Survival Skill Masa Depan : Digital Marketing

Kemarin saya ke BCA untuk urusan yang panjang dan memang harus datang. Biasanya kan saya menghindar antre di bank mengingat semua transaksi sudah bisa dengan online saja. Menyisihkan setengah hari untuk urusan perbankan dan melihat kembali hiruk pikuk yang biasa terjadi di BCA.

Ya harus diakui BCA memang seperti Yamaha, selalu terdepan 🤣
Pelayanannya memang keren. Semua staff kerja dengan wajah full senyum dari jejeran depan sampai lantai atas. Nasabah ketika mengantre pun tidak dibiarkan bengong, karena ada satu CS yang spesial keliling-keliling untuk bertanya tentang masalah mereka. Jika ia dapat membantu saat itu juga maka mereka sudah tidak perlu menunggu antrean untuk dipanggil lagi ke teller. Langsung bisa pulang. Ada pula CS yang berupa mesin, sehingga yang bisa diselesaikan mesin langsung diarahkan ke mesin.

Bila sebuah Bank dulu kebanyakan teller daripada tim CS, sekarang hampir sama rata, bahkan teller lebih sedikit pasukannya karena hanya melayani transaksi yang memang bisa belum online atau melayani nasabah yang belum online.

Sambil saya mengurus keperluan di BCA eh ada juga ternyata pasukan sales marketing. Pasukan ini memasarkan produk layanan BCA yang mungkin saja berguna bagi nasabah misalnya asuransi, reksa dana, dan produk-produk keuangan deh…

Lalu ketika sudah beres, malam tiba, baru saya sempat bicara dengan sepupu yang kerja di BCA. Beliau sudah staf senior, jadi saya cukup terbantu dengan urusan di kantornya tadi. Dari dia saya tahu bila nanti semua karyawan bank adalah marketer. Urusan keuangan sudah pakai mesin semua. Manusianya diberdayakan untuk jadi marketer dan jualan produk perbankan. Yang hanya mau jadi teller gimana? Ya gak bisalah… Kalau gak mau switch dan nambah ilmu marketing ya nganggur aja.

Ini yang pasti terjadi di era merebaknya teknologi AI, bukan manusianya gak bisa kerja lagi karena digantikan robot melainkan manusianya harus beralih melihat peluang dan skill yang memerlukan tenaga manusia. Pekerjaan teknis yang bersifat pengulangan tidak akan lagi dilakukan manusia karena manusia bukan robot!

Manusia melakukan pekerjaan yang memang fitrahnya manusia sebagai peran konseptor, kreator, editor, pengawas, relasional / penghubung antar manusia, peneliti, investigator. Yang memilih pekerjaan jadi robot pabrikan saja sejatinya merendahkan potensi sebagai manusia.

Satu hal lagi yang pada akhirnya akan terjadi, seperti yang sepupu saya jelaskan tadi : semua adalah marketer. Semua pekerjaan masa depan memerlukan skill marketing terlebih spesifik karena di era digital, maka semua profesi yang dilakukan seharusnya dibekali dengan keterampilan digital marketing dan menguasai marketing attitude. Jadi apakah nanti semua manusia dituntut jualan? Sejak zaman kuno pun sejatinya manusia sudah dituntut bisa jualan untuk hidup, jadi personaliti atau jiwa (soul) sebagai marketing itu harus disadari ada di setiap manusia. Tinggal cari trigger untuk mengembangkannya.

Pada akhirnya skill digital marketing dan marketing attitude adalah survival skill di masa depan. Jangan khawatir karena marketing soul itu selalu ada di setiap orang. Tanpa itu saya rasa orang tersebut akan mirip dengan robot yang disingkirkan bila sudah tidak bisa di-upgrade.

Femikhirana, CDS
Digital Marketing & Ethic Strategist

Hari Gini Gak Bisa Dapet Duit???

Hari gini sebenarnya gak ada alasan gak ada kesempatan gak bisa dapet duit.

