Istilah Digital Safety/Cyber Security (Part 1) : Hacker

Cyber crime itu adalah kejahatan yang relatif sulit ditindaklanjuti, biasanya ya sampai pada pelaporan saja. Kenapa? Karena pembuktian forensik digital untuk tergenapi kejadian itu adalah sah cyber crime itu memang tidak mudah.  Selain data yang tidak kuat (bisa jadi karena sudah banyak dihapus permanen dan tidak ada back up), bisa juga data yang jadi bukti juga adalah data ambigu alias data tersebut terjadi karena persetujuan yang diberikan korban secara sah / tahu sama tahu / mau sama mau / alias tidak ada paksaan. 

Oleh karena itu cyber crime lebih baik dicegah jangan sampai terjadi.  Kalau sudah terjadi biasanya penyelesaiannya terekstrem juga penyelesaian secara digital alias viral yang diserahkan kepada netizen untuk memutuskan memberikan sanksi moral dalam dunia digital sendiri untuk meminimalisir rasa sakit / emosi yang terjadi pada korban.

Pahami istilah digital safety, cyber security supaya tidak bingung waktu baca berita atau analisis tentang keamanan digital.

PART 1

1. Hacker: Orang yang memiliki keahlian di bidang komputer dan jaringan, dan menggunakan keahliannya untuk menembus sistem komputer atau jaringan. Hacker itu juga ada macam-macamnya, bukan satu jenis saja.

Pertama, Black Hacker atau Black Hat menembus sistem dengan tujuan jahat, seperti mencuri data, merusak sistem, atau menyebarkan malware.

Kedua, kalau cuman menembus sistem untuk kepentingan yang tidak merusak bahkan membantu untuk pemulihan data atau memperbaiki jaringan bersama disebut White Hacker / White Hat. Jadi pemulihan akun yang hilang karena diretas oleh Black Hat kalau minta bantuan teman yang kita kenal baik untuk mencoba mengembalikan lagi ya tetap dengan cara hacking juga tapi yang melakukan untuk memulihkan disebut White Hat.  Jadi hacker lawan hacker dong? Ya iya emang begitu, tepatnya Black Hat VS White Hat.  

Ketiga, nah ada juga istilah Grey Hat, yaitu hacker yang memasuki sistem orang lain tanpa pake permisi, ya tidak legal, tapi tujuannya tidak jahat karena sistemnya tidak diutak-atik, paling dilihat-lihat, kalaupun ada yang di-copy untuk kepentingan dirinya sendiri (misalnya copy kode software biar dia gak harus bayar alias software bajakan).  Ada yang tujuannya memang iseng aja dan kalau sudah bisa menembus sistem nanti ngabarin yang punya web/sistem supaya orang IT memperbaiki sistem keamanan dengan lebih ketat.

Pencegahan :

Tidak ada yang perlu ditakuti sebenarnya dari istilah hacker. Hacker itu bukan dilawan tapi memang dicegah. Cegahnya tidak susah (lebih susah mencegah maling di dunia nyata sebenarnya), asal mau inisiatif perlindungan akun aja :

  1. Pasang kunci / password yang ribet (tidak berpola yang gampang ditebak).  Disarankan pasang double pengaman alias double password atau two factor authentication (2FA).  Ketahuilah 2FA itu sudah kasta tertinggi dalam pengamanan akun, tapi ya gitulah, banyak yang gak mau melakukan karena tidak tahu dan juga tidak mau repot.
  2. Tiap kamar/akun diberi password beda (jangan ngeyel bilang takut gak inget)
  3. Inget dong semua bentuk platform resmi, jadi loginnya jangan di akun atau software tidak resmi. Sering download aplikasi-aplikasi nambah fitur medsos atau whatsapp yang bukan dari platform resmi alamat langsung ketemu dengan maling.
  4. Kalau memang harus download aplikasi yang tidak resmi atau tidak ada di Playsore / Appstore ya pastikan kamu tahu siapa pembuat aplikasi tersebut.  Jadi aplikasi kantor sendiri atau aplikasi untuk kerja yang dipakai komunitas bersama, aplikasi belajar yang dibuat teman ya gak masalah di-download.
  5. Jangan gunakan 1 email untuk semua akun. Jangan gunakan 1 password untuk semua akun. Karena 1 kena retas ya semua akun juga kena. Aplikasi kantor pakai email sendiri, aplikasi medsos pakai email sendiri, aplikasi pribadi pakai email sendiri.
  6. Akun tidak aktif, akun tidak digunakan, akun tidak pernah di-update lagi sebaiknya dihapus/deactive.  Akun nganggur / rumah kosong yang masih ada isi di dalamnya pasti lebih mengundang maling daripada rumah yang selalu dijaga. Hal ini supaya akun tidak diretas dan malah mengganggu orang sekitar yang mengenal kita.
  7. Jaga etika di dunia digital.  Ini juga kasta tertinggi keamanan akun yang seringkali diremehkan.  Menjaga kelakukan / attitude itu untuk memproteksi diri loh. Maling segan dengan orang yang jejak digitalnya bagus dan punya personal brand yang bagus dan kuat, pasti rugi ngerjain orang gini.  Orang baik akan selalu diakui baik walaupun akunnya diretas dan nanti diisi posting-posting penipuan, friendlists/followers langsung tahu kalau akun tersebut pasti sudah diretas. Orang baik yang difitnah biasanya juga tidak akan berdampak apapun, malah dibela netizen. 

