Orang Miskin, Orang Kaya, dan Tao Ming Shi

Bagi kebanyakan orang miskin yang gak mau nasib berubah dan playing victim, kekayaan atau menjadi orang kaya itu cenderung adalah kejahatan.
Bingung kenapa orang kaya itu gak pernah susah, pasti yang dikerjain jahat-jahat…

Padahal orang kaya selalu akan kaya karena mentalnya. Orang kaya itu bukan berarti gak pernah kesusahan duit, tapi ketika kesusahanpun dia bermental kaya jadi ya akhirnya dia kaya lagi, makanya gak pernah terlihat susah. Mental kaya tuh apa? Susah-susah gampang jelasinnya tapi itu memang mindset orang orang kaya berpikir high self bukan egosentris. Mikirnya ya kalau lagi susah, ada masalah jalanin aja, terima keadaan dan berusaha lagi dengan rajin dan mental baja, ehhh bisa balik kaya lagi beneran kok… Kalau pas susah malah menyalahkan keadaan dan tidak terima diperlakukan semesta karena egonya yang marah sudah direndahkan dan berontak protes saja ya sampai kapanpun gak akan kaya itu.

Nah bagi orang kaya, kemiskinan itu nyaris sulit didefinisikan. Kadang dia bisa ngerasa makan nasi goreng aja udah miskin jadi dia berusaha untuk bisa lebih rajin supaya lain kali bisa makan fine dining food di resto mahal. Kadang dia merasa makan nasi goreng aja juga kemiskinan yang disyukuri karena masih banyak yang mau makan nasi goreng aja susah. So bukan mengkriminalisasikan kemiskinan tapi jadi motivasi makanya hasilnya gak miskin-miskin, lah manifestasinya selalu hardwork soalnya jadi lama-lama pun berhasil.

Tapi kalau bagi orang kaya macam Tao Ming Shi di Meteor Garden beda lagi sih… Orang ini hanya bikin orang miskin jadi halu berkepanjangan. Bagi Tao Ming Shi : Aku benci orang miskin, mau diajak ngapa-ngapain susah. Diajak senang gak bisa, diajak main gak mau, ya udah gua pacarin aja… #eh…

Balas Dendam Terbaik

Selesai nonton The Glory kemarin.
Udah gak bisa sehari nonton 2 episode euy…
Maksimum 1.5 episode, beneran nanggung, mata dah protes. Ya tiap nonton udah jam 11 malem.

Masih on going yang Taxi Driver. Untung ini on going 2 episode per minggu.

Dua drama itu drama balas dendam.
Sama-sama ceritanya enak diikuti.
Alur gak lelet. Rapih. Seru. Penasaran. Terus habis nonton lega.

Intinya ngajarin kalau mau balas dendam boleh-boleh aja.. ASAL…..

1. Emang yang dibalas pantas menerima akibat perbuatannya.

2. Itu otak harus pintar untuk cari cara biar rencana lancar. Jadi balas dendam tidak berlaku bagi mereka yang lemotttttt… Jangan coba-coba kalau otak tak mampu hehehe…

3. Harus beneran niat bulat, besar tekad, kuat mental, gak boleh baper, gak boleh gampang menyerah.

4. Kerjainnya jangan sendirian! Bundir itu namanya kalo balas dendam pakai usaha sendiri. Cari tim, kerjasama. Saling support, saling berbagi tugas dan memperhatikan. Gak ada balas dendam bisa berhasil kalau dilakukan sendiri.

5. Ini harus ada, kalau gak ada point 1-3 gak bisa terlaksana juga : PUNYA DUIT ! 😂😂😂
Tapi punya duit itu identik dengan kombinasi no. 2 dan no. 3. Ketika otak dilatih tidak lemot plus tekad kuat, duit ngalir untuk jadi modal membuat pergerakan.

Dan ada satu lagi yang harus disadari ketika menyusun lima syarat tadi. Yaitu sebenarnya dirinya yang adalah korban, sudah berhasil kok dalam membalas dendam, karena selalu berproses membalikkan keadaan dari yang dianggap terlemah menjadi yang terkuat.

Proses menjadi yang terkuat itulah justru yang menurut para filsuf adalah inti balas dendam yang terbaik karena fokus pada memperkuat internal diri dan kebahagiaan diri. Membuktikan bila dirinya masih bisa hidup penuh kualitas membalikkan keadaan adalah pukulan telak bagi mereka yang pernah menyakiti dirinya.