Itu nenek-nenek mandi lumpur di Live Tiktok aja dapet penghasilan lebih dari UMR tiap bulannya 🤣
Tidur aja bisa dapet gaji lebih dari UMR juga di Live Tiktok

Itu no skill loh ya…
Cuman perlu strategi dan konsisten, jadi tuh…

Ada yang suka bilang : saya bingung saya sukanya apa, kayaknya yang saya suka gak bisa dapet duit deh…. Weleh itu karena gak tahu medianya aja. Banyak penggangguran yang akhirnya bisa kerja kreatif, bukan demi ngetop, tapi demi kebutuhan sehari-hari. Ngetop itu imbas aja.

Dulu saya juga pas SMA pernah bingung saya tuh mau ambil bidang apaaaa yaaaa buat masa depan. Sampe panas mikir akhirnya selentingan otak saya disentil dengan semua yang sudah saya baca dan imani.

Tiba-tiba saya merasa tercerahkan pas lagi jalan kaki itu, “Duh Tuhan saya kok ya bego amat, banyak pilihan bukannya disyukuri kok malah dipusingin jadi masalah yakkkk!”
Sejak saat itu apapun saya jajal, atur waktu aja, makin sibuk makin bagus karena lebih ketahuan garis hidup kita diarahkan ke mana.
Lah wong banyak di depan mata yang bisa dicoba kenapa juga dipusingin bahkan ditakuti. Cobain, salah ya ngulang. Gak cocok ya tinggal cobain lagi yang lain. Kalau gak dicobain semua ya mana kita tahu juga sih…! Kalau dilihatin terus ya dah keburu basi kesempatannya.

Multi talent itu gak akan jadi juga kalau talent-nya jadi talenan tok… Saya yakin setiap manusia itu multi skills, kita dikasih opsi, tapi banyak yang malah merasa itu masalah bukan berkat yang disyukuri.

Ya minimal seperti yang saya kasih contoh di atas itu. Tidur saja kalau kreatif ternyata menghasilkan. Gak jadi ngetop tapi lumayan buat ada uang untuk cari skill lain lagi yang bisa dikerjain.

Soft Skill Manager (Part 3)

Soft Skill Manager (Part 3)
Berimajinasilah!

Ketika lagi ngalor ngidul di chat dengan seorang teman saya yang dulu adalah Finance Accounting Manager dia cerita kalau dia lagi sambil mikir-mikir.
“Mikirin apa?” tanya saya.
“Mikirin ide, sistem, konsep, rumus untuk kelola keuangan biar lebih efektif, efisien. Kalau sudah gini jadi agak harus mengkhayal-khayal gitu kan??”
“Emang…” timpal saya.

Saya gak terlalu bisa membayangkan kalau mengkhayal untuk konsep keuangan tuh gimana tapi yang jelas kalau di divisi keuangan saja para manager harus menggunakan pikiran out of the box kepentingan efisiensi, apalagi divisi Marketing seperti kerjaan saya hehehe… Bukan mengkhayal lagi kayaknya tapi rada menjurus ke halu hehehe…

Tentu yang dipikirkan oleh para pemimpin bukan khayalan atau halu yang tidak bisa diwujudkan. Khayalan yang bisa dibuat strateginya sehingga tujuan atau mimpi terwujud. Khayalan yang bisa dibuat sistemnya sehingga apa yang kita inginkan bisa tercapai.

Contoh konkretnya : bila kita mau efisiensi biaya transportasi, maka para manager harus memeriksa semua komponen biaya yang bisa diefisiensikan. Kemudian ia mengumpulkan semua informasi tentang sistem transportasi kota/negara yang ada saat ini bahkan kalau perlu rute-rute jalanan pun dia harus cari informasinya. Setelah itu diperiksa opsi-opsi apa yang bisa digunakan agar biaya bisa dikurangi. Namun, si manager pun bisa berimajinasi, seandainya di kantor punya mobil inventaris untuk antar jemput kira-kira gimana ya perhitungannya. Lalu mulailah ia mencari informasi semua kemungkinan investasi yang bagus untuk mobil perusahaan. Dia hitung biaya penyusutannya, semua komponen biaya yang bakal terjadi bila mobil tersebut ada. Ternyata kalau punya mobil antar jemput sendiri, biaya transportasi karyawan bisa dihemat sebesar 30%. Tapi kan mobil gak ada… Jadi hanya diimajinasikan semua seolah-olah nyata dan bila diwujudkan maka kurang lebih tujuan perusahaan akan tercapai.