Kembali ke menu awal

Orang Miskin, Orang Kaya, dan Tao Ming Shi

Bagi kebanyakan orang miskin yang gak mau nasib berubah dan playing victim, kekayaan atau menjadi orang kaya itu cenderung adalah kejahatan.
Bingung kenapa orang kaya itu gak pernah susah, pasti yang dikerjain jahat-jahat…

Padahal orang kaya selalu akan kaya karena mentalnya. Orang kaya itu bukan berarti gak pernah kesusahan duit, tapi ketika kesusahanpun dia bermental kaya jadi ya akhirnya dia kaya lagi, makanya gak pernah terlihat susah. Mental kaya tuh apa? Susah-susah gampang jelasinnya tapi itu memang mindset orang orang kaya berpikir high self bukan egosentris. Mikirnya ya kalau lagi susah, ada masalah jalanin aja, terima keadaan dan berusaha lagi dengan rajin dan mental baja, ehhh bisa balik kaya lagi beneran kok… Kalau pas susah malah menyalahkan keadaan dan tidak terima diperlakukan semesta karena egonya yang marah sudah direndahkan dan berontak protes saja ya sampai kapanpun gak akan kaya itu.

Nah bagi orang kaya, kemiskinan itu nyaris sulit didefinisikan. Kadang dia bisa ngerasa makan nasi goreng aja udah miskin jadi dia berusaha untuk bisa lebih rajin supaya lain kali bisa makan fine dining food di resto mahal. Kadang dia merasa makan nasi goreng aja juga kemiskinan yang disyukuri karena masih banyak yang mau makan nasi goreng aja susah. So bukan mengkriminalisasikan kemiskinan tapi jadi motivasi makanya hasilnya gak miskin-miskin, lah manifestasinya selalu hardwork soalnya jadi lama-lama pun berhasil.

Tapi kalau bagi orang kaya macam Tao Ming Shi di Meteor Garden beda lagi sih… Orang ini hanya bikin orang miskin jadi halu berkepanjangan. Bagi Tao Ming Shi : Aku benci orang miskin, mau diajak ngapa-ngapain susah. Diajak senang gak bisa, diajak main gak mau, ya udah gua pacarin aja… #eh…

Survival Skill Masa Depan : Digital Marketing

Kemarin saya ke BCA untuk urusan yang panjang dan memang harus datang. Biasanya kan saya menghindar antre di bank mengingat semua transaksi sudah bisa dengan online saja. Menyisihkan setengah hari untuk urusan perbankan dan melihat kembali hiruk pikuk yang biasa terjadi di BCA.

Ya harus diakui BCA memang seperti Yamaha, selalu terdepan 🤣
Pelayanannya memang keren. Semua staff kerja dengan wajah full senyum dari jejeran depan sampai lantai atas. Nasabah ketika mengantre pun tidak dibiarkan bengong, karena ada satu CS yang spesial keliling-keliling untuk bertanya tentang masalah mereka. Jika ia dapat membantu saat itu juga maka mereka sudah tidak perlu menunggu antrean untuk dipanggil lagi ke teller. Langsung bisa pulang. Ada pula CS yang berupa mesin, sehingga yang bisa diselesaikan mesin langsung diarahkan ke mesin.

Bila sebuah Bank dulu kebanyakan teller daripada tim CS, sekarang hampir sama rata, bahkan teller lebih sedikit pasukannya karena hanya melayani transaksi yang memang bisa belum online atau melayani nasabah yang belum online.

Sambil saya mengurus keperluan di BCA eh ada juga ternyata pasukan sales marketing. Pasukan ini memasarkan produk layanan BCA yang mungkin saja berguna bagi nasabah misalnya asuransi, reksa dana, dan produk-produk keuangan deh…

Lalu ketika sudah beres, malam tiba, baru saya sempat bicara dengan sepupu yang kerja di BCA. Beliau sudah staf senior, jadi saya cukup terbantu dengan urusan di kantornya tadi. Dari dia saya tahu bila nanti semua karyawan bank adalah marketer. Urusan keuangan sudah pakai mesin semua. Manusianya diberdayakan untuk jadi marketer dan jualan produk perbankan. Yang hanya mau jadi teller gimana? Ya gak bisalah… Kalau gak mau switch dan nambah ilmu marketing ya nganggur aja.

Ini yang pasti terjadi di era merebaknya teknologi AI, bukan manusianya gak bisa kerja lagi karena digantikan robot melainkan manusianya harus beralih melihat peluang dan skill yang memerlukan tenaga manusia. Pekerjaan teknis yang bersifat pengulangan tidak akan lagi dilakukan manusia karena manusia bukan robot!

Manusia melakukan pekerjaan yang memang fitrahnya manusia sebagai peran konseptor, kreator, editor, pengawas, relasional / penghubung antar manusia, peneliti, investigator. Yang memilih pekerjaan jadi robot pabrikan saja sejatinya merendahkan potensi sebagai manusia.

