Depan : Digital Marketing

Kemarin saya ke BCA untuk urusan yang panjang dan memang harus datang. Biasanya kan saya menghindar antre di bank mengingat semua transaksi sudah bisa dengan online saja. Menyisihkan setengah hari untuk urusan perbankan dan melihat kembali hiruk pikuk yang biasa terjadi di BCA.

Ya harus diakui BCA memang seperti Yamaha, selalu terdepan 🀣
Pelayanannya memang keren. Semua staff kerja dengan wajah full senyum dari jejeran depan sampai lantai atas. Nasabah ketika mengantre pun tidak dibiarkan bengong, karena ada satu CS yang spesial keliling-keliling untuk bertanya tentang masalah mereka. Jika ia dapat membantu saat itu juga maka mereka sudah tidak perlu menunggu antrean untuk dipanggil lagi ke teller. Langsung bisa pulang. Ada pula CS yang berupa mesin, sehingga yang bisa diselesaikan mesin langsung diarahkan ke mesin.

Bila sebuah Bank dulu kebanyakan teller daripada tim CS, sekarang hampir sama rata, bahkan teller lebih sedikit pasukannya karena hanya melayani transaksi yang memang bisa belum online atau melayani nasabah yang belum online.

Sambil saya mengurus keperluan di BCA eh ada juga ternyata pasukan sales marketing. Pasukan ini memasarkan produk layanan BCA yang mungkin saja berguna bagi nasabah misalnya asuransi, reksa dana, dan produk-produk keuangan deh…

Lalu ketika sudah beres, malam tiba, baru saya sempat bicara dengan sepupu yang kerja di BCA. Beliau sudah staf senior, jadi saya cukup terbantu dengan urusan di kantornya tadi. Dari dia saya tahu bila nanti semua karyawan bank adalah marketer. Urusan keuangan sudah pakai mesin semua. Manusianya diberdayakan untuk jadi marketer dan jualan produk perbankan. Yang hanya mau jadi teller gimana? Ya gak bisalah… Kalau gak mau switch dan nambah ilmu marketing ya nganggur aja.

Ini yang pasti terjadi di era merebaknya teknologi AI, bukan manusianya gak bisa kerja lagi karena digantikan robot melainkan manusianya harus beralih melihat peluang dan skill yang memerlukan tenaga manusia. Pekerjaan teknis yang bersifat pengulangan tidak akan lagi dilakukan manusia karena manusia bukan robot!

Manusia melakukan pekerjaan yang memang fitrahnya manusia sebagai peran konseptor, kreator, editor, pengawas, relasional / penghubung antar manusia, peneliti, investigator. Yang memilih pekerjaan jadi robot pabrikan saja sejatinya merendahkan potensi sebagai manusia.

Satu hal lagi yang pada akhirnya akan terjadi, seperti yang sepupu saya jelaskan tadi : semua adalah marketer. Semua pekerjaan masa depan memerlukan skill marketing terlebih spesifik karena di era digital, maka semua profesi yang dilakukan seharusnya dibekali dengan keterampilan digital marketing dan menguasai marketing attitude. Jadi apakah nanti semua manusia dituntut jualan? Sejak zaman kuno pun sejatinya manusia sudah dituntut bisa jualan untuk hidup, jadi personaliti atau jiwa (soul) sebagai marketing itu harus disadari ada di setiap manusia. Tinggal cari trigger untuk mengembangkannya.

Pada akhirnya skill digital marketing dan marketing attitude adalah survival skill di masa depan. Jangan khawatir karena marketing soul itu selalu ada di setiap orang. Tanpa itu saya rasa orang tersebut akan mirip dengan robot yang disingkirkan bila sudah tidak bisa di-upgrade.

Femikhirana, CDS
Digital Marketing & Ethic Strategist

My Midjourney

Ini adalah gambar yang saya buat.
Saya buat dengan Robot AI Midjourney.
Dengan perintah deskripsi, 1 menit selesai.

1. Indonesian girl with traditional clothes
2. Logo with flower and moon
3. Web template design with kids theme
4. Young women rocker is singing in the church
5. A boy eats Pempek Palembang (tapi AI nya gak pernah makan pempek jadinya roti hahaha…)
6. Liverpool FC and Tarot card
7. Beautiful chic woman with modern techno lifestyle
8. A girl eats brownies in the dining room
9. Hasil editing no 8 untuk di-customise dalam bentuk konten promosi.