Kerjaan manager memang yang diandalkan adalah pikirannya. Jadi jangan berkesimpulan :
“Atasan saya mah gak ngapa-ngapain tuh…! Kita yang setengah mati di pabrik. Dia mah duduk aja di ruangannya yang ber-AC, duduk depan komputer, kadang keliatan bengong aja.”
Yaaa namanya juga beda level pemahaman, jadi dimaklumi saja kalau ada pola pikir yang menganggap level managerial hanya ongkang-ongkang kaki sementara karyawan operasional yang pontang-panting. Level pontang-panting managerial itu beda soalnya, gaes…

Manager itu sudah harus cemas was-was kalau di otaknya tidak ada inovasi yang bisa disarankan ke perusahaan. Sehingga semua target perusahaan tidak tercapai. Kalau target tidak tercapai itu alamat manager biasanya ketar-ketir. Ketar-ketir mikirin nasib karyawan lain loh, bukan nasib sendiri. Kalau boleh milih tentu lebih mudah kerja fisik dibandingkan dinilai performance-nya berdasarkan indikator otak, bener gak gaes???

Kalau level managerial sudah hilang daya imajinasinya maka calon kebangkrutan akan datang ke perusahaan itu dan semua karyawan operasional boro-boro naik gaji, tapi kehilangan pekerjaan.

Dalam keseharian saya tidak pernah melihat manager sukses yang malas hanya ongkang-ongkang kaki. Mungkin gaya duduknya emang begitu tapi otaknya ngebul walaupun gak pakai sering-sering mondar-mandir kiri kanan di pabrik.

Jadi kesimpulannya soft skill yang harus dimiliki owner atau level managerial di bagian ke-3 ini adalah :
1. Kemampuan berimajinasi tentang mimpi / tujuan perusahaan. Makanya tuh manager harus bisa menjabarkan visi misi yang emang kayak mengkhayal itu hehe…
2. Kemampuan berpikir yang kompleks namun konkret.
3. Memiliki pengetahuan yang luas, banyak baca dan tahu kondisi luar perusahaan.
4. Mampu mengelola informasi menjadi keputusan yang diperlukan.
5. Mampu mengkonsep mimpi jadi sebuah sistem konkret yang bisa diwujudkan.

Bagaimana supaya bisa punya kemampuan di atas?
1. Banyak baca buku dari komik sampai science
2. Belajar mengelola dan menganalisis informasi agar tidak kewalahan akibat banyaknya informasi, melainkan menyeleksi mana informasi yang perlu dan tidak perlu dibaca/diterapkan
3. Belajar kesenian apapun : sastra, musik, gambar, dll. Fungsinya apa? Biar gak bisanya ngomong dan ngetik doang tapi bisa mewujudkan dalam bentuk karya konkret yang bisa dipresentasikan dengan menarik dan berguna. Belajar kesenian melatih keseimbangan imajinasi dan sistem kerja logika otak dalam perencanaan untuk mewujudkan imajinasi jadi kenyataan. Saya kasih tahu rahasia dikit, orang seni biasanya jarang gaptek karena mereka punya sensitifitas untuk menerjemahkan simbol icon/gambar/chart/suara jadi satu fungsi instruksi otomatisasi.

Part 1 baca di SINI

Part 2 baca di SINI

Digital Behavior 2023

Digital Behavior 2023 (2)
Karakteristik pengguna yang koplak di berbagai medsos.

Seleksi pertemanan di FB
Paling gampang lihat kelakuan user FB yang layak jadi friend atau tidak. Usia kebanyakan di atas 30, di saat banyak yang ngerasa udah perlu tempat untuk pelampiasan pendapat tanpa merasa malu bahkan gak masalah kalau mempermalukan diri. Orang koplak rata-rata modelnya gini di FB :

1. Ngomongin orang statusnya ribet, tapi status dia lebih ribet. Laper kehujanan sendiri sambil marah-marah dan doa pada Tuhan di status saja nulis bisa dua paragraf, minimal 400 karakter kayaknya.