Jadi pelajarannya di dua drama itu adalah jangan melakukan pembalasan yang membabi buta yang malah berefek menyimpan sakit hati melainkan gunakan rasa sakit itu menjadi senjata untuk menuju pendewasaan pribadi dan kecerdasan otak plus finansial. Hidup yang berkualitas itu justru akan lebih membawa rasa sakit dan malu yang tajam kepada mereka yang pernah menyakiti.

Saya ingat salah satu quote di drama Crash Landing on You : Aku sedang balas dendam. Menjadi bahagia adalah balas dendam terbaik. Becoming happy is the best revenge.

Kalau di kitab suci dikatakan balas dendam adalah urusan Tuhan ya itu kan yang bagian Tuhan. Yang bagian manusia adalah balas dendamlah dengan menyembuhkan diri dan sah-sah saja untuk menunjukkan kepada para kriminal bila kita bukan sosok yang menyerah dengan hidup dan bisa membalikkan keadaan sesuai dengan hukum semesta dan hukum negara yang berlaku.

So be smart, strategic wisely, and rich! Itu sudah 90% true and best revenge, 10%nya strategi untuk melemahkan lawan. Maka lawan akan auto menerima hukumannya dari semesta yang memang urusan Tuhan.

Makna dari Pengkritik

Diberi komen kritikan itu satu keberkahan karena dilatih mental. Dari mental sensitif bisa jadi mental logis, sabar, ikhlas.

Sering dikasih komen pas nyanyi lagu yang beda dikit : kurang cengkok dangdutnya, kurang medhok bahasa Jawanya, belepotan pengucapan pinyinnya. Yang komen dan kritik yaaa jangankan pernah rekam suara buat nyanyi, ngomong aja fals dan gemeteran. Apakah saya yang sudah nyanyi dari batita lalu saya terima komen mereka?
Sejauh ini saya terima aja.

Tulisan dikritik. Yang mengkritik isinya teknis banget. Saya sebagai orang yang sudah pernah menerbitkan buku, menulis ribuan konten, menulis jurnal di media apakah menerima? Tetap saya terima walaupun mereka cuman penulis status dan inbox.

Konten dan konsep gambar dikomen dan dikritik? Ya terima aja walaupun di lain waktu juga saya suka ditanya-tanya tutorial cari gambar. Saya dikritik client itu ratusan kali. Sebagai profesional saya terima pasti.

Apakah saya setambeng dan sekuat itu nerima komen-komen yang kadang juga gak masuk akal dan sistem? Ya gak… Perlu latihan dan pemahaman sehingga saya bisa menerima bila kritik itu untungnya justru di saya.

Selama bertahun-tahun memperhatikan prilaku komen dan kritik yang sekarang orang (yang gak kenal kita) merasa bebas bisa memberi komen dengan alibi kebebasan berpendapat saya bisa menyimpulkan :

1. Kritik itu bentuk perhatian yang disampaikan oleh orang yang juga butuh perhatian. Rata-rata gitu. Jujur kalau saya memberi komen atau kritik ya ada unsur “mau diperhatikan pendapat saya”. Ngapain capek ngetik kalau gak diperhatikan dan dibaca? Ya gak?! Orang yang tidak punya kepentingan untuk diperhatikan ya jelas tidak menyampaikan paragraf-paragraf yang dipikirkan oleh otak dan dirasakan oleh emosi. Jadi sebagai orang yang dikritik, akhirnya saya bisa menerima : ohhh mereka butuh diperhatikan dan otak mereka waktu ngetik juga penuh perhatian ke saya. Ya syukuri aja kannn… Ada yang gak ada ujung pangkal kasih komen tanda otaknya penuh dengan diri saya, saya seketika merasa hebat dan kasihan sama yang komen kok ya mau-maunya mikirin saya hehehe…

Sehubungan dengan kritik komen sekarang saya melakukan hal ini : Saya biasanya hanya komen / kritik ke orang yang saya pahami, hormati, sayangi, kagumi. Ya karena memang saya merelakan otak saya memikirkan orang yang layak saya pikirkan. Yang cuman tau nama, EGP. Sayang otak dan jempol. Kalau bisa malah saya gak perlu tahu kalau dia ada posting atau bikin apa.

Atau saya baru rela memberi komentar atau membahas sebuah kritik bila ada indikator yang mengukur impresi tulisan saya yang secara tidak langsung bisa dikonversi jadi uang atau peluang. Kalau gak ya rugi tenaga, waktu, dan pikiran. Ogah hehe…

2. Kritik adalah salah satu bentuk luapan emosi dan pendapat yang berbeda. Alibi dengan kebebasan berpendapat tapi sebenarnya fokusnya ke kebutuhan diri sendiri . Pemberi komen atau kritik adalah mereka yang ingin memuaskan ego, kurang kerjaan, kurang sarana untuk didengar. Sebagai orang yang kena pelampiasan emosi ya dapat pahala bisa bikin orang lega menyampaikan unek-uneknya.