Mau cari model virtual jadi asik. Tapi tentu kemampuan editing grafis dan video perlu untuk finishing sesuai kepentingan konten.

Nanti coba AI untuk buat lagu, supaya pas posting lagu gak kena copyright muluuuu dehhh…

Mau coba kerjakan ilustrasi sendiri dengan robot design? Try midjourney AI, you need discord account.

Yang bingung dengan Discord? Apalagi kalian masih di bawah usia 30 mending belajar pakek Discord deh… WA dng Telegram itu sudah old generation banget!

Semua dari bikin grup belajar sampe robot AI ada di Discord. Anak-anak pakai Discord juga. Pantaulah dengan punya akun Discord juga.

Nanti deh yaaa kita belajar kutak katik Discord dengan Robot AI.

Hari Gini Gak Bisa Dapet Duit???

Hari gini sebenarnya gak ada alasan gak ada kesempatan gak bisa dapet duit.

Itu nenek-nenek mandi lumpur di Live Tiktok aja dapet penghasilan lebih dari UMR tiap bulannya 🀣
Tidur aja bisa dapet gaji lebih dari UMR juga di Live Tiktok

Itu no skill loh ya…
Cuman perlu strategi dan konsisten, jadi tuh…

Ada yang suka bilang : saya bingung saya sukanya apa, kayaknya yang saya suka gak bisa dapet duit deh…. Weleh itu karena gak tahu medianya aja. Banyak penggangguran yang akhirnya bisa kerja kreatif, bukan demi ngetop, tapi demi kebutuhan sehari-hari. Ngetop itu imbas aja.

Dulu saya juga pas SMA pernah bingung saya tuh mau ambil bidang apaaaa yaaaa buat masa depan. Sampe panas mikir akhirnya selentingan otak saya disentil dengan semua yang sudah saya baca dan imani.

Tiba-tiba saya merasa tercerahkan pas lagi jalan kaki itu, “Duh Tuhan saya kok ya bego amat, banyak pilihan bukannya disyukuri kok malah dipusingin jadi masalah yakkkk!”
Sejak saat itu apapun saya jajal, atur waktu aja, makin sibuk makin bagus karena lebih ketahuan garis hidup kita diarahkan ke mana.
Lah wong banyak di depan mata yang bisa dicoba kenapa juga dipusingin bahkan ditakuti. Cobain, salah ya ngulang. Gak cocok ya tinggal cobain lagi yang lain. Kalau gak dicobain semua ya mana kita tahu juga sih…! Kalau dilihatin terus ya dah keburu basi kesempatannya.

Multi talent itu gak akan jadi juga kalau talent-nya jadi talenan tok… Saya yakin setiap manusia itu multi skills, kita dikasih opsi, tapi banyak yang malah merasa itu masalah bukan berkat yang disyukuri.

Ya minimal seperti yang saya kasih contoh di atas itu. Tidur saja kalau kreatif ternyata menghasilkan. Gak jadi ngetop tapi lumayan buat ada uang untuk cari skill lain lagi yang bisa dikerjain.

PHK Massal = Kesempatan Jadi Boss

PHK Massal = Kesempatan Jadi Boss

Tindakan PHK massal start up terkenal GoTo dan Ruang Guru makin menunjukkan perusahaan itu akan efisien bila menggunakan sistem project terhadap skillful employee tapi tugasnya selesai saat perusahaan sudah berjalan baik. Ketika perusahaan sudah bisa berjalan dengan sistem, maka calon yang diberhentikan dulu adalah Programmer, Designer, dan tim yang berhubungan dengan database. Yang dipertahankan justru kebanyakan adalah tenaga operator yang bisa multitasking. Maintenance sistem yang berkala tidak perlu lagi ratusan perancang dan pembuat program.

Ngenes? Punya skill tinggi tapi dipecat juga.
Hmmm bagi yang memikirkan kenyamanan gaji bulanan mungkin merasa jadi programmer kok digituin banget. Tapi kalau buat saya yang lebih banyak self employ, memang wajar kok kalau pekerjaan yang berkenaan dengan perancangan software itu bersifat kontrak atau base on project. Gak perlu merasa masa depan gak stabil. Justru aneh kalau pola pikir programmer begitu. Sejatinya di kerjaan kreatif atau perancang konsep software akan lebih menghasilkan bila dilakukan perhitungan project. Programmer bisa kerja dengan banyak project dalam satu waktu atau kalau dia hanya mengerjakan satu project dalam satu waktu lalu setelah itu selesai dia harus cabut ya dia sudah punya portofolio yang lebih keren dan habis itu dia bisa dapat project baru yang lebih besar fee-nya daripada jadi orang gajian standar yang naiknya lama.