Satu hal lagi yang pada akhirnya akan terjadi, seperti yang sepupu saya jelaskan tadi : semua adalah marketer. Semua pekerjaan masa depan memerlukan skill marketing terlebih spesifik karena di era digital, maka semua profesi yang dilakukan seharusnya dibekali dengan keterampilan digital marketing dan menguasai marketing attitude. Jadi apakah nanti semua manusia dituntut jualan? Sejak zaman kuno pun sejatinya manusia sudah dituntut bisa jualan untuk hidup, jadi personaliti atau jiwa (soul) sebagai marketing itu harus disadari ada di setiap manusia. Tinggal cari trigger untuk mengembangkannya.

Pada akhirnya skill digital marketing dan marketing attitude adalah survival skill di masa depan. Jangan khawatir karena marketing soul itu selalu ada di setiap orang. Tanpa itu saya rasa orang tersebut akan mirip dengan robot yang disingkirkan bila sudah tidak bisa di-upgrade.

Femikhirana, CDS
Digital Marketing & Ethic Strategist

Makna dari Pengkritik

Diberi komen kritikan itu satu keberkahan karena dilatih mental. Dari mental sensitif bisa jadi mental logis, sabar, ikhlas.

Sering dikasih komen pas nyanyi lagu yang beda dikit : kurang cengkok dangdutnya, kurang medhok bahasa Jawanya, belepotan pengucapan pinyinnya. Yang komen dan kritik yaaa jangankan pernah rekam suara buat nyanyi, ngomong aja fals dan gemeteran. Apakah saya yang sudah nyanyi dari batita lalu saya terima komen mereka?
Sejauh ini saya terima aja.

Tulisan dikritik. Yang mengkritik isinya teknis banget. Saya sebagai orang yang sudah pernah menerbitkan buku, menulis ribuan konten, menulis jurnal di media apakah menerima? Tetap saya terima walaupun mereka cuman penulis status dan inbox.

Konten dan konsep gambar dikomen dan dikritik? Ya terima aja walaupun di lain waktu juga saya suka ditanya-tanya tutorial cari gambar. Saya dikritik client itu ratusan kali. Sebagai profesional saya terima pasti.

Apakah saya setambeng dan sekuat itu nerima komen-komen yang kadang juga gak masuk akal dan sistem? Ya gak… Perlu latihan dan pemahaman sehingga saya bisa menerima bila kritik itu untungnya justru di saya.

Selama bertahun-tahun memperhatikan prilaku komen dan kritik yang sekarang orang (yang gak kenal kita) merasa bebas bisa memberi komen dengan alibi kebebasan berpendapat saya bisa menyimpulkan :

1. Kritik itu bentuk perhatian yang disampaikan oleh orang yang juga butuh perhatian. Rata-rata gitu. Jujur kalau saya memberi komen atau kritik ya ada unsur “mau diperhatikan pendapat saya”. Ngapain capek ngetik kalau gak diperhatikan dan dibaca? Ya gak?! Orang yang tidak punya kepentingan untuk diperhatikan ya jelas tidak menyampaikan paragraf-paragraf yang dipikirkan oleh otak dan dirasakan oleh emosi. Jadi sebagai orang yang dikritik, akhirnya saya bisa menerima : ohhh mereka butuh diperhatikan dan otak mereka waktu ngetik juga penuh perhatian ke saya. Ya syukuri aja kannn… Ada yang gak ada ujung pangkal kasih komen tanda otaknya penuh dengan diri saya, saya seketika merasa hebat dan kasihan sama yang komen kok ya mau-maunya mikirin saya hehehe…

Sehubungan dengan kritik komen sekarang saya melakukan hal ini : Saya biasanya hanya komen / kritik ke orang yang saya pahami, hormati, sayangi, kagumi. Ya karena memang saya merelakan otak saya memikirkan orang yang layak saya pikirkan. Yang cuman tau nama, EGP. Sayang otak dan jempol. Kalau bisa malah saya gak perlu tahu kalau dia ada posting atau bikin apa.

Atau saya baru rela memberi komentar atau membahas sebuah kritik bila ada indikator yang mengukur impresi tulisan saya yang secara tidak langsung bisa dikonversi jadi uang atau peluang. Kalau gak ya rugi tenaga, waktu, dan pikiran. Ogah hehe…

2. Kritik adalah salah satu bentuk luapan emosi dan pendapat yang berbeda. Alibi dengan kebebasan berpendapat tapi sebenarnya fokusnya ke kebutuhan diri sendiri . Pemberi komen atau kritik adalah mereka yang ingin memuaskan ego, kurang kerjaan, kurang sarana untuk didengar. Sebagai orang yang kena pelampiasan emosi ya dapat pahala bisa bikin orang lega menyampaikan unek-uneknya.

3. Kritik atau haters’ comment dalam insight digital marketing itu dihitung sebagai impresi view yang bisa dikonversi jadi uang. Makin banyak haters sejatinya makin banyak pundi-pundi yang masuk di Tiktokers, Youtubers dan medsos lain. Jadi antara suka gak suka dengan banyaknya komen negatif. Gak sukanya juga dihibur dengan suka karena dapat uang. Lama-lama yang dikritik kebal aja, gak usah dibaca, yang penting waktu dicek saldo nambah, peduli amat dicerca. Yang kasih komen emang baik banget kasih sumbangan. Kekurangan dijadikan peluang dan uang. Teman-teman ingat ada seleb stand up comedian yang malah transfer uang ke haters-nya, ya itu bukan sumbangan murni sukarela juga dehhh.. Dia sudah menghasilkan banyak uang dari haters, saatnya berbagi hehe..