3. Kritik atau haters’ comment dalam insight digital marketing itu dihitung sebagai impresi view yang bisa dikonversi jadi uang. Makin banyak haters sejatinya makin banyak pundi-pundi yang masuk di Tiktokers, Youtubers dan medsos lain. Jadi antara suka gak suka dengan banyaknya komen negatif. Gak sukanya juga dihibur dengan suka karena dapat uang. Lama-lama yang dikritik kebal aja, gak usah dibaca, yang penting waktu dicek saldo nambah, peduli amat dicerca. Yang kasih komen emang baik banget kasih sumbangan. Kekurangan dijadikan peluang dan uang. Teman-teman ingat ada seleb stand up comedian yang malah transfer uang ke haters-nya, ya itu bukan sumbangan murni sukarela juga dehhh.. Dia sudah menghasilkan banyak uang dari haters, saatnya berbagi hehe..

4. Kritik ilmiah biasanya akan disampaikan oleh mereka yang ahli. Nah kalau sampai dikritik oleh ahli tentu sebuah kehormatan. Yang menyampaikan kritik bisa jadi sopan tapi bisa juga tidak sopan. Namun terlepas dari itu bila ada yang mau berbagi ilmunya tentu satu hal yang patut diterima. Jadikan hal tersebut satu pelajaran gratis yang membuat kita maju.

Bagaimana menurut teman-teman yang sudah pasti pernah di dua sisi dalam kegiatan komen dan dikomen pedas?

Bila kita merasa ingin medsos jadi sebuah kegiatan positif tentu kita menimbang untung rugi dalam mengetik dan mencurahkan pikiran. Itu yang sering jadi keluhan warganet sendiri, merasa medsos adalah sampah tapi gak sadar sampahnya juga dari dirinya sendiri. Yang dikritik justru yang mendapatkan tempat dan berkat.



Femi
Digital Behavior Observer

Soft Skill Manager Part 5 : Serabutan

Soft Skill Manager Part 5 : Kemampuan Kerja Serabutan

Setelah mengenyam masa kerja yang lama sampai sekarang makin kelihatan jelas mereka yang tidak keberatan untuk kerja serabutan itu malah yang cepat menggapai jenjang superivisi dan manajerial. Mereka yang ngotot kerja di bawah kertas yang berisi Job descriptions malah yang tidak bisa direkomendasi untuk kenaikan otoritas.

Kenyataannya memang mereka yang mau kerja serabutan (walaupun tidak tercantum dalam job descriptions) hanya beberapa saja dan hanya sanggup dilakukan oleh orang tertentu. Orang yang bagaimana tuh? Mereka pastinya punya :

  1. Keikhlasan dan kesenangan untuk mengerjakan yang random gitu.
  2. Keinginan untuk belajar banyak hal.
  3. Punya mental wirausaha karena wirausaha selalu dimulai dari kerja serabutan, semua dikerjain sendiri.

Pada akhirnya tim kerjaan serabutan ini banyak tahu ilmu, banyak tahu kasus-kasus untuk melatih pengambilan keputusan. 

Berbanding terbalik dengan mereka yang nyaman dengan :

  1. Bekerja dengan ritme yang sudah fit
  2. Kerjaannya harus jelas, melenceng dikit lebih memilih menghindar karena merasa bukan wewenangnya. 
  3. Memilih untuk tidak berkontribusi karena merasa takut dimanfaatkan dengan tidak semestinya.

Tim yang gak random ini sudah jelas bukan calon yang akan dipertimbangkan untuk di-upskill. Biarkan mereka selalu di jenjang operasional level paling bawah. Apalagi kalau pakai acara demo, kategori yang model begini jangankan terus bekerja di perusahaan itu, dia bahkan akan jadi blacklist di pabrik atau perusahaan lain. 

Kita lihat kenyataannya mereka yang di top manajerial kerjanya beneran serabutan. Dalam sehari kadang harus ke kantor A buat unggah ungguh aja, ke bank cuman buat tanda tangan, terus langsung jalan ke hotel B untuk meeting tapi ternyata di tengah perjalanan di telepon sekretarisnya kalau jadwal meeting di-reschedule. Yahhh udah OTW ke hotel B, ya sudahlah langsung lunch sambil periksa laptop, beresin dokumen, cross check quality control dengan timnya. Balik kantor dipanggil Direktur atau Owner, terus meeting lagi sampai akhirnya jam pulang. Enak kelihatannya jalan aja terus tapi kerjanya serabutan kok itu hehehe… Otak harus selalu stand by dan ingat daily routine dia untuk olahraga, makan teratur, family time dan me time untuk produktivitas dan eksistensi karya pribadi dan tidur.