2. Ngomongin profile picture orang gak jelas, tapi gak nyadar profile picture-nya sendiri juga bukan fotonya sendiri.

3. Komennya membosankan dan nanya sesuatu yang gak nyambung karena dijawab juga ujungnya pembelaan diri.

Yang gini ya auto unfollow aja. Perlu waktu 100 tahun untuk jadi customer karena pola pikirnya maju selangkah mundur 100 langkah.

Dengan kata lain : orang yang tidak konsisten di FB bukan calon teman yang pas di FB. Dan cari yang inkonsisten paling gampang emang di FB karena user-nya merasa bebas nulis tanpa mikirin efek samping hehe…

Seleksi pertemanan di IG :
1. Kalau gak kenal, akun private, auto blokir. Jangan coba-coba dibiarin. Pantau follower tiap hari bukan setahun sekali. Ada yang men-curigation langsung blokir. Kalau tidak blokir dampaknya mereka akan follow teman-teman kita dan nanti takutnya sasarannya adalah teman kita juga.

2. Kalau tidak kenal, akun dibuka, gak ada posting, gak usah folback. Tak perlu sampai berbaik hati folback segala.

3. Lihat status di-like sama akun IG bule tak dikenal, apalagi cewek2 yang langsung kelihatan semua onderdilnya, auto blokir aja. Kalo gak diblokir ntar algoritmanya ngalir banyak dilihat orang model begituan juga hehehe…

Seleksi pertemanan di TikTok :
Nah ini yang agak fenomenal. Di Tiktok yang terlihat liar ternyata di-follow gak bikin parno. Sampai sekarang belum pernah lihat akun open BO di Tiktok yang ganggu-ganggu. Di IG malah banyakkkk… Jadi so far selama akun dilindungi two factor authentication dan tidak diganggu inbox yang macam-macam ya nyantai aja. Paling banyak sih orang inbox invite untuk nonton live. Tapi bisa diabaikan karena yaaa namanya juga mereka usaha, kita gak mau nonton ya cuekin aja. Walaupun dari segi konten Tiktok banyak yang suka koplak tapi untuk dapat follower di Tiktok paling aman dari gangguan.

Seleksi pertemanan di Linked In :
Sejak diambil alih Microsoft, Linked jadi kayak pasar beneran. Awalnya pasar tenaga kerja, lama-lama banyak orang koplak juga masuk yang merusak dunia pasaran.

Hati-hati di aplikasi profesional, tukang tipunya beneran jauh lebih profesional loh! Yang propaganda pun tak maen-maen.

Seleksinya mirip dengan FB, mudah!
Selama orang yang posting tidak konsisten, ya tidak perlu follow atau connected. Banyak yang tidak konsisten, misalnya :
1. Posting yang profesional di jendelanya tapi komen di postingan profil yang fotonya menarik dengan kalimat menjurus flirting.
2. Posting profesional bercampur dengan posting agama, politik, plus hoax. (Banyak yang gini)

Satu lagi nih… Jangan berharap dapat banyak connection terus bisa dapat kerjaan dari yang rajin posting. Rajin posting itu indikasinya mereka juga banyak waktu luang, nganggur, nyari komunitas, jadi ngarepin mereka bisa do something to your account itu keajaiban.

Beberapa orang yang contact saya bahas kerjaan cenderung kebanyakan yang jarang komen cari relasi. Jadi ngeliat mereka yang suka komen ngarep di seleb Linked itu aslinya bikin geleng-geleng kaki eh kepala.

KESIMPULAN :
PENGEN JADI TEMAN BERKUALITAS, perbaiki prilaku digital jangan sampai kayak di atas itu. Dijamin kalo gak nyebelin, berkah melimpah di dunia. Dijamin! Gak berlaku buat yang nyari berkah melimpah di akhirat tapi di dunia asli dan maya dia reseh…

Soft Skill Manager (Part 1)

Suatu hari saya sedang ada meeting dengan kantor principal sebuah merek ponsel Eropa yang sekarang sudah almarhum mereknya. Kantor principal itu yaaa sejenis kantor pusat pemilik merek gitu. Saya yang kerja di kantor distributor sudah biasa kalau bolak balik meeting dan kerja bareng tim dari kantor principal.