4. Kritik ilmiah biasanya akan disampaikan oleh mereka yang ahli. Nah kalau sampai dikritik oleh ahli tentu sebuah kehormatan. Yang menyampaikan kritik bisa jadi sopan tapi bisa juga tidak sopan. Namun terlepas dari itu bila ada yang mau berbagi ilmunya tentu satu hal yang patut diterima. Jadikan hal tersebut satu pelajaran gratis yang membuat kita maju.

Bagaimana menurut teman-teman yang sudah pasti pernah di dua sisi dalam kegiatan komen dan dikomen pedas?

Bila kita merasa ingin medsos jadi sebuah kegiatan positif tentu kita menimbang untung rugi dalam mengetik dan mencurahkan pikiran. Itu yang sering jadi keluhan warganet sendiri, merasa medsos adalah sampah tapi gak sadar sampahnya juga dari dirinya sendiri. Yang dikritik justru yang mendapatkan tempat dan berkat.



Femi
Digital Behavior Observer

Soft Skill Manager Part 5 : Serabutan

Soft Skill Manager Part 5 : Kemampuan Kerja Serabutan

Setelah mengenyam masa kerja yang lama sampai sekarang makin kelihatan jelas mereka yang tidak keberatan untuk kerja serabutan itu malah yang cepat menggapai jenjang superivisi dan manajerial. Mereka yang ngotot kerja di bawah kertas yang berisi Job descriptions malah yang tidak bisa direkomendasi untuk kenaikan otoritas.

Kenyataannya memang mereka yang mau kerja serabutan (walaupun tidak tercantum dalam job descriptions) hanya beberapa saja dan hanya sanggup dilakukan oleh orang tertentu. Orang yang bagaimana tuh? Mereka pastinya punya :

  1. Keikhlasan dan kesenangan untuk mengerjakan yang random gitu.
  2. Keinginan untuk belajar banyak hal.
  3. Punya mental wirausaha karena wirausaha selalu dimulai dari kerja serabutan, semua dikerjain sendiri.

Pada akhirnya tim kerjaan serabutan ini banyak tahu ilmu, banyak tahu kasus-kasus untuk melatih pengambilan keputusan. 

Berbanding terbalik dengan mereka yang nyaman dengan :

  1. Bekerja dengan ritme yang sudah fit
  2. Kerjaannya harus jelas, melenceng dikit lebih memilih menghindar karena merasa bukan wewenangnya. 
  3. Memilih untuk tidak berkontribusi karena merasa takut dimanfaatkan dengan tidak semestinya.

Tim yang gak random ini sudah jelas bukan calon yang akan dipertimbangkan untuk di-upskill. Biarkan mereka selalu di jenjang operasional level paling bawah. Apalagi kalau pakai acara demo, kategori yang model begini jangankan terus bekerja di perusahaan itu, dia bahkan akan jadi blacklist di pabrik atau perusahaan lain. 

Kita lihat kenyataannya mereka yang di top manajerial kerjanya beneran serabutan. Dalam sehari kadang harus ke kantor A buat unggah ungguh aja, ke bank cuman buat tanda tangan, terus langsung jalan ke hotel B untuk meeting tapi ternyata di tengah perjalanan di telepon sekretarisnya kalau jadwal meeting di-reschedule. Yahhh udah OTW ke hotel B, ya sudahlah langsung lunch sambil periksa laptop, beresin dokumen, cross check quality control dengan timnya. Balik kantor dipanggil Direktur atau Owner, terus meeting lagi sampai akhirnya jam pulang. Enak kelihatannya jalan aja terus tapi kerjanya serabutan kok itu hehehe… Otak harus selalu stand by dan ingat daily routine dia untuk olahraga, makan teratur, family time dan me time untuk produktivitas dan eksistensi karya pribadi dan tidur.

Jadi gak masalah dong kerja serabutan? Bukannya jadi kelihatan gak profesional? Nah yang dilihat orang selalu jenis kerjanya yang serabutan, tapi orang lupa yang dipunyai atau dituntut sebagai top Manager adalah HAK MEMILIKI DAN MENGGUNAKAN WEWENANG ATAU OTORITAS. Hak tersebut hanya diberikan kepada mereka yang sudah banyak paham dengan situasi dan dapat menganalisisnya untuk perusahaan. Nah ilmu untuk tahu banyak itu hanya bisa dimiliki mereka yang mau dan tidak cepat stres dengan permasalahan kerjaan yang serabutan itu.

Otoritas bisa dimiliki karena sikap yang tidak menghindar dari kesulitan (Cek tulisan paragraf 3 poin 2 dan 3 adalah contoh yang sebaliknya dan tidak pernah bisa punya wewenang bahkan untuk kehidupan dirinya). Akhirnya timbul tanggung jawab tinggi dan kemampuan untuk menanggung risiko. Sikap menanggung risiko ini yang jadi cikal bakal kepercayaan untuk memimpin. Dan hanya pemimpin lah yang diberi wewenang atau otoritas. 