Jadi gak masalah dong kerja serabutan? Bukannya jadi kelihatan gak profesional? Nah yang dilihat orang selalu jenis kerjanya yang serabutan, tapi orang lupa yang dipunyai atau dituntut sebagai top Manager adalah HAK MEMILIKI DAN MENGGUNAKAN WEWENANG ATAU OTORITAS. Hak tersebut hanya diberikan kepada mereka yang sudah banyak paham dengan situasi dan dapat menganalisisnya untuk perusahaan. Nah ilmu untuk tahu banyak itu hanya bisa dimiliki mereka yang mau dan tidak cepat stres dengan permasalahan kerjaan yang serabutan itu.

Otoritas bisa dimiliki karena sikap yang tidak menghindar dari kesulitan (Cek tulisan paragraf 3 poin 2 dan 3 adalah contoh yang sebaliknya dan tidak pernah bisa punya wewenang bahkan untuk kehidupan dirinya). Akhirnya timbul tanggung jawab tinggi dan kemampuan untuk menanggung risiko. Sikap menanggung risiko ini yang jadi cikal bakal kepercayaan untuk memimpin. Dan hanya pemimpin lah yang diberi wewenang atau otoritas. 

Jangan dikira kerjaan serabutan berarti tidak disiplin. Justru kerjaan random begini hanya bisa dilakukan oleh mereka yang mau punya dan belajar disiplin tinggi. Kalau gak disiplin bisa keteteran dan stress. Disiplin membuat mereka bisa bekerja secepatnya, tidak menunda-nunda, dan seperlunya sesuai jatah waktu yang sudah dibagi agar otak tidak kewalahan. Namun dengan sejak awalnya sudah berlatih menghadapi kasus serabutan mental disiplin, instropeksi, inovasi, refleksi akan meningkat. Tuh semua mental itu adalah keahlian yang harus sudah dimiliki para boss.

Jadi kalau kamu merasa kerja kamu random gitu, gak usah bingungggg… Semua boss boss besar di dunia memulai dengan itu dan tetap melakukannya hingga sekarang. Anda sudah di jalur yang tepat. Ingat yang jadi poin utama bukan jenis kerja serabutannya melainkan proses mendapat banyak ilmu dan kekuatan mentalnya untuk menuju tangga ke atas.

Soft Skill Manager (Part 3)

Soft Skill Manager (Part 3)
Berimajinasilah!

Ketika lagi ngalor ngidul di chat dengan seorang teman saya yang dulu adalah Finance Accounting Manager dia cerita kalau dia lagi sambil mikir-mikir.
“Mikirin apa?” tanya saya.
“Mikirin ide, sistem, konsep, rumus untuk kelola keuangan biar lebih efektif, efisien. Kalau sudah gini jadi agak harus mengkhayal-khayal gitu kan??”
“Emang…” timpal saya.

Saya gak terlalu bisa membayangkan kalau mengkhayal untuk konsep keuangan tuh gimana tapi yang jelas kalau di divisi keuangan saja para manager harus menggunakan pikiran out of the box kepentingan efisiensi, apalagi divisi Marketing seperti kerjaan saya hehehe… Bukan mengkhayal lagi kayaknya tapi rada menjurus ke halu hehehe…

Tentu yang dipikirkan oleh para pemimpin bukan khayalan atau halu yang tidak bisa diwujudkan. Khayalan yang bisa dibuat strateginya sehingga tujuan atau mimpi terwujud. Khayalan yang bisa dibuat sistemnya sehingga apa yang kita inginkan bisa tercapai.

Contoh konkretnya : bila kita mau efisiensi biaya transportasi, maka para manager harus memeriksa semua komponen biaya yang bisa diefisiensikan. Kemudian ia mengumpulkan semua informasi tentang sistem transportasi kota/negara yang ada saat ini bahkan kalau perlu rute-rute jalanan pun dia harus cari informasinya. Setelah itu diperiksa opsi-opsi apa yang bisa digunakan agar biaya bisa dikurangi. Namun, si manager pun bisa berimajinasi, seandainya di kantor punya mobil inventaris untuk antar jemput kira-kira gimana ya perhitungannya. Lalu mulailah ia mencari informasi semua kemungkinan investasi yang bagus untuk mobil perusahaan. Dia hitung biaya penyusutannya, semua komponen biaya yang bakal terjadi bila mobil tersebut ada. Ternyata kalau punya mobil antar jemput sendiri, biaya transportasi karyawan bisa dihemat sebesar 30%. Tapi kan mobil gak ada… Jadi hanya diimajinasikan semua seolah-olah nyata dan bila diwujudkan maka kurang lebih tujuan perusahaan akan tercapai.