Nah ada dua kisah yang mau saya sampaikan dari kantor ini.

Pertama : Tukang Ingetin
Tiap meeting saya beberapa kali dengerin manager di kantor principal ngomong dengan betenya : “Heran, gua di sini jadi tukang inget-ingetin kalian ya! Masak tiap meeting kerjaan gua cuman ingetin mulu yang kalian belum kerjain??!!”
Saya mah diem aja mendengar dengan seksama karena bukan saya yang diomelin, melainkan rekan di kantor principal. Saya solider aja ikut meresapi hehe…

Ntar kalau sudah kelar meeting, saya siap kuping lagi kalau si Bapak manager curhat-curhat sebel karena merasa paling ingat sendiri semua kerjaan yang harus dikerjain. Saya sering juga ngekor ke mana dia pergi kalau lagi di lapangan, soalnya saya yang paling gak sebel dengan beliau hihihi… Lah wong saya bukan karyawan di sana kannn, jadi saya itu mewakili Boss atau GM kantor saya sebagai partner manager kantor principal.

Nah dari beliau saya jadi paham juga softskill yang memang harus dimiliki pemimpin :
Daya ingat harus kuat. Gak ada manager lupaan tuh, asli gak ada! Dia bisa lupa hal-hal yang gak penting tapi ingat semua yang penting. Kerjaan manager salah satunya kan emang controlling jadi emang udah kayak tukang ingetin hehehe… Dah terima nasib aja tuh bapak manager, berkat keahliannya mengatur dan mengingat terbukti si bapak manager bisa cepat promosi ke posisi yang lebih tinggi lagi.

Kenapa bisa inget? Karena fokus. Ketika ada promosi untuk cari manager salah satu keahlian yang harus unggul ya itu : punya memori kuat sehingga kalau ada apa-apa bisa obyektif dalam pengambilan keputusan karena ingat semua kronologis dan alur tugas-tugas yang didelegasikan.

Kedua : Keberanian dan Kecepatan dalam Pengambilan Keputusan
Di kantor ini di atas manager ada GM. Usia jauh lebih senior. Bawaannya nyantai aja, agak nyeleneh, tapi kalau sudah serius karismanya gak ada yang bisa lawan.

Yang paling kami pelajari adalah ketika ada konferensi pers / interview seputar masalah persyaratan produk elektronik luar yang masuk ke Indonesia. Saya lupa persis kasusnya tapi ketika si GM ditanya mengenai kelengkapan manual procedure di dalam kotak kemasan apakah sudah sesuai aturan, jawabannya : Sudah! Padahal aslinya belum!
Tentu kalau jawab belum malah jawaban bunuh diri.

Setelah konferensi pers, semua manager dan staff langsung meeting. GM langsung instruksikan hari itu juga fokus untuk cetakan pengadaan yang harus ada di kotak kemasan. Besok malam harus sudah ada yang jadi dan langsung alokasikan semua ke outlet.

Orang yang tak punya nyali tidak sanggup mengambil keputusan darurat seperti ini. Hanya mereka yang punya pikiran taktis, percaya pada skill tim, dan siap mengambil risiko memantau sampai selesai yang berani memutuskan dengan cepat hal-hal yang dapat menyelamatkan perusahaan. Uang seberapun biasanya juga tidak jadi masalah asal semua beres sesuai kebutuhan. Lembur? Yaaa sudah biasa sih kalau orang marketing, orang percetakan, karyawan toko ngurus yang dadakan gini. Kita juga gak berasa terpaksa karena kita pun berusaha agar bisa selamat dan jualan dengan benar.

Jadi keterampilan manager yang juga syarat wajib punya adalah : keberanian pengambilan keputusan dengan cepat. Ini bukan skill main-main karena kenyataannya orang awam ngambil keputusan untuk dirinya saja mencla-mencle apalagi mengambil keputusan yang membawa hajat hidup orang banyak, bisa mendadak pingsan karena ketakutan mungkin.