Jangan dikira kerjaan serabutan berarti tidak disiplin. Justru kerjaan random begini hanya bisa dilakukan oleh mereka yang mau punya dan belajar disiplin tinggi. Kalau gak disiplin bisa keteteran dan stress. Disiplin membuat mereka bisa bekerja secepatnya, tidak menunda-nunda, dan seperlunya sesuai jatah waktu yang sudah dibagi agar otak tidak kewalahan. Namun dengan sejak awalnya sudah berlatih menghadapi kasus serabutan mental disiplin, instropeksi, inovasi, refleksi akan meningkat. Tuh semua mental itu adalah keahlian yang harus sudah dimiliki para boss.

Jadi kalau kamu merasa kerja kamu random gitu, gak usah bingungggg… Semua boss boss besar di dunia memulai dengan itu dan tetap melakukannya hingga sekarang. Anda sudah di jalur yang tepat. Ingat yang jadi poin utama bukan jenis kerja serabutannya melainkan proses mendapat banyak ilmu dan kekuatan mentalnya untuk menuju tangga ke atas.

Hari Gini Gak Bisa Dapet Duit???

Hari gini sebenarnya gak ada alasan gak ada kesempatan gak bisa dapet duit.

Itu nenek-nenek mandi lumpur di Live Tiktok aja dapet penghasilan lebih dari UMR tiap bulannya 🤣
Tidur aja bisa dapet gaji lebih dari UMR juga di Live Tiktok

Itu no skill loh ya…
Cuman perlu strategi dan konsisten, jadi tuh…

Ada yang suka bilang : saya bingung saya sukanya apa, kayaknya yang saya suka gak bisa dapet duit deh…. Weleh itu karena gak tahu medianya aja. Banyak penggangguran yang akhirnya bisa kerja kreatif, bukan demi ngetop, tapi demi kebutuhan sehari-hari. Ngetop itu imbas aja.

Dulu saya juga pas SMA pernah bingung saya tuh mau ambil bidang apaaaa yaaaa buat masa depan. Sampe panas mikir akhirnya selentingan otak saya disentil dengan semua yang sudah saya baca dan imani.

Tiba-tiba saya merasa tercerahkan pas lagi jalan kaki itu, “Duh Tuhan saya kok ya bego amat, banyak pilihan bukannya disyukuri kok malah dipusingin jadi masalah yakkkk!”
Sejak saat itu apapun saya jajal, atur waktu aja, makin sibuk makin bagus karena lebih ketahuan garis hidup kita diarahkan ke mana.
Lah wong banyak di depan mata yang bisa dicoba kenapa juga dipusingin bahkan ditakuti. Cobain, salah ya ngulang. Gak cocok ya tinggal cobain lagi yang lain. Kalau gak dicobain semua ya mana kita tahu juga sih…! Kalau dilihatin terus ya dah keburu basi kesempatannya.

Multi talent itu gak akan jadi juga kalau talent-nya jadi talenan tok… Saya yakin setiap manusia itu multi skills, kita dikasih opsi, tapi banyak yang malah merasa itu masalah bukan berkat yang disyukuri.

Ya minimal seperti yang saya kasih contoh di atas itu. Tidur saja kalau kreatif ternyata menghasilkan. Gak jadi ngetop tapi lumayan buat ada uang untuk cari skill lain lagi yang bisa dikerjain.

Soft Skill Manager (Part 4)

Mempersiapkan Calon Pemimpin

Walaupun cuman sebentar tapi saya pernah kerja membawahi divisi HRD. Bukan perusahaan skala besar tapi juga gak kecil. Jadi lumayanlah pernah ngurusin data gajian, data karyawan, sampai curhat karyawan. Ini kerjaan sambilan dari Boss, karena tugas utama saya tetap Marketing Manager untuk satu produk ponsel Cina saat itu.

Curhat yang paling saya ingat ketika salah satu supervisor galau bercerita tentang salah satu karyawan yang akan ditunjuk untuk menggantikan dirinya sebagai supervisor toko.  Sementara dia akan dipromosikan menjadi Retail Manager.

“Terus masalah kamu di mana?” tanya saya

“Ya, saya merasa dia itu belum siap, Ci… Masih banyak yang kalau saya gak di sana, semua berantakan padahal saya sudah minta dia begini begitu… Apa sudahlah ya, dia gak usah jadi supervisor toko, tetap saya aja…”

“Lah ya gak bisa gitulah… Kalau dia naik jabatan kan kamu juga naik. Kalau dia gak naik jabatan kamu juga gak naik…” saya jadi bingung, dipromosiin kok malah galau hehehe…

“Daripada nanti kacau semua…” keluhnya.

“Tapi memang tugas kamu supaya kamu naik jabatan itu melatih dia punya kemampuan kayak kamu. Kan dia juga di bawah pengawasan kamu nanti. Nanti kalau dia sudah terbiasa, kamu juga sudah bisa lepasin pelan-pelan dan kamu pikirin program kamu.  Kamu siapin dia jadi pengganti yang setara dengan kamu, harus! Kalau gak karier kamu juga mandek,” saran saya.