Kerjaan manager memang yang diandalkan adalah pikirannya. Jadi jangan berkesimpulan :
“Atasan saya mah gak ngapa-ngapain tuh…! Kita yang setengah mati di pabrik. Dia mah duduk aja di ruangannya yang ber-AC, duduk depan komputer, kadang keliatan bengong aja.”
Yaaa namanya juga beda level pemahaman, jadi dimaklumi saja kalau ada pola pikir yang menganggap level managerial hanya ongkang-ongkang kaki sementara karyawan operasional yang pontang-panting. Level pontang-panting managerial itu beda soalnya, gaes…

Manager itu sudah harus cemas was-was kalau di otaknya tidak ada inovasi yang bisa disarankan ke perusahaan. Sehingga semua target perusahaan tidak tercapai. Kalau target tidak tercapai itu alamat manager biasanya ketar-ketir. Ketar-ketir mikirin nasib karyawan lain loh, bukan nasib sendiri. Kalau boleh milih tentu lebih mudah kerja fisik dibandingkan dinilai performance-nya berdasarkan indikator otak, bener gak gaes???

Kalau level managerial sudah hilang daya imajinasinya maka calon kebangkrutan akan datang ke perusahaan itu dan semua karyawan operasional boro-boro naik gaji, tapi kehilangan pekerjaan.

Dalam keseharian saya tidak pernah melihat manager sukses yang malas hanya ongkang-ongkang kaki. Mungkin gaya duduknya emang begitu tapi otaknya ngebul walaupun gak pakai sering-sering mondar-mandir kiri kanan di pabrik.

Jadi kesimpulannya soft skill yang harus dimiliki owner atau level managerial di bagian ke-3 ini adalah :
1. Kemampuan berimajinasi tentang mimpi / tujuan perusahaan. Makanya tuh manager harus bisa menjabarkan visi misi yang emang kayak mengkhayal itu hehe…
2. Kemampuan berpikir yang kompleks namun konkret.
3. Memiliki pengetahuan yang luas, banyak baca dan tahu kondisi luar perusahaan.
4. Mampu mengelola informasi menjadi keputusan yang diperlukan.
5. Mampu mengkonsep mimpi jadi sebuah sistem konkret yang bisa diwujudkan.

Bagaimana supaya bisa punya kemampuan di atas?
1. Banyak baca buku dari komik sampai science
2. Belajar mengelola dan menganalisis informasi agar tidak kewalahan akibat banyaknya informasi, melainkan menyeleksi mana informasi yang perlu dan tidak perlu dibaca/diterapkan
3. Belajar kesenian apapun : sastra, musik, gambar, dll. Fungsinya apa? Biar gak bisanya ngomong dan ngetik doang tapi bisa mewujudkan dalam bentuk karya konkret yang bisa dipresentasikan dengan menarik dan berguna. Belajar kesenian melatih keseimbangan imajinasi dan sistem kerja logika otak dalam perencanaan untuk mewujudkan imajinasi jadi kenyataan. Saya kasih tahu rahasia dikit, orang seni biasanya jarang gaptek karena mereka punya sensitifitas untuk menerjemahkan simbol icon/gambar/chart/suara jadi satu fungsi instruksi otomatisasi.

Part 1 baca di SINI

Part 2 baca di SINI

Soft Skill Manager (Part 1)

Suatu hari saya sedang ada meeting dengan kantor principal sebuah merek ponsel Eropa yang sekarang sudah almarhum mereknya. Kantor principal itu yaaa sejenis kantor pusat pemilik merek gitu. Saya yang kerja di kantor distributor sudah biasa kalau bolak balik meeting dan kerja bareng tim dari kantor principal.

Nah ada dua kisah yang mau saya sampaikan dari kantor ini.

Pertama : Tukang Ingetin
Tiap meeting saya beberapa kali dengerin manager di kantor principal ngomong dengan betenya : “Heran, gua di sini jadi tukang inget-ingetin kalian ya! Masak tiap meeting kerjaan gua cuman ingetin mulu yang kalian belum kerjain??!!”
Saya mah diem aja mendengar dengan seksama karena bukan saya yang diomelin, melainkan rekan di kantor principal. Saya solider aja ikut meresapi hehe…

Ntar kalau sudah kelar meeting, saya siap kuping lagi kalau si Bapak manager curhat-curhat sebel karena merasa paling ingat sendiri semua kerjaan yang harus dikerjain. Saya sering juga ngekor ke mana dia pergi kalau lagi di lapangan, soalnya saya yang paling gak sebel dengan beliau hihihi… Lah wong saya bukan karyawan di sana kannn, jadi saya itu mewakili Boss atau GM kantor saya sebagai partner manager kantor principal.

