Soft Skill Manager (Part 1)

Suatu hari saya sedang ada meeting dengan kantor principal sebuah merek ponsel Eropa yang sekarang sudah almarhum mereknya. Kantor principal itu yaaa sejenis kantor pusat pemilik merek gitu. Saya yang kerja di kantor distributor sudah biasa kalau bolak balik meeting dan kerja bareng tim dari kantor principal.

Nah ada dua kisah yang mau saya sampaikan dari kantor ini.

Pertama : Tukang Ingetin
Tiap meeting saya beberapa kali dengerin manager di kantor principal ngomong dengan betenya : “Heran, gua di sini jadi tukang inget-ingetin kalian ya! Masak tiap meeting kerjaan gua cuman ingetin mulu yang kalian belum kerjain??!!”
Saya mah diem aja mendengar dengan seksama karena bukan saya yang diomelin, melainkan rekan di kantor principal. Saya solider aja ikut meresapi hehe…

Ntar kalau sudah kelar meeting, saya siap kuping lagi kalau si Bapak manager curhat-curhat sebel karena merasa paling ingat sendiri semua kerjaan yang harus dikerjain. Saya sering juga ngekor ke mana dia pergi kalau lagi di lapangan, soalnya saya yang paling gak sebel dengan beliau hihihi… Lah wong saya bukan karyawan di sana kannn, jadi saya itu mewakili Boss atau GM kantor saya sebagai partner manager kantor principal.

Nah dari beliau saya jadi paham juga softskill yang memang harus dimiliki pemimpin :
Daya ingat harus kuat. Gak ada manager lupaan tuh, asli gak ada! Dia bisa lupa hal-hal yang gak penting tapi ingat semua yang penting. Kerjaan manager salah satunya kan emang controlling jadi emang udah kayak tukang ingetin hehehe… Dah terima nasib aja tuh bapak manager, berkat keahliannya mengatur dan mengingat terbukti si bapak manager bisa cepat promosi ke posisi yang lebih tinggi lagi.

Kenapa bisa inget? Karena fokus. Ketika ada promosi untuk cari manager salah satu keahlian yang harus unggul ya itu : punya memori kuat sehingga kalau ada apa-apa bisa obyektif dalam pengambilan keputusan karena ingat semua kronologis dan alur tugas-tugas yang didelegasikan.

Kedua : Keberanian dan Kecepatan dalam Pengambilan Keputusan
Di kantor ini di atas manager ada GM. Usia jauh lebih senior. Bawaannya nyantai aja, agak nyeleneh, tapi kalau sudah serius karismanya gak ada yang bisa lawan.

Yang paling kami pelajari adalah ketika ada konferensi pers / interview seputar masalah persyaratan produk elektronik luar yang masuk ke Indonesia. Saya lupa persis kasusnya tapi ketika si GM ditanya mengenai kelengkapan manual procedure di dalam kotak kemasan apakah sudah sesuai aturan, jawabannya : Sudah! Padahal aslinya belum!
Tentu kalau jawab belum malah jawaban bunuh diri.

Setelah konferensi pers, semua manager dan staff langsung meeting. GM langsung instruksikan hari itu juga fokus untuk cetakan pengadaan yang harus ada di kotak kemasan. Besok malam harus sudah ada yang jadi dan langsung alokasikan semua ke outlet.

Orang yang tak punya nyali tidak sanggup mengambil keputusan darurat seperti ini. Hanya mereka yang punya pikiran taktis, percaya pada skill tim, dan siap mengambil risiko memantau sampai selesai yang berani memutuskan dengan cepat hal-hal yang dapat menyelamatkan perusahaan. Uang seberapun biasanya juga tidak jadi masalah asal semua beres sesuai kebutuhan. Lembur? Yaaa sudah biasa sih kalau orang marketing, orang percetakan, karyawan toko ngurus yang dadakan gini. Kita juga gak berasa terpaksa karena kita pun berusaha agar bisa selamat dan jualan dengan benar.

Jadi keterampilan manager yang juga syarat wajib punya adalah : keberanian pengambilan keputusan dengan cepat. Ini bukan skill main-main karena kenyataannya orang awam ngambil keputusan untuk dirinya saja mencla-mencle apalagi mengambil keputusan yang membawa hajat hidup orang banyak, bisa mendadak pingsan karena ketakutan mungkin.

Dari pemimpin-pemimpin yang pernah saya kenal juga saya lihat semuanya : no fear in taking decision. Justru takutlah kalau ternyata kamu tidak bisa mengambil keputusan karena akan menghambat banyak hal. Soal benar atau tidaknya keputusan itu urusan nanti, yang penting selamatkan muka dulu. Rugi urusan belakang karena duit bisa dicari lagi.

Dibayar untuk Meeting

Dibayar untuk Meeting

Cerita waktu kerja dulu.
Di kantor tempat saya kerja dulu itu banyak manager-nya. Ya karena merek yang dipegang banyak jadi tiap merek ada manager. Tiap merek bukan hanya 1 manager, bisa ada 2 : Sales manager lalu Marketing Manager yang melapor ke General Manager merek tersebut. Jadi satu divisi merek yaaa minimal ada 3 manager deh 🀣. Di bawah tiap manager ada supervisor atau staff.

Semua tim manager usia rata-rata 25-35 tahun. Kalau meeting bareng semua divisi, satu ruangan ya isinya manager semua dan meeting-nya lamaaaa…

Para manager muda ini jadi resah gelisah kalau meeting lama. Sudah gak boleh angkat telepon (tapi masih bisa SMS-an). Ada yang protes ke boss, merasa kalau meeting jadi gak bisa kerjain yang lain sementara tugas masih menumpuk. Lalu setelah meeting kita semua keluar dengan otak penuh mikirin