Orang Miskin, Orang Kaya, dan Tao Ming Shi

Bagi kebanyakan orang miskin yang gak mau nasib berubah dan playing victim, kekayaan atau menjadi orang kaya itu cenderung adalah kejahatan.
Bingung kenapa orang kaya itu gak pernah susah, pasti yang dikerjain jahat-jahat…

Padahal orang kaya selalu akan kaya karena mentalnya. Orang kaya itu bukan berarti gak pernah kesusahan duit, tapi ketika kesusahanpun dia bermental kaya jadi ya akhirnya dia kaya lagi, makanya gak pernah terlihat susah. Mental kaya tuh apa? Susah-susah gampang jelasinnya tapi itu memang mindset orang orang kaya berpikir high self bukan egosentris. Mikirnya ya kalau lagi susah, ada masalah jalanin aja, terima keadaan dan berusaha lagi dengan rajin dan mental baja, ehhh bisa balik kaya lagi beneran kok… Kalau pas susah malah menyalahkan keadaan dan tidak terima diperlakukan semesta karena egonya yang marah sudah direndahkan dan berontak protes saja ya sampai kapanpun gak akan kaya itu.

Nah bagi orang kaya, kemiskinan itu nyaris sulit didefinisikan. Kadang dia bisa ngerasa makan nasi goreng aja udah miskin jadi dia berusaha untuk bisa lebih rajin supaya lain kali bisa makan fine dining food di resto mahal. Kadang dia merasa makan nasi goreng aja juga kemiskinan yang disyukuri karena masih banyak yang mau makan nasi goreng aja susah. So bukan mengkriminalisasikan kemiskinan tapi jadi motivasi makanya hasilnya gak miskin-miskin, lah manifestasinya selalu hardwork soalnya jadi lama-lama pun berhasil.

Tapi kalau bagi orang kaya macam Tao Ming Shi di Meteor Garden beda lagi sih… Orang ini hanya bikin orang miskin jadi halu berkepanjangan. Bagi Tao Ming Shi : Aku benci orang miskin, mau diajak ngapa-ngapain susah. Diajak senang gak bisa, diajak main gak mau, ya udah gua pacarin aja… #eh…

Balas Dendam Terbaik

Selesai nonton The Glory kemarin.
Udah gak bisa sehari nonton 2 episode euy…
Maksimum 1.5 episode, beneran nanggung, mata dah protes. Ya tiap nonton udah jam 11 malem.

Masih on going yang Taxi Driver. Untung ini on going 2 episode per minggu.

Dua drama itu drama balas dendam.
Sama-sama ceritanya enak diikuti.
Alur gak lelet. Rapih. Seru. Penasaran. Terus habis nonton lega.

Intinya ngajarin kalau mau balas dendam boleh-boleh aja.. ASAL…..

1. Emang yang dibalas pantas menerima akibat perbuatannya.

2. Itu otak harus pintar untuk cari cara biar rencana lancar. Jadi balas dendam tidak berlaku bagi mereka yang lemotttttt… Jangan coba-coba kalau otak tak mampu hehehe…

3. Harus beneran niat bulat, besar tekad, kuat mental, gak boleh baper, gak boleh gampang menyerah.

4. Kerjainnya jangan sendirian! Bundir itu namanya kalo balas dendam pakai usaha sendiri. Cari tim, kerjasama. Saling support, saling berbagi tugas dan memperhatikan. Gak ada balas dendam bisa berhasil kalau dilakukan sendiri.

5. Ini harus ada, kalau gak ada point 1-3 gak bisa terlaksana juga : PUNYA DUIT ! 😂😂😂
Tapi punya duit itu identik dengan kombinasi no. 2 dan no. 3. Ketika otak dilatih tidak lemot plus tekad kuat, duit ngalir untuk jadi modal membuat pergerakan.

Dan ada satu lagi yang harus disadari ketika menyusun lima syarat tadi. Yaitu sebenarnya dirinya yang adalah korban, sudah berhasil kok dalam membalas dendam, karena selalu berproses membalikkan keadaan dari yang dianggap terlemah menjadi yang terkuat.

Proses menjadi yang terkuat itulah justru yang menurut para filsuf adalah inti balas dendam yang terbaik karena fokus pada memperkuat internal diri dan kebahagiaan diri. Membuktikan bila dirinya masih bisa hidup penuh kualitas membalikkan keadaan adalah pukulan telak bagi mereka yang pernah menyakiti dirinya.