Nah dari beliau saya jadi paham juga softskill yang memang harus dimiliki pemimpin :
Daya ingat harus kuat. Gak ada manager lupaan tuh, asli gak ada! Dia bisa lupa hal-hal yang gak penting tapi ingat semua yang penting. Kerjaan manager salah satunya kan emang controlling jadi emang udah kayak tukang ingetin hehehe… Dah terima nasib aja tuh bapak manager, berkat keahliannya mengatur dan mengingat terbukti si bapak manager bisa cepat promosi ke posisi yang lebih tinggi lagi.

Kenapa bisa inget? Karena fokus. Ketika ada promosi untuk cari manager salah satu keahlian yang harus unggul ya itu : punya memori kuat sehingga kalau ada apa-apa bisa obyektif dalam pengambilan keputusan karena ingat semua kronologis dan alur tugas-tugas yang didelegasikan.

Kedua : Keberanian dan Kecepatan dalam Pengambilan Keputusan
Di kantor ini di atas manager ada GM. Usia jauh lebih senior. Bawaannya nyantai aja, agak nyeleneh, tapi kalau sudah serius karismanya gak ada yang bisa lawan.

Yang paling kami pelajari adalah ketika ada konferensi pers / interview seputar masalah persyaratan produk elektronik luar yang masuk ke Indonesia. Saya lupa persis kasusnya tapi ketika si GM ditanya mengenai kelengkapan manual procedure di dalam kotak kemasan apakah sudah sesuai aturan, jawabannya : Sudah! Padahal aslinya belum!
Tentu kalau jawab belum malah jawaban bunuh diri.

Setelah konferensi pers, semua manager dan staff langsung meeting. GM langsung instruksikan hari itu juga fokus untuk cetakan pengadaan yang harus ada di kotak kemasan. Besok malam harus sudah ada yang jadi dan langsung alokasikan semua ke outlet.

Orang yang tak punya nyali tidak sanggup mengambil keputusan darurat seperti ini. Hanya mereka yang punya pikiran taktis, percaya pada skill tim, dan siap mengambil risiko memantau sampai selesai yang berani memutuskan dengan cepat hal-hal yang dapat menyelamatkan perusahaan. Uang seberapun biasanya juga tidak jadi masalah asal semua beres sesuai kebutuhan. Lembur? Yaaa sudah biasa sih kalau orang marketing, orang percetakan, karyawan toko ngurus yang dadakan gini. Kita juga gak berasa terpaksa karena kita pun berusaha agar bisa selamat dan jualan dengan benar.

Jadi keterampilan manager yang juga syarat wajib punya adalah : keberanian pengambilan keputusan dengan cepat. Ini bukan skill main-main karena kenyataannya orang awam ngambil keputusan untuk dirinya saja mencla-mencle apalagi mengambil keputusan yang membawa hajat hidup orang banyak, bisa mendadak pingsan karena ketakutan mungkin.

Dari pemimpin-pemimpin yang pernah saya kenal juga saya lihat semuanya : no fear in taking decision. Justru takutlah kalau ternyata kamu tidak bisa mengambil keputusan karena akan menghambat banyak hal. Soal benar atau tidaknya keputusan itu urusan nanti, yang penting selamatkan muka dulu. Rugi urusan belakang karena duit bisa dicari lagi.

Saya = Ular dan Merpati

CaPer 19 Januari 2022

Saya = Ular dan Merpati

“Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.” (Matius 10:16)

Terjemahan bebas : Tuhan itu membuat kita jadi orang baik + cerdas, bukan jadi orang polos, lugu, apalagi dibegoin orang atau hidup penuh kekonyolan.

Kalau dikerjain, ditekan, kita harus cari strategi yang tidak membuat kita jadi orang jahat. Namun, tidak pula harus terjebak dalam tujuan orang yang ngerjain : bikin kita ngamuk atau kita jadi lebay menunjukkan kita seorang victim adalah kemenangan orang yang ngerjain. Weh jangan sampai dong mereka tertawa berhasil membuat kita berasa tak berdaya.

Prinsip utama dalam kasih tetap begini :
Lu baik, gua baik.
Lu jahat, gua tetap baiklah!
Kalau gua ikutan jahat, apa beda gua dengan lu?