Jadi sebenarnya sejak awal raksasa Start Up ini yang justru seharusnya gak perlu pakek gaya-gaya rekrutmen besar-besaran, bikin kantor kayak mall biar karyawan betah. Memang sihhh keren tapi itu juga pemborosan aslinya. Uang fix cost fasilitas mall di kantor itu kalau ujung-ujungnya malah bikin cashflow mandek dan ratusan karyawan tidak dibayar gaji ya mendingan gak perlu itu fasilitas main Virtual Reality game di kantor, duitnya bisa untuk nafas panjang.

Anehnya lagi walaupun ratusan pengangguran baru hadir tapi selalu saja tak kurang lowongan kerja bertaburan. Artinya perusahaan juga tetap ada yang susahhh banget dapat karyawan yang mau tetap. Lucu juga, di satu sisi banyak karyawan pengen jadi karyawan tetap, tapi di perusahaan menengah dan kecil mau cari karyawan tetap tuh susah benerrrrr… Kalau kurang lahan pekerjaan sudah pasti web loker gak laku. Kenyataannya selalu laku.

Jadi sadari saja kemungkinan untuk jadi karyawan di perusahaan besar dan gaji bagus itu memang tidak mudah. Kalau ngotot tidak mau turunkan standar masuk perusahaan skala menengah ya alamat keluarga bisa telantar. Jadi gimana baiknya?
Nah welcome to disruptive world yang aslinya gak membatasi kita mau cari uang dari mana saja atau bidang apa saja selama ada peluang. Beberapa materi konten Tiktok saya selalu bahas kita ini bisa bekerja resmi untuk standar kebutuhan tapi tentu mau lebih, nah lebihnya cari sendirilah. Ada dunia tambahan selain dunia yang biasa kita hadapi, untuk cari uang tambahan. Ini sudah style era transformasi digital, multiverse, multi position, multi jobs, multi income juga dong jadinya. Ingat KEBUTUHAN KITA ITU BUKAN TANGGUNG JAWAB OWNER PERUSAHAAN TEMPAT KITA BEKERJA. Jadi percuma di era sekarang nyari terus kerjaan tetap bergaji besar dan stabil tapi malah gak dapat-dapat kerjaan model gitu. Mending ikuti style yang bisa lebih menguntungkan kalau dijalanin dengan tekun yaitu : yang penting dapat kerja semaksimal yang dulu, yang penting dapat duit dulu deh dan minimal ga kelaperan.. Nah kalau gak kelaparan bisa tuh otak diajak mikir akhirnya : kerjain apa lagi yaaa buat nambah kerjaan tetap. Cari banyak referensi profesi yang bisa dilakukan sambilan di kantor tapi gak ganggu kerjaan utama juga. Ini sudah akan jadi lumrah ke depannya.

Menyiksa bagi yang suka kemapanan? Ingat ajalah kalo kurang duit tetap aja gak mapan. Kemapanan itu tetap level yang pasti tercapai kok, tapi ya harus terima dulu kondisi era sekarang ya kemapanan malah bisa diraih dari banyak tempat, bukan satu tempat. Tiap orang sekarang kalau mau mapan bukan hanya punya jiwa loyal dengan perusahaan tapi juga punya jiwa entrepreneurship untuk jadi pemimpin bagi diri sendiri. Jadi karyawan sekaligus jadi boss, apa salahnya? Yang sudah di-PHK ini dikasih pesangon yang amat sangat lumayan loh.. Jadi kalau mau coba jadi boss bisa, sudah ada modal dikit… Ya tentu harus punya strategi, nah ini yang harus dipelajari. Makanya jiwa entrepreneurship itu penting dilatih bahkan ketika jadi karyawan pun tetap harus punya mental entrepreneurship. Karena pas kepepet penghasilan kurang, sudah bisa beralih jadi Boss. Keren kan kepepet malah jadi Boss πŸ‘

Dibayar untuk Meeting

Dibayar untuk Meeting

Cerita waktu kerja dulu.
Di kantor tempat saya kerja dulu itu banyak manager-nya. Ya karena merek yang dipegang banyak jadi tiap merek ada manager. Tiap merek bukan hanya 1 manager, bisa ada 2 : Sales manager lalu Marketing Manager yang melapor ke General Manager merek tersebut. Jadi satu divisi merek yaaa minimal ada 3 manager deh 🀣. Di bawah tiap manager ada supervisor atau staff.