Dia mengangguk-angguk akhirnya.

Nah keterampilan manager yang perlu dikuasai agar menjadi pemimpin yang baik adalah : mempersiapkan dan melatih bawahannya agar bisa dipromosi. Bahkan ketika kita adalah pemimpin yang sudah mentok paling atas tetap keterampilan melatih bawahan kita agar lebih berprestasi akan membantu kinerja kita sebagai pemimpin.  Ketika bisnis harus berekspansi, tenaga pemimpin di bisnis baru sudah siap dipakai.

Kalau bawahan masih harus mengandalkan manager di setiap saat dan kesempatan yang akan terjadi adalah :

  1. Kelelahan yang terjadi di top management.
  2. Prestasi semua divisi jadi mandek.  Karyawan tidak mendapatkan promosi, pemimpinnya pun stagnan di posisi yang sama terus.
  3. Kinerja lama-lama pasti turun, profit akan menyusul turun.

Nah untuk Anda yang bekerja di level operasional maklumi saja bila pemimpin Anda bisa bawel seketika, bisa teliti seketika, bisa ribet seketika, bisa nasihatin ini itu seketika, minta perhatikan ini itu seketika. Anda pasti pernah merasa :

“Ihhh kalo si boss udah gak keluar-keluar pasti deh kita diutak-atik terus…” Lah ya memang pas ada waktu itulah saat manager dapat memeriksa apa potensi yang bisa dikembangkan bawahannya dan mana yang masih harus dikoreksi agar lebih berpotensi. Itu memang ceritanya lagi menurunkan ilmu. Setiap karyawan kan dinilai / dievaluasi berdasarkan indikator tertentu, jadi kalau semakin membaik kinerja indikator kita, berarti akan makin terbuka kesempatan untuk promosi.  

Digital Behavior 2023

Digital Behavior 2023 (2)
Karakteristik pengguna yang koplak di berbagai medsos.

Seleksi pertemanan di FB
Paling gampang lihat kelakuan user FB yang layak jadi friend atau tidak. Usia kebanyakan di atas 30, di saat banyak yang ngerasa udah perlu tempat untuk pelampiasan pendapat tanpa merasa malu bahkan gak masalah kalau mempermalukan diri. Orang koplak rata-rata modelnya gini di FB :

1. Ngomongin orang statusnya ribet, tapi status dia lebih ribet. Laper kehujanan sendiri sambil marah-marah dan doa pada Tuhan di status saja nulis bisa dua paragraf, minimal 400 karakter kayaknya.

2. Ngomongin profile picture orang gak jelas, tapi gak nyadar profile picture-nya sendiri juga bukan fotonya sendiri.

3. Komennya membosankan dan nanya sesuatu yang gak nyambung karena dijawab juga ujungnya pembelaan diri.

Yang gini ya auto unfollow aja. Perlu waktu 100 tahun untuk jadi customer karena pola pikirnya maju selangkah mundur 100 langkah.

Dengan kata lain : orang yang tidak konsisten di FB bukan calon teman yang pas di FB. Dan cari yang inkonsisten paling gampang emang di FB karena user-nya merasa bebas nulis tanpa mikirin efek samping hehe…

Seleksi pertemanan di IG :
1. Kalau gak kenal, akun private, auto blokir. Jangan coba-coba dibiarin. Pantau follower tiap hari bukan setahun sekali. Ada yang men-curigation langsung blokir. Kalau tidak blokir dampaknya mereka akan follow teman-teman kita dan nanti takutnya sasarannya adalah teman kita juga.

2. Kalau tidak kenal, akun dibuka, gak ada posting, gak usah folback. Tak perlu sampai berbaik hati folback segala.

3. Lihat status di-like sama akun IG bule tak dikenal, apalagi cewek2 yang langsung kelihatan semua onderdilnya, auto blokir aja. Kalo gak diblokir ntar algoritmanya ngalir banyak dilihat orang model begituan juga hehehe…

Seleksi pertemanan di TikTok :
Nah ini yang agak fenomenal. Di Tiktok yang terlihat liar ternyata di-follow gak bikin parno. Sampai sekarang belum pernah lihat akun open BO di Tiktok yang ganggu-ganggu. Di IG malah banyakkkk… Jadi so far selama akun dilindungi two factor authentication dan tidak diganggu inbox yang macam-macam ya nyantai aja. Paling banyak sih orang inbox invite untuk nonton live. Tapi bisa diabaikan karena yaaa namanya juga mereka usaha, kita gak mau nonton ya cuekin aja. Walaupun dari segi konten Tiktok banyak yang suka koplak tapi untuk dapat follower di Tiktok paling aman dari gangguan.

Seleksi pertemanan di Linked In :
Sejak diambil alih Microsoft, Linked jadi kayak pasar beneran. Awalnya pasar tenaga kerja, lama-lama banyak orang koplak juga masuk yang merusak dunia pasaran.

Hati-hati di aplikasi profesional, tukang tipunya beneran jauh lebih profesional loh! Yang propaganda pun tak maen-maen.