That’s why, tulus dan cerdik itu harus. Melawan orang licik hanya bisa dengan kecerdikan, dengan strategi! BUKAN malah menunjukkan keluguan, kepolosan, merengek, ikutan ngamuk bikin drama, atau balas dendam. Hal itu tak menunjukkan kebaikan kita malah kelemahan kita yang terpancing.

Banyak strategi melepaskan diri dari kerjaan srigala daripada habis energi marah, pasrah, atau malah terpengaruh jadi bego karena gas lighting. Pelajari strategi yang membungkam mulut agar tak lagi berani meremehkan kita. Strategi yang tak membuat kita hancur, tak membuat kita juga jadi orang jahat seperti lawan.

Pelajari banyak jenis strategi, misalnya : melawan strategi perang psikologis dari lawan, cari titik lemah lawan, strategi merangkul lawan. Bisa gunakan strategi tetesan air sedikit-sedikit tapi sanggup mengikis, meluluhkan, bahkan memecahkan yang batu keras setelah sekian lama. Melawan batu dengan batu malah rusak dua-duanya, sama-sama keras kita juga remuk dan ikutan brutal, tapi menggunakan strategi lawan dengan menjadi kinclong, tetap jadi baik, selalu tunjukkan kita tetap positif, tidak membenci sampai akar, akan membuat lawan menyerah sendiri.

Ingat saja tujuan musuh selalu ingin membuat kita jadi marah, semakin marah, mereka semakin senang. Selalu ingin membuat kita jadi nangis, jadi kesal, jadi tak berdaya. Cara melawannya bukan dengan balas dendam atau malah jadi kepahitan ke diri sendiri. Cara melawannya pakai strategi ular dan ketulusan merpati karena image kita itu memang bukan jadi ikutan jahat tapi tak membiarkan orang untuk mengubah diri kita untuk tetap glowing and full of kindness and blessing.

Cita-Cita Waktu Kecil

#weeklywritingchallengeLike
#femikhiranawritingchallengelike

(ini tulisan untuk challenge di komunitas 😃)

Cita-cita dari remaja ada banyak, tetapi satu per satu dihilangkan dan beberapa ada yang ditangguhkan karena siapa tahu tercapai nanti. Ada juga yang tercapai dengan modifikasi setelah sekian lama.

Waktu kecil banget, cita-cita standar jadi dokter. Tapi saya sadar kalau tampang saya saja yang cocok jadi dokter. Minat dan kemampuan cuman cocok jadi pasien. Waktu penjurusan di SMA pun saya tidak bisa masuk A2 karena nilai eksakta tidak memadai. Nasib sekolah di sekolah kaporit eh favorit ya gitu. Walaupun sekarang saya juga yakin ilmu eksakta saya lebih jago daripada dokter abal-abal yang asal lulus 😆 tapi ya memang nasib tidak untuk jadi dokter.

Waktu kecil juga pengin jadi artis! Nyanyi, model, main film, atau apalahhh! Saya ingat ada teman sekelas saya yang sering ranking 1 yang akhirnya pengin ikutan jadi artesss gara-gara saya ngomong gitu ke dia 😂 Dia ranking 1 konsisten, saya ranking 1 kalau pas teman-teman lagi lengah belajar aja 😆 Lucu gitu sama-sama pengin jadi penyanyi.

Tapi saya tidak main-main waktu saya berniat untuk jadi seniman. Saya ikut semua kegiatan seni suara di sekolah, gereja. Saya memang tidak punya masalah tampil sedari kecil, justru sudah tua gini baru mikir gak terlalu nyaman. Saya juga ikutan kegiatan teater, drama, sampai prestasi tertinggi saya bisa lolos jadi dubber untuk sandiwara radio. Saya sudah SMA kelas 1 waktu itu. Zaman dulu sandiwara radio kan popularitasnya tidak kalah dengan sandiwara televisi. Malah enak kita hanya rekam suara, tidak perlu akting panggung. Dapat job dubbing pertama jadi figuranlah jelas, rekaman tidak sampai 10 menit selesai karena hanya baca beberapa lines saja, dan itu jadi anak kecil bukan jadi ABG 😅 Tapi walaupun figuran tapi duitnyaaa weh banyak buat anak sekolahan. Sayangnya semua tidak bisa diteruskan karena ortu melarang saya jadi pulang malam. Dongkol sih iya, tapi saya masih bisa nyanyi di sekolah dan gereja. Masih bisa tampil di televisi stasiun lokal Palembang bareng teman-teman vokal grup di sekolah juga sudah lumayanlahhh…
Saya juga sebenarnya pengin kuliah di Institut Kesenian Jakarta, tapi ya sutralah, tangguhkan saja. Saya tetap cinta kegiatan seni, film, musik dan saya belajar otodidak saja dan sangat membantu pekerjaan saya sebenarnya. Jadi sejak kuliah saya putuskan tidak terjun di dunia entertainment walaupun kesempatan untuk itu sangat banyak. Salah satunya kesempatan jadi American Idol saya hempaskan jauh-jauh… Ya iyalahhh kan kejauhannnn…