Dari pemimpin-pemimpin yang pernah saya kenal juga saya lihat semuanya : no fear in taking decision. Justru takutlah kalau ternyata kamu tidak bisa mengambil keputusan karena akan menghambat banyak hal. Soal benar atau tidaknya keputusan itu urusan nanti, yang penting selamatkan muka dulu. Rugi urusan belakang karena duit bisa dicari lagi.

FAQ in Digital Marketing : How to Get Many Followers?

The most questions that I got in a digital marketing material lesson are: How to Get Many Followers? Every digital marketer class could provide some technical tips in order to get followers. One of them is by learning the rules of social media algorithms. But too bad, after trying to follow those bunch of tips, the result is nothing. It still doesn’t increase your followers significantly.

Unfortunately, the science of marketing is not the same character as the empirical mathematical calculations which is represented by the digital system. In fact, getting followers is not as easy as following the flow of a computer program machine. Because we forget, the most important variable in the algorithm program is still probability theory. So the more social media users, the smaller probability for you to get your turn to be raised by the system. So understanding the robot system tips is not the main key. Remember, robots are only our assistants, the determinant is still us, the humans.

So, usually after discussing the technicalities, digital marketing mentors will remind you that it’s useless to know the Artificial Intelligence mechanism if the drivers and executor of AI actions (means : the human) are not involved in it. All sophisticated algorithm systems will depend on the account owner because:

* The system will be consistent if the humans consistently provide content/tasks to be distributed.

* Creativity could occur when we as account owners, use the advantage of the insights which is provided by the system in helping us to make better content / work ideas.

* The most crucial and being forgotten often is : our followers are humans, they cannot be considered as robots who will automatically follow even though our content is super interesting. So a personal and community approach remains the most important way instead of relying on robots to spread our creativity. Unless we are famous artists, people will follow our account if at least they know our behavior or attitude on social media. Unfortunately, robots can’t get along, so online or offline socializing in my opinion is more important than just posting diligently.

Finally, may I try to answer the question above again: how to increase followers? I won’t answer it with technical theories on social media. I am going to ask him/her back: how far is your impact and influence to your social media friends? If the answers are : I almost never post about myself, I don’t have many friends, I’m lazy to interact at social media, then what I would like to fix is ​​the digital marketing attitude mindset first. I’ll teach you how to attract your environment. That’s why I always start my workshop with personal brand strategy in digital world. When he/she knows what to improve from his mindset in digital marketing already, then I believe that he could manage technical tips for running his/her social media according to how the algorithm engine works.

For the conclusion of this topic, we have to understand that followers are reward from the strategies. So if you want to get more rewards, you have to do more efforts. 

Femikhirana (Digital Marketing Strategist)

FAQ : Bagaimana Cara Mendapat Banyak Follower???

Pertanyaan terbanyak dalam suatu pelajaran materi digital marketing yaitu : Bagaimana Cara Mendapat Banyak Follower? Setiap kelas digital marketing ataupun para mentor digital bisa saja memberikan tips-tips berupa langkah yang bersifat teknis. Salah satunya adalah mempelajari kunci dari aturan algoritma media sosial. Tapi hasilnya ternyata setelah mencoba mengikuti serangkaian tips masih tidak menambah follower secara signifikan.

Sayangnya ilmu marketing itu tidak sama sifat empirisnya dengan perhitungan matematis yang diwakili oleh sistem digital. Kenyataannya untuk mendapatkan follower memang tidak semudah mengikuti alur mesin program komputer. Karena kita lupa, variabel terpenting dalam program algoritma itu tetaplah teori probabilitas, jadi semakin banyak pengguna media sosial maka semakin kecil juga probabilitas untuk mendapat giliran terangkat oleh sistem. Jadi memahami tips sistem robot saja bukan penentu. Ingat, robot hanya asisten, penentunya tetap kita, manusianya.

