Es Kopi Panas

Saya sebenarnya bingung kenapa orang banyak pengen tahu itu Jessica beneran pelaku pembunuhan atau gak… Sampe nanya-nanya ke dukun (tapi gratis maunya) segala…

Kepentingan untuk diri sendiri apa?

Terus kalau benar kenapa? Kalau salah kenapa?

Apa urusannya dengan kehidupan sehari-hari?

Kalau pakai alasan membela dan melawan ketidakadilan hukum Indonesia kayaknya kok kejauhan mikirnya 😅

Kalau pakai alasan biar waspada dengan kriminalitas, ya kasus lain pun semua sama, ya belajar aja yang jelas-jelas sudah kelihatan psikopatnya…

Saya gak ngikutin kasus ini dari dulu. Gak nonton proses sidang, gak baca-baca, gak googling-googling investigasi sendiri, sampai ada dokumenter Netflix pun gak nonton dan geli sendiri baca komen yang nonton. Mau dia pelaku atau gak ya biarin aja…

Tapiiii… dari cuman dapat info-info dan melihat sekilas konten yang tanpa sengaja lewat di timeline betapa sosok ini dalam kondisi ikhlas, bahagia, menjalankan hukumannya dengan mengisi waktu dengan kegiatan positif, banyak fans, dll dll ada beberapa point yang menarik untuk saya telaah dan terima sendiri (ya kalau orang lain tidak setuju juga gak masalah) :

1. Memangnya kalau pembunuh itu semua harus wajah bengis atau kalau sudah di penjara pas ketemu kamera harus bersikap nyesel banget? Banyak narapidana emang ikhlas dan bisa hidup bahagia ketika tinggal di penjara kok…

2. Setiap orang itu punya sisi heroic dan villain dalam kehidupan sehari-hari. Bukan berarti orang yang sehari-hari yang bertindak baik tapi di otaknya selalu baik. Jangan naiflah yaaaa… Tiap orang itu punya sisi menyebalkan to the max yang kebetulan ada yang bisa ditolerir. Demikian juga kalau dulu dia jahat bukan berarti juga dia 100% jahat ke semua orang, gak juga di otaknya selalu jahat, kenyataannya banyak napi yang disayang keluarganya dan dia pun sayang bahkan ada yang masih bisa menafkahi keluarganya selama di penjara.

Soooooooo… menilai orang itu pembunuh atau bukan hanya berdasarkan apa yang terlihat baik di video timeline itu ibarat anak kecil yang otaknya masih mentah dan gampang diperalat emosinya hanya dengan menyuapnya dengan sesuatu yang “kelihatan baik dan enak”. Gampang banget untuk dikasih permen, dikasih uang, diajarin bahasa Inggris dan langsung berkesimpulan : “Wahhh orang ini mulia sekali hatinya…”

3. Semua orang itu punya kesempatan untuk menyesali perbuatannya tapi tetap menanggung konsekuensinya. Napi yang dihukum lama, ketika masuk dan sekarang sudah tentu beda perilakunya. Tapi ada yang tidak pernah kita bisa tahu : apakah penyesalan yang ada dan pengampunan yang diberikan akan menjadi jaminan orang itu pasti kembali ke jalan yang benar? Tuhan aja gak tahu kalau gini… Apalagi negara kan?! Jadi apa dong dasar yang dipegang oleh hukum memberlakukan periode tinggal di penjara dalam waktu lama? Kembali lagi ke track record kejadian dan track record kesehatan jiwa fisik mental spiritual yang menunjukkan tinggi rendahnya level bahayanya otak error-nya timbul lagi. Makanya untuk kasus tertentu di luar negeri walaupun ada napi yang sudah bebas tapi tetap dipantau melalui alat untuk mendeteksi posisinya. Karena tidak ada jaminan pasti bagi “orang-orang tertentu yang mungkin bisa berwajah malaikat tapi bisa tiba-tiba bertanduk ketika ada trigger yang mengusik mentalnya”

Jadi buat saya untuk tahu apakah memang Jessica itu pelaku atau gak tidaklah lebih penting daripada mengontrol diri sendiri supaya kita tetap dapat mengendalikan diri. Ketika kita dalam hidup yang sulit mengendalikan emosi dan nafsu, maka ancaman menjadi seorang pelaku kriminal itu lebih besar. Demikian juga terlalu lugu dalam menilai seseorang akan menjadi ancaman bagi kita sebagai korban.

PHK Massal = Kesempatan Jadi Boss

PHK Massal = Kesempatan Jadi Boss

Tindakan PHK massal start up terkenal GoTo dan Ruang Guru makin menunjukkan perusahaan itu akan efisien bila menggunakan sistem project terhadap skillful employee tapi tugasnya selesai saat perusahaan sudah berjalan baik. Ketika perusahaan sudah bisa berjalan dengan sistem, maka calon yang diberhentikan dulu adalah Programmer, Designer, dan tim yang berhubungan dengan database. Yang dipertahankan justru kebanyakan adalah tenaga operator yang bisa multitasking. Maintenance sistem yang berkala tidak perlu lagi ratusan perancang dan pembuat program.