Seleksinya mirip dengan FB, mudah!
Selama orang yang posting tidak konsisten, ya tidak perlu follow atau connected. Banyak yang tidak konsisten, misalnya :
1. Posting yang profesional di jendelanya tapi komen di postingan profil yang fotonya menarik dengan kalimat menjurus flirting.
2. Posting profesional bercampur dengan posting agama, politik, plus hoax. (Banyak yang gini)

Satu lagi nih… Jangan berharap dapat banyak connection terus bisa dapat kerjaan dari yang rajin posting. Rajin posting itu indikasinya mereka juga banyak waktu luang, nganggur, nyari komunitas, jadi ngarepin mereka bisa do something to your account itu keajaiban.

Beberapa orang yang contact saya bahas kerjaan cenderung kebanyakan yang jarang komen cari relasi. Jadi ngeliat mereka yang suka komen ngarep di seleb Linked itu aslinya bikin geleng-geleng kaki eh kepala.

KESIMPULAN :
PENGEN JADI TEMAN BERKUALITAS, perbaiki prilaku digital jangan sampai kayak di atas itu. Dijamin kalo gak nyebelin, berkah melimpah di dunia. Dijamin! Gak berlaku buat yang nyari berkah melimpah di akhirat tapi di dunia asli dan maya dia reseh…

Soft Skill Manager (Part 2)

Part 1 di SINI

Ini awal didikan dari boss saya ketika saya baru saja diangkat jadi manager. Saat itu saya diminta untuk membuat meeting bersama para dealer yang akan mendukung program kerja divisi saya. Akhirnya saya dan boss saya sudah menentukan tempat dan tanggal, tinggal telepon dealer-nya untuk datang.

Karena saya masih belum terlalu banyak kenal dengan dealer yang ada, boss saya minta rekan manager lainnya untuk bantu telepon dealer bawaan mereka masing-masing agar datang ke meeting yang saya buat. Lalu saya tinggal tanya saja ke manager lain siapa saja yang bakal hadir.

Kelihatannya gampang. Tapi ketika saya minta tolong dengan instruksi dari Boss, rekan manager lain banyak yang merespons negatif dan pesimis :
“Hmmm susah loh, Fem. Mereka sibuk jam segitu, belum tentu mau datenglah!”
“Emang mau ngomong apa sih? Kan bisa pake telepon atau kita yang sampein?”
Banyaklah kalimat-kalimat yang intinya para dealer tidak akan hadir ke meeting saya. Padahal Boss saya juga bakal hadir.

Berbagai alasan dari para manager senior tentang dealer yang sibuk atau belum tentu mau datang saya sampaikan ke Boss. Siapa tahu kita bisa buat cara yang lebih pas untuk para dealer agar bisa paham proyek kerja saya. Tapi Boss saya geleng-geleng kepala aja, menolak usulan cara lain, jadi harus meeting biar semua jelas dan kelar dalam hari itu, langsung proyek bisa dimulai.

“Kamu jangan dengerin orang laen, Fem. Udah kamu telepon mereka sendiri aja kalau gitu… Kamu aja yang ngomong sekalian kenalan. Pasti dateng deh!”

“Mereka ngomong dealer gak bakal dateng itu pendapat mereka, bukan dealer-nya! Cari gampangnya aja biar gak ribet bujuk-bujuk dateng. Mereka fokus sama kerjaan mereka sendiri. Jadi kamu telepon aja sendiri.”

Akhirnya saya telepon sendiri semua dealer yang mau diundang. Ya dari kenalan sambil mengundang dan memberi kisi-kisi materi meeting. Anehnya semua responsnya positif dan semua bilang bakal dateng. Weh??!! Bener juga si Boss bilang…

Meeting berjalan sangat menyenangkan, sukses, semua setuju presentasi saya. Waktu mau pulang, Boss saya kembali lagi ngomong ke saya :
“Tuh kan, Fem! Pada dateng kan… Kamu jangan dengerin yang lain. Beda kerjaan, beda kepentingan, beda orang, respons beda. Aku tuh yakin mereka mau dateng. Kalo ada yang negatif kamu jangan langsung terima, harus verifikasi dan buktiin sendiri apa emang kayak gitu kondisinya…”

Sejak itu saya yang aslinya udah PeDe jadi tambah yakin bila yang dibutuhkan seorang pemimpin itu :
* Pede, yakin dengan program kerja yang sudah dibuat dengan rapih walaupun banyak yang sangsi bakal gagal.
* Buktikan bila pendapat orang negatif kebanyakan itu salah dengan cara membuat strategi yang benar-benar kuat dari perencanaan sehingga kita dapat mengantisipasi semua bentuk pertanyaan yang kesannya mencari kelemahan.
* Ketulusan dan integritas personality itu penting dalam mengajak / menyajikan gagasan. Jujur waktu saya telepon, saya ini bukan siapa-siapa, skill jualan pun saya masih belum banyak tahu, saya sudah harus pegang divisi retail. Tapi yang membuat semua dealer pada akhirnya jadi partner dan teman saya ya ketulusan dan kepribadian.