Jadi biasanya setelah membahas teknis, para mentor digital marketing akan mengingatkan bila percuma saja mengetahui mekanisme Artificial Inteligent bila penggerak dan pengeksekusi hasil tindakan AI tidak terlibat di dalamnya. Semua sistem algoritma yang canggih akan tergantung kembali pada pemilik akun karena :

  • Sistem akan konsisten bila manusianya konsisten memberi konten/tugas untuk disebarkan.
  • Kreatifitas bisa terjadi bila kita sebagai pemilik akun memanfaatkan insight yang diberikan sistem untuk membantu memberikan ide konten / karya yang lebih baik.
  • Yang paling krusial dan sering dilupakan adalah follower kita itu adalah manusia, tidak bisa dianggap sebagai robot yang otomatis akan follow walaupun konten kita sudah super menarik. Jadi pendekatan personal dan berkomunitas tetap adalah cara yang paling utama daripada mengandalkan robot yang menyebarkan kreatifitas kita. Kecuali kita adalah artis terkenal, maka orang akan follow akun kita bila minimal mereka tahu prilaku kita di media sosial. Sayangnya robot tidak bisa bergaul sehingga pergaulan online atau offline itu menurut saya adalah hal yang lebih penting daripada rajin posting semata.

Akhirnya, jika saya boleh menjawab pertanyaan di atas lagi : bagaimana menambah follower? Maka saya tidak akan memberi jawaban teknis dulu. Saya akan bertanya balik : seberapa besar pengaruh dan dampak yang sudah Anda buat di lingkungan teman medsosmu?
Kalau jawabannya adalah : saya nyaris tidak pernah posting tentang diri saya, saya tidak punya banyak teman, saya malas interaksi di dunia medsos, maka yang akan saya benahi adalah pola pikir digital marketing attitude dulu, saya ajarkan dulu cara untuk menarik perhatian sekitarnya. Itulah sebabnya saya selalu memulai workshop dengan materi strategi personal branding di dunia digital.
Ketika ia sudah tahu apa yang harus diperbaiki dalam prinsip digital marketing barulah saya percaya bila ia bisa mengelola tips-tips teknis untuk menjalankan medsos sesuai dengan cara kerja mesin algoritmanya.

Pada akhirnya, follower itu juga adalah hadiah dari sebuah strategi. Bila kita ingin dapat hadiah lebih, ya harus berusaha lebih.

Femikhirana (Digital Marketing Strategist)

Article in English

The most questions that I got in a digital marketing material lesson are: How to Get Many Followers? Every digital marketer class could provide some technical tips in order to get followers. One of them is by learning the rules of social media algorithms. But too bad, after trying to follow those bunch of tips, the result is nothing. It still doesn’t increase your followers significantly.

Unfortunately, the science of marketing is not the same character as the empirical mathematical calculations which is represented by the digital system. In fact, getting followers is not as easy as following the flow of a computer program machine. Because we forget, the most important variable in the algorithm program is still probability theory. So the more social media users, the smaller probability for you to get your turn to be raised by the system. So understanding the robot system tips is not the main key. Remember, robots are only our assistants, the determinant is still us, the humans.

So, usually after discussing the technicalities, digital marketing mentors will remind you that it’s useless to know the Artificial Intelligence mechanism if the drivers and executor of AI actions (means : the human) are not involved in it. All sophisticated algorithm systems will depend on the account owner because:

* The system will be consistent if the humans consistently provide content/tasks to be distributed.

* Creativity could occur when we as account owners, use the advantage of the insights which is provided by the system in helping us to make better content / work ideas.

* The most crucial and being forgotten often is : our followers are humans, they cannot be considered as robots who will automatically follow even though our content is super interesting. So a personal and community approach remains the most important way instead of relying on robots to spread our creativity. Unless we are famous artists, people will follow our account if at least they know our behavior or attitude on social media. Unfortunately, robots can’t get along, so online or offline socializing in my opinion is more important than just posting diligently.

Finally, may I try to answer the question above again: how to increase followers? I won’t answer it with technical theories on social media. I am going to ask him/her back: how far is your impact and influence to your social media friends? If the answers are : I almost never post about myself, I don’t have many friends, I’m lazy to interact at social media, then what I would like to fix is ​​the digital marketing attitude mindset first. I’ll teach you how to attract your environment. That’s why I always start my workshop with personal brand strategy in digital world. When he/she knows what to improve from his mindset in digital marketing already, then I believe that he could manage technical tips for running his/her social media according to how the algorithm engine works.

For the conclusion of this topic, we have to understand that followers are reward from the strategies. So if you want to get more rewards, you have to do more efforts.