Ngenes? Punya skill tinggi tapi dipecat juga.
Hmmm bagi yang memikirkan kenyamanan gaji bulanan mungkin merasa jadi programmer kok digituin banget. Tapi kalau buat saya yang lebih banyak self employ, memang wajar kok kalau pekerjaan yang berkenaan dengan perancangan software itu bersifat kontrak atau base on project. Gak perlu merasa masa depan gak stabil. Justru aneh kalau pola pikir programmer begitu. Sejatinya di kerjaan kreatif atau perancang konsep software akan lebih menghasilkan bila dilakukan perhitungan project. Programmer bisa kerja dengan banyak project dalam satu waktu atau kalau dia hanya mengerjakan satu project dalam satu waktu lalu setelah itu selesai dia harus cabut ya dia sudah punya portofolio yang lebih keren dan habis itu dia bisa dapat project baru yang lebih besar fee-nya daripada jadi orang gajian standar yang naiknya lama.

Jadi sebenarnya sejak awal raksasa Start Up ini yang justru seharusnya gak perlu pakek gaya-gaya rekrutmen besar-besaran, bikin kantor kayak mall biar karyawan betah. Memang sihhh keren tapi itu juga pemborosan aslinya. Uang fix cost fasilitas mall di kantor itu kalau ujung-ujungnya malah bikin cashflow mandek dan ratusan karyawan tidak dibayar gaji ya mendingan gak perlu itu fasilitas main Virtual Reality game di kantor, duitnya bisa untuk nafas panjang.

Anehnya lagi walaupun ratusan pengangguran baru hadir tapi selalu saja tak kurang lowongan kerja bertaburan. Artinya perusahaan juga tetap ada yang susahhh banget dapat karyawan yang mau tetap. Lucu juga, di satu sisi banyak karyawan pengen jadi karyawan tetap, tapi di perusahaan menengah dan kecil mau cari karyawan tetap tuh susah benerrrrr… Kalau kurang lahan pekerjaan sudah pasti web loker gak laku. Kenyataannya selalu laku.

Jadi sadari saja kemungkinan untuk jadi karyawan di perusahaan besar dan gaji bagus itu memang tidak mudah. Kalau ngotot tidak mau turunkan standar masuk perusahaan skala menengah ya alamat keluarga bisa telantar. Jadi gimana baiknya?
Nah welcome to disruptive world yang aslinya gak membatasi kita mau cari uang dari mana saja atau bidang apa saja selama ada peluang. Beberapa materi konten Tiktok saya selalu bahas kita ini bisa bekerja resmi untuk standar kebutuhan tapi tentu mau lebih, nah lebihnya cari sendirilah. Ada dunia tambahan selain dunia yang biasa kita hadapi, untuk cari uang tambahan. Ini sudah style era transformasi digital, multiverse, multi position, multi jobs, multi income juga dong jadinya. Ingat KEBUTUHAN KITA ITU BUKAN TANGGUNG JAWAB OWNER PERUSAHAAN TEMPAT KITA BEKERJA. Jadi percuma di era sekarang nyari terus kerjaan tetap bergaji besar dan stabil tapi malah gak dapat-dapat kerjaan model gitu. Mending ikuti style yang bisa lebih menguntungkan kalau dijalanin dengan tekun yaitu : yang penting dapat kerja semaksimal yang dulu, yang penting dapat duit dulu deh dan minimal ga kelaperan.. Nah kalau gak kelaparan bisa tuh otak diajak mikir akhirnya : kerjain apa lagi yaaa buat nambah kerjaan tetap. Cari banyak referensi profesi yang bisa dilakukan sambilan di kantor tapi gak ganggu kerjaan utama juga. Ini sudah akan jadi lumrah ke depannya.

