Diberi komen kritikan itu satu keberkahan karena dilatih mental. Dari mental sensitif bisa jadi mental logis, sabar, ikhlas.
Sering dikasih komen pas nyanyi lagu yang beda dikit : kurang cengkok dangdutnya, kurang medhok bahasa Jawanya, belepotan pengucapan pinyinnya. Yang komen dan kritik yaaa jangankan pernah rekam suara buat nyanyi, ngomong aja fals dan gemeteran. Apakah saya yang sudah nyanyi dari batita lalu saya terima komen mereka?
Sejauh ini saya terima aja.
Tulisan dikritik. Yang mengkritik isinya teknis banget. Saya sebagai orang yang sudah pernah menerbitkan buku, menulis ribuan konten, menulis jurnal di media apakah menerima? Tetap saya terima walaupun mereka cuman penulis status dan inbox.
Konten dan konsep gambar dikomen dan dikritik? Ya terima aja walaupun di lain waktu juga saya suka ditanya-tanya tutorial cari gambar. Saya dikritik client itu ratusan kali. Sebagai profesional saya terima pasti.
Apakah saya setambeng dan sekuat itu nerima komen-komen yang kadang juga gak masuk akal dan sistem? Ya gak… Perlu latihan dan pemahaman sehingga saya bisa menerima bila kritik itu untungnya justru di saya.
Selama bertahun-tahun memperhatikan prilaku komen dan kritik yang sekarang orang (yang gak kenal kita) merasa bebas bisa memberi komen dengan alibi kebebasan berpendapat saya bisa menyimpulkan :
1. Kritik itu bentuk perhatian yang disampaikan oleh orang yang juga butuh perhatian. Rata-rata gitu. Jujur kalau saya memberi komen atau kritik ya ada unsur “mau diperhatikan pendapat saya”. Ngapain capek ngetik kalau gak diperhatikan dan dibaca? Ya gak?! Orang yang tidak punya kepentingan untuk diperhatikan ya jelas tidak menyampaikan paragraf-paragraf yang dipikirkan oleh otak dan dirasakan oleh emosi. Jadi sebagai orang yang dikritik, akhirnya saya bisa menerima : ohhh mereka butuh diperhatikan dan otak mereka waktu ngetik juga penuh perhatian ke saya. Ya syukuri aja kannn… Ada yang gak ada ujung pangkal kasih komen tanda otaknya penuh dengan diri saya, saya seketika merasa hebat dan kasihan sama yang komen kok ya mau-maunya mikirin saya hehehe…
Sehubungan dengan kritik komen sekarang saya melakukan hal ini : Saya biasanya hanya komen / kritik ke orang yang saya pahami, hormati, sayangi, kagumi. Ya karena memang saya merelakan otak saya memikirkan orang yang layak saya pikirkan. Yang cuman tau nama, EGP. Sayang otak dan jempol. Kalau bisa malah saya gak perlu tahu kalau dia ada posting atau bikin apa.
Atau saya baru rela memberi komentar atau membahas sebuah kritik bila ada indikator yang mengukur impresi tulisan saya yang secara tidak langsung bisa dikonversi jadi uang atau peluang. Kalau gak ya rugi tenaga, waktu, dan pikiran. Ogah hehe…
2. Kritik adalah salah satu bentuk luapan emosi dan pendapat yang berbeda. Alibi dengan kebebasan berpendapat tapi sebenarnya fokusnya ke kebutuhan diri sendiri . Pemberi komen atau kritik adalah mereka yang ingin memuaskan ego, kurang kerjaan, kurang sarana untuk didengar. Sebagai orang yang kena pelampiasan emosi ya dapat pahala bisa bikin orang lega menyampaikan unek-uneknya.
3. Kritik atau haters’ comment dalam insight digital marketing itu dihitung sebagai impresi view yang bisa dikonversi jadi uang. Makin banyak haters sejatinya makin banyak pundi-pundi yang masuk di Tiktokers, Youtubers dan medsos lain. Jadi antara suka gak suka dengan banyaknya komen negatif. Gak sukanya juga dihibur dengan suka karena dapat uang. Lama-lama yang dikritik kebal aja, gak usah dibaca, yang penting waktu dicek saldo nambah, peduli amat dicerca. Yang kasih komen emang baik banget kasih sumbangan. Kekurangan dijadikan peluang dan uang. Teman-teman ingat ada seleb stand up comedian yang malah transfer uang ke haters-nya, ya itu bukan sumbangan murni sukarela juga dehhh.. Dia sudah menghasilkan banyak uang dari haters, saatnya berbagi hehe..
4. Kritik ilmiah biasanya akan disampaikan oleh mereka yang ahli. Nah kalau sampai dikritik oleh ahli tentu sebuah kehormatan. Yang menyampaikan kritik bisa jadi sopan tapi bisa juga tidak sopan. Namun terlepas dari itu bila ada yang mau berbagi ilmunya tentu satu hal yang patut diterima. Jadikan hal tersebut satu pelajaran gratis yang membuat kita maju.
Bagaimana menurut teman-teman yang sudah pasti pernah di dua sisi dalam kegiatan komen dan dikomen pedas?
Bila kita merasa ingin medsos jadi sebuah kegiatan positif tentu kita menimbang untung rugi dalam mengetik dan mencurahkan pikiran. Itu yang sering jadi keluhan warganet sendiri, merasa medsos adalah sampah tapi gak sadar sampahnya juga dari dirinya sendiri. Yang dikritik justru yang mendapatkan tempat dan berkat.

Femi
Digital Behavior Observer