Jadi pelajarannya di dua drama itu adalah jangan melakukan pembalasan yang membabi buta yang malah berefek menyimpan sakit hati melainkan gunakan rasa sakit itu menjadi senjata untuk menuju pendewasaan pribadi dan kecerdasan otak plus finansial. Hidup yang berkualitas itu justru akan lebih membawa rasa sakit dan malu yang tajam kepada mereka yang pernah menyakiti.

Saya ingat salah satu quote di drama Crash Landing on You : Aku sedang balas dendam. Menjadi bahagia adalah balas dendam terbaik. Becoming happy is the best revenge.

Kalau di kitab suci dikatakan balas dendam adalah urusan Tuhan ya itu kan yang bagian Tuhan. Yang bagian manusia adalah balas dendamlah dengan menyembuhkan diri dan sah-sah saja untuk menunjukkan kepada para kriminal bila kita bukan sosok yang menyerah dengan hidup dan bisa membalikkan keadaan sesuai dengan hukum semesta dan hukum negara yang berlaku.

So be smart, strategic wisely, and rich! Itu sudah 90% true and best revenge, 10%nya strategi untuk melemahkan lawan. Maka lawan akan auto menerima hukumannya dari semesta yang memang urusan Tuhan.

Cita-Cita Waktu Kecil

#weeklywritingchallengeLike
#femikhiranawritingchallengelike

(ini tulisan untuk challenge di komunitas 😃)

Cita-cita dari remaja ada banyak, tetapi satu per satu dihilangkan dan beberapa ada yang ditangguhkan karena siapa tahu tercapai nanti. Ada juga yang tercapai dengan modifikasi setelah sekian lama.

Waktu kecil banget, cita-cita standar jadi dokter. Tapi saya sadar kalau tampang saya saja yang cocok jadi dokter. Minat dan kemampuan cuman cocok jadi pasien. Waktu penjurusan di SMA pun saya tidak bisa masuk A2 karena nilai eksakta tidak memadai. Nasib sekolah di sekolah kaporit eh favorit ya gitu. Walaupun sekarang saya juga yakin ilmu eksakta saya lebih jago daripada dokter abal-abal yang asal lulus 😆 tapi ya memang nasib tidak untuk jadi dokter.

Waktu kecil juga pengin jadi artis! Nyanyi, model, main film, atau apalahhh! Saya ingat ada teman sekelas saya yang sering ranking 1 yang akhirnya pengin ikutan jadi artesss gara-gara saya ngomong gitu ke dia 😂 Dia ranking 1 konsisten, saya ranking 1 kalau pas teman-teman lagi lengah belajar aja 😆 Lucu gitu sama-sama pengin jadi penyanyi.

Tapi saya tidak main-main waktu saya berniat untuk jadi seniman. Saya ikut semua kegiatan seni suara di sekolah, gereja. Saya memang tidak punya masalah tampil sedari kecil, justru sudah tua gini baru mikir gak terlalu nyaman. Saya juga ikutan kegiatan teater, drama, sampai prestasi tertinggi saya bisa lolos jadi dubber untuk sandiwara radio. Saya sudah SMA kelas 1 waktu itu. Zaman dulu sandiwara radio kan popularitasnya tidak kalah dengan sandiwara televisi. Malah enak kita hanya rekam suara, tidak perlu akting panggung. Dapat job dubbing pertama jadi figuranlah jelas, rekaman tidak sampai 10 menit selesai karena hanya baca beberapa lines saja, dan itu jadi anak kecil bukan jadi ABG 😅 Tapi walaupun figuran tapi duitnyaaa weh banyak buat anak sekolahan. Sayangnya semua tidak bisa diteruskan karena ortu melarang saya jadi pulang malam. Dongkol sih iya, tapi saya masih bisa nyanyi di sekolah dan gereja. Masih bisa tampil di televisi stasiun lokal Palembang bareng teman-teman vokal grup di sekolah juga sudah lumayanlahhh…
Saya juga sebenarnya pengin kuliah di Institut Kesenian Jakarta, tapi ya sutralah, tangguhkan saja. Saya tetap cinta kegiatan seni, film, musik dan saya belajar otodidak saja dan sangat membantu pekerjaan saya sebenarnya. Jadi sejak kuliah saya putuskan tidak terjun di dunia entertainment walaupun kesempatan untuk itu sangat banyak. Salah satunya kesempatan jadi American Idol saya hempaskan jauh-jauh… Ya iyalahhh kan kejauhannnn…