PHK Massal = Kesempatan Jadi Boss

PHK Massal = Kesempatan Jadi Boss

Tindakan PHK massal start up terkenal GoTo dan Ruang Guru makin menunjukkan perusahaan itu akan efisien bila menggunakan sistem project terhadap skillful employee tapi tugasnya selesai saat perusahaan sudah berjalan baik. Ketika perusahaan sudah bisa berjalan dengan sistem, maka calon yang diberhentikan dulu adalah Programmer, Designer, dan tim yang berhubungan dengan database. Yang dipertahankan justru kebanyakan adalah tenaga operator yang bisa multitasking. Maintenance sistem yang berkala tidak perlu lagi ratusan perancang dan pembuat program.

Ngenes? Punya skill tinggi tapi dipecat juga.
Hmmm bagi yang memikirkan kenyamanan gaji bulanan mungkin merasa jadi programmer kok digituin banget. Tapi kalau buat saya yang lebih banyak self employ, memang wajar kok kalau pekerjaan yang berkenaan dengan perancangan software itu bersifat kontrak atau base on project. Gak perlu merasa masa depan gak stabil. Justru aneh kalau pola pikir programmer begitu. Sejatinya di kerjaan kreatif atau perancang konsep software akan lebih menghasilkan bila dilakukan perhitungan project. Programmer bisa kerja dengan banyak project dalam satu waktu atau kalau dia hanya mengerjakan satu project dalam satu waktu lalu setelah itu selesai dia harus cabut ya dia sudah punya portofolio yang lebih keren dan habis itu dia bisa dapat project baru yang lebih besar fee-nya daripada jadi orang gajian standar yang naiknya lama.

Jadi sebenarnya sejak awal raksasa Start Up ini yang justru seharusnya gak perlu pakek gaya-gaya rekrutmen besar-besaran, bikin kantor kayak mall biar karyawan betah. Memang sihhh keren tapi itu juga pemborosan aslinya. Uang fix cost fasilitas mall di kantor itu kalau ujung-ujungnya malah bikin cashflow mandek dan ratusan karyawan tidak dibayar gaji ya mendingan gak perlu itu fasilitas main Virtual Reality game di kantor, duitnya bisa untuk nafas panjang.

Anehnya lagi walaupun ratusan pengangguran baru hadir tapi selalu saja tak kurang lowongan kerja bertaburan. Artinya perusahaan juga tetap ada yang susahhh banget dapat karyawan yang mau tetap. Lucu juga, di satu sisi banyak karyawan pengen jadi karyawan tetap, tapi di perusahaan menengah dan kecil mau cari karyawan tetap tuh susah benerrrrr… Kalau kurang lahan pekerjaan sudah pasti web loker gak laku. Kenyataannya selalu laku.

Jadi sadari saja kemungkinan untuk jadi karyawan di perusahaan besar dan gaji bagus itu memang tidak mudah. Kalau ngotot tidak mau turunkan standar masuk perusahaan skala menengah ya alamat keluarga bisa telantar. Jadi gimana baiknya?
Nah welcome to disruptive world yang aslinya gak membatasi kita mau cari uang dari mana saja atau bidang apa saja selama ada peluang. Beberapa materi konten Tiktok saya selalu bahas kita ini bisa bekerja resmi untuk standar kebutuhan tapi tentu mau lebih, nah lebihnya cari sendirilah. Ada dunia tambahan selain dunia yang biasa kita hadapi, untuk cari uang tambahan. Ini sudah style era transformasi digital, multiverse, multi position, multi jobs, multi income juga dong jadinya. Ingat KEBUTUHAN KITA ITU BUKAN TANGGUNG JAWAB OWNER PERUSAHAAN TEMPAT KITA BEKERJA. Jadi percuma di era sekarang nyari terus kerjaan tetap bergaji besar dan stabil tapi malah gak dapat-dapat kerjaan model gitu. Mending ikuti style yang bisa lebih menguntungkan kalau dijalanin dengan tekun yaitu : yang penting dapat kerja semaksimal yang dulu, yang penting dapat duit dulu deh dan minimal ga kelaperan.. Nah kalau gak kelaparan bisa tuh otak diajak mikir akhirnya : kerjain apa lagi yaaa buat nambah kerjaan tetap. Cari banyak referensi profesi yang bisa dilakukan sambilan di kantor tapi gak ganggu kerjaan utama juga. Ini sudah akan jadi lumrah ke depannya.

Menyiksa bagi yang suka kemapanan? Ingat ajalah kalo kurang duit tetap aja gak mapan. Kemapanan itu tetap level yang pasti tercapai kok, tapi ya harus terima dulu kondisi era sekarang ya kemapanan malah bisa diraih dari banyak tempat, bukan satu tempat. Tiap orang sekarang kalau mau mapan bukan hanya punya jiwa loyal dengan perusahaan tapi juga punya jiwa entrepreneurship untuk jadi pemimpin bagi diri sendiri. Jadi karyawan sekaligus jadi boss, apa salahnya? Yang sudah di-PHK ini dikasih pesangon yang amat sangat lumayan loh.. Jadi kalau mau coba jadi boss bisa, sudah ada modal dikit… Ya tentu harus punya strategi, nah ini yang harus dipelajari. Makanya jiwa entrepreneurship itu penting dilatih bahkan ketika jadi karyawan pun tetap harus punya mental entrepreneurship. Karena pas kepepet penghasilan kurang, sudah bisa beralih jadi Boss. Keren kan kepepet malah jadi Boss 👍