Semua tim manager usia rata-rata 25-35 tahun. Kalau meeting bareng semua divisi, satu ruangan ya isinya manager semua dan meeting-nya lamaaaa…

Para manager muda ini jadi resah gelisah kalau meeting lama. Sudah gak boleh angkat telepon (tapi masih bisa SMS-an). Ada yang protes ke boss, merasa kalau meeting jadi gak bisa kerjain yang lain sementara tugas masih menumpuk. Lalu setelah meeting kita semua keluar dengan otak penuh mikirin kerjaan yang makin menumpuk.

Terus si boss selalu jawab gini tiap ada yang protes meeting : Heiii… Gua bayarin lu tuh untuk meeting! Lu tuh pemimpin, yang kerjain tugas lu selama meeting itu staff. Kalau lu mau jadi staff keliling-keliling outlet ngapain gua gaji lu sebagai manager.

Jadi sejak itu tertanam kalau kita dibayar untuk meeting bukan beresin urusan yang bisa diberesin staff. Kita harus naikkin level soalnya boss udah naikkin level kita tapi otak masih level staff yang tugasnya operator bukan konseptor. Tanpa konsep, operator gak jalan. Otomatis tanpa konseptor, bisnis gak jalan.

Nah kalau ketemu manager yang ribet dengan urusan operator bisa jadi :
1. Lagi kurang kerjaan alias gabut πŸ˜‚
2. Ada staff gak masuk atau berhenti, terpaksa rangkap-rangkap
3. Emang gak ada staff karena management diri sendiri 😁
4. Belum siap jadi manager, betahnya jadi staff (banyak loh yang begini)
5. Gak bisa jadi manager yang percaya dengan orang dalam mendelegasikan tugas.

Jadi manager itu lebih ke softskill personality. Kalau hard skill itu sudah jelas harus punya tapi mereka yang unggul dalam softskill yang tahan jadi manager yang bisa diandalkan. Kalau gak tahan mengembangkan softskill-nya maka biasanya jadi one man show manager & staff.

Next saya bahas cerita lucu-lucu seputar softskill manager-manager top yang saya pernah lihat.

FAQ in Digital Marketing : How to Get Many Followers?

The most questions that I got in a digital marketing material lesson are: How to Get Many Followers? Every digital marketer class could provide some technical tips in order to get followers. One of them is by learning the rules of social media algorithms. But too bad, after trying to follow those bunch of tips, the result is nothing. It still doesn’t increase your followers significantly.

Unfortunately, the science of marketing is not the same character as the empirical mathematical calculations which is represented by the digital system. In fact, getting followers is not as easy as following the flow of a computer program machine. Because we forget, the most important variable in the algorithm program is still probability theory. So the more social media users, the smaller probability for you to get your turn to be raised by the system. So understanding the robot system tips is not the main key. Remember, robots are only our assistants, the determinant is still us, the humans.

So, usually after discussing the technicalities, digital marketing mentors will remind you that it’s useless to know the Artificial Intelligence mechanism if the drivers and executor of AI actions (means : the human) are not involved in it. All sophisticated algorithm systems will depend on the account owner because:

* The system will be consistent if the humans consistently provide content/tasks to be distributed.

* Creativity could occur when we as account owners, use the advantage of the insights which is provided by the system in helping us to make better content / work ideas.

* The most crucial and being forgotten often is : our followers are humans, they cannot be considered as robots who will automatically follow even though our content is super interesting. So a personal and community approach remains the most important way instead of relying on robots to spread our creativity. Unless we are famous artists, people will follow our account if at least they know our behavior or attitude on social media. Unfortunately, robots can’t get along, so online or offline socializing in my opinion is more important than just posting diligently.

Finally, may I try to answer the question above again: how to increase followers? I won’t answer it with technical theories on social media. I am going to ask him/her back: how far is your impact and influence to your social media friends? If the answers are : I almost never post about myself, I don’t have many friends, I’m lazy to interact at social media, then what I would like to fix is ​​the digital marketing attitude mindset first. I’ll teach you how to attract your environment. That’s why I always start my workshop with personal brand strategy in digital world. When he/she knows what to improve from his mindset in digital marketing already, then I believe that he could manage technical tips for running his/her social media according to how the algorithm engine works.

For the conclusion of this topic, we have to understand that followers are reward from the strategies. So if you want to get more rewards, you have to do more efforts.Β 

Femikhirana (Digital Marketing Strategist)