Lalu cita-cita remaja yang mulai serius dan sesuai minat juga adalah : bekerja di media massa, jadi jurnalis. Karena saya memang suka nulis (semua yang orang gak suka, saya suka gitu aja ya kesimpulannya sebagai anti mainstream person) dan sudah terlibat dengan urusan penerbitan sejak SMP. Ngurus penerbitan majalah sekolah dan gereja dari A sampai Z. Satu majalah semua saya kerjakan sendiri dari nulis artikel, kumpulin naskah, ngetik, layout, instruksi ilustrator, sampai jadi mock up majalah sebelum terbit dan saya juga yang pantau produksi baik dari cara fotokopi sampai percetakan. Beberapa kali juga pernah study tour ke penerbitan surat kabar sampai magang di penerbitan waktu liburan kuliah. Suka. Tapi… saya jadi melihat ritme kerja para penulis, wartawan, dan tim produksi : gak ada jam kerja tetap, harus siap sedia waktu ada peristiwa dan sekejap nyampe di lokasi peristiwa mau jam berapapun, kalau deadline pasti begadang. Baru saya mikir : Is this what I want??? Can I do it? Me time nya nyaris bareng kerjaan. Duitnya? Dikitttt.. Sampai sekarang dunia penulisan itu dibayar paling sedikit daripada profesi manapun. Untuk mencapai jenjang yang enak paling sulit karena kita harus ngetop banget, kreatif jungkir balik. Pada akhirnya saya berpuas diri jadi penulis lepas saja daripada harus terlibat di dunia media. Sejak mulai ada internet saya merasa passion nulis-nulis sudah terealisasi karena sudah bikin blog, buku, sampai copy writing.

Setelah tamat SMA, pengin jadi psikolog. Merasa cocoklah karena memang minat. Psikolog juga profesi yang saat itu diramalkan jadi profesi yang banyak digunakan jasanya di era 2000an. Tapi tiba-tiba Papa menarik izin kuliah di Jakarta karena alasan tertentu. Awalnya sudah diizinkan. Kesel pasti. Di Palembang tidak ada jurusan psikologi. Tapi yang penting saya kuliah deh… Keinginan selanjutnya yang mendekati minat saat itu akhirnya jadi Manager, belajar bisnis, jadi boss lah. Ya sudah kuliah Management-lah 😃

Waktu kuliah saya disadarkan kalau saya juga punya hobi main sekolah-sekolahan sejak kecil, saya jadi gurunya, lalu yang jadi muridnya mahkluk tak kasat mata 😂 Memang gak ada yang jadi murid di rumah, jadi saya buat murid imajiner. Sejak kuliah itu juga sampai sekarang saya bersyukur belajar bisnis edukasi dimulai dari jadi guru privat waktu kuliah. Bayarannya? Lebih besar daripada kerja di media dan saya masih bisa nulis.

Sejak kuliah akhirnya saya memang selektif mencari kerjaan yang sepadan hasilnya. Boleh kerja bakti tapi hasilnya harus menyenangkan agar jadi motivasi. Saya juga mulai melihat peluang yang lebih banyak menghasilkan uang dan mencoba mendalami skill yang akan terus dipakai orang. Itu yang memutuskan saya ambil diploma program komputer ketika kuliah semester akhir sebagai keterampilan yang berbeda dibandingkan lulusan management lainnya.

Singkat cerita sekarang ini apakah cita-cita saya waktu remaja tercapai? Yaaa bisa dikatakan beberapa akhirnya terealisasi. Thanks to technology yang memudahkan untuk mewujudkan cita-cita. Saya menulis, mengajar, bikin usaha sendiri di bidang yang saya kuasai dari kuliah, dan saya juga senang bisa mengartiskan diri di Smule dan TikTok 😆

Saya selalu percaya selama masih dikasih nafas kita masih sah untuk mewujudkan cita-cita yang sempat mandek. Ada yang lulus sarjana di usia 70 tahun, dan akhirnya bisa berkreasi sesuai passion-nya di usia yang sudah menanjak. Sah! Mau jadi dokter di usia tua pun bisa kalau memang masih pengin loh yaaa… Prestasi dan pencapaian diri tidak mengenal usia dan hak asasi semua makhluk hidup sampai kapanpun.

Femikhirana (Digital Marketing Strategist)