Menyiksa bagi yang suka kemapanan? Ingat ajalah kalo kurang duit tetap aja gak mapan. Kemapanan itu tetap level yang pasti tercapai kok, tapi ya harus terima dulu kondisi era sekarang ya kemapanan malah bisa diraih dari banyak tempat, bukan satu tempat. Tiap orang sekarang kalau mau mapan bukan hanya punya jiwa loyal dengan perusahaan tapi juga punya jiwa entrepreneurship untuk jadi pemimpin bagi diri sendiri. Jadi karyawan sekaligus jadi boss, apa salahnya? Yang sudah di-PHK ini dikasih pesangon yang amat sangat lumayan loh.. Jadi kalau mau coba jadi boss bisa, sudah ada modal dikit… Ya tentu harus punya strategi, nah ini yang harus dipelajari. Makanya jiwa entrepreneurship itu penting dilatih bahkan ketika jadi karyawan pun tetap harus punya mental entrepreneurship. Karena pas kepepet penghasilan kurang, sudah bisa beralih jadi Boss. Keren kan kepepet malah jadi Boss 👍

Jadi Bermental Kaya

Netizen mental miskin emang error pola pikirnya. Merasa wajar sebuah kehilangan dan tidak pantas diratapi hanya karena dia itu kaya dan banyak privilege-nya. Kalau buat aku ada anak yang sultan dan bisa meratap 800jt itu sampai 3 hari berarti dia menghargai nilai kehilangan kecil sekalipun. Aku walaupun ada uang 10jt, kehilangan Rp 500rb karena gagal usaha juga bikin merenung seharian kok. Trading forex kadang loss $10 (150rb) aja kepikiran seharian loh… Padahal ya cuman $10 yang notabene pengeluaran sehari bisa lebih dari itu.

Yang dia dan kita ratapi bukan hilang uang, tapi penyesalan kok bisa kita sebodoh (ceroboh, konyol, apapunlah) itu. Padahal golongan the haves itu kalau keluar uang bisa lebih dari 800jt sebulan, ngapain dia tangisin duitnya???? Yang bikin dia duduk di kamar 3 hari ya mikirin dia harus gimana sekarang, PRIDE-nya itu harganya jauh dari 800jt, itu yang ditangisi karena ada yang salah dalam dirinya. Jadi dia harus mikirin bagaimana harus bersikap, lanjutkan atau nyerah?

Justru yg aneh adalah orang kaya yang gak pedulian yang gak koreksi diri kalau uang melayang. Bahaya gini..

Yaaa entah mungkin media yang cara blowing up-nya salah, mungkin juga Putrinya kurang bisa menjelaskan apa arti kehilangan sesungguhnya, terus sesama seleb atau influencer juga saling menjatuhkan, atau anak horang kaya itu ortu yang tidak disukai khalayak ramai, jadi inti cerita hilang begitu saja.

Tapi berdasarkan apa yang kita alami sehari-hari ajalahhh menilai motivasi di sini… Kadang kita rugi Rp 10.000,- atau Rp 50.000,- aja bisa nyap-nyap dan merasa kok bego banget ya gua gak cek dulu, gak tanya-tanya dulu, jadi masalah besar juga padahal yaaa cuman ceban goban! Nah masalahnya bukan di kehilangan ceban goban tapi kehilangan semangat dan kehilangan motivasi, trauma, sedih kenapa aku bisa gagal, bisa salah, bisa bego. Lalu keputusan di tangan kita, mau belajar dari kesalahan dan cari cara nutupin rugi ceban goban, atau pasrah saja sudah rugi dan berhenti.

Inilah masalah dan gaya berpendapat ala mental kaya dan miskin, mental nyerah dan mental berjuang. Ada anak yang dapat nilai 7 dan merasa sedih karena biasa dapat nilai 10, terus ada yang ngenyek : Halahhhhh lebai amat, biasa dapat 10 juga, sekarang dapat 7. Tuhhh si A dapat 5 aja gak sedihhh… Ealahhh… Anak yang punya mental kaya dan berjuang ya pasti wajar merasa kehilangan dirinya saat tidak berhasil. Anak yang punya mental miskin dan nyerah ya pasrah aja dapat segitu, mampunya segitu, syukuri aja, padahal kalau mau belajar bisa dapat 7, tapi pakai alibi Ketuhanan yang Masa Esa : udah takdir gue, lihat aja gimana nanti kaki melangkah, semua gue serahkan ke Tuhan terus dia lanjut rebahan 😆

Kalau ada yang merasa emang mau mengubah nasib miskin dengan mental kaya pasti bisa kok.. Jadi teori ini buat siapa saja anak sultan atau anak penggangguran. Mau bapaknya kaya bisa kasih modal banyak maupun yang bapaknya tidak kaya itu sama-sama berjuang dan sama-sama punya privilege. Jangan dikira jadi orang biasa tidak punya privilege, jangan underestimate ke diri sendiri. Bedanya orang kaya memang semua sudah tersedia tapi kalau dia tidak bisa menjaga dan memanfaatkannya atau mengembangkannya ya sama aja, duit itu bisa hilang juga. Jadi golongan the haves itu juga pasti berjuang kalau tidak gaya hidup yang akan menggerogoti sampai habis.

Cuman khusus anak yang sudah terjebak dalam lingkaran setan kemiskinan harus berani mendobrak keluar dari lingkaran itu bukan malah merasa terjebak dan ya sudah jalanin aja..

Femikhirana -digital marketing specialist-