Lalu cita-cita remaja yang mulai serius dan sesuai minat juga adalah : bekerja di media massa, jadi jurnalis. Karena saya memang suka nulis (semua yang orang gak suka, saya suka gitu aja ya kesimpulannya sebagai anti mainstream person) dan sudah terlibat dengan urusan penerbitan sejak SMP. Ngurus penerbitan majalah sekolah dan gereja dari A sampai Z. Satu majalah semua saya kerjakan sendiri dari nulis artikel, kumpulin naskah, ngetik, layout, instruksi ilustrator, sampai jadi mock up majalah sebelum terbit dan saya juga yang pantau produksi baik dari cara fotokopi sampai percetakan. Beberapa kali juga pernah study tour ke penerbitan surat kabar sampai magang di penerbitan waktu liburan kuliah. Suka. Tapi… saya jadi melihat ritme kerja para penulis, wartawan, dan tim produksi : gak ada jam kerja tetap, harus siap sedia waktu ada peristiwa dan sekejap nyampe di lokasi peristiwa mau jam berapapun, kalau deadline pasti begadang. Baru saya mikir : Is this what I want??? Can I do it? Me time nya nyaris bareng kerjaan. Duitnya? Dikitttt.. Sampai sekarang dunia penulisan itu dibayar paling sedikit daripada profesi manapun. Untuk mencapai jenjang yang enak paling sulit karena kita harus ngetop banget, kreatif jungkir balik. Pada akhirnya saya berpuas diri jadi penulis lepas saja daripada harus terlibat di dunia media. Sejak mulai ada internet saya merasa passion nulis-nulis sudah terealisasi karena sudah bikin blog, buku, sampai copy writing.

Setelah tamat SMA, pengin jadi psikolog. Merasa cocoklah karena memang minat. Psikolog juga profesi yang saat itu diramalkan jadi profesi yang banyak digunakan jasanya di era 2000an. Tapi tiba-tiba Papa menarik izin kuliah di Jakarta karena alasan tertentu. Awalnya sudah diizinkan. Kesel pasti. Di Palembang tidak ada jurusan psikologi. Tapi yang penting saya kuliah deh… Keinginan selanjutnya yang mendekati minat saat itu akhirnya jadi Manager, belajar bisnis, jadi boss lah. Ya sudah kuliah Management-lah 😃

Waktu kuliah saya disadarkan kalau saya juga punya hobi main sekolah-sekolahan sejak kecil, saya jadi gurunya, lalu yang jadi muridnya mahkluk tak kasat mata 😂 Memang gak ada yang jadi murid di rumah, jadi saya buat murid imajiner. Sejak kuliah itu juga sampai sekarang saya bersyukur belajar bisnis edukasi dimulai dari jadi guru privat waktu kuliah. Bayarannya? Lebih besar daripada kerja di media dan saya masih bisa nulis.

Sejak kuliah akhirnya saya memang selektif mencari kerjaan yang sepadan hasilnya. Boleh kerja bakti tapi hasilnya harus menyenangkan agar jadi motivasi. Saya juga mulai melihat peluang yang lebih banyak menghasilkan uang dan mencoba mendalami skill yang akan terus dipakai orang. Itu yang memutuskan saya ambil diploma program komputer ketika kuliah semester akhir sebagai keterampilan yang berbeda dibandingkan lulusan management lainnya.

Singkat cerita sekarang ini apakah cita-cita saya waktu remaja tercapai? Yaaa bisa dikatakan beberapa akhirnya terealisasi. Thanks to technology yang memudahkan untuk mewujudkan cita-cita. Saya menulis, mengajar, bikin usaha sendiri di bidang yang saya kuasai dari kuliah, dan saya juga senang bisa mengartiskan diri di Smule dan TikTok 😆

Saya selalu percaya selama masih dikasih nafas kita masih sah untuk mewujudkan cita-cita yang sempat mandek. Ada yang lulus sarjana di usia 70 tahun, dan akhirnya bisa berkreasi sesuai passion-nya di usia yang sudah menanjak. Sah! Mau jadi dokter di usia tua pun bisa kalau memang masih pengin loh yaaa… Prestasi dan pencapaian diri tidak mengenal usia dan hak asasi semua makhluk hidup sampai kapanpun.

Femikhirana (Digital Marketing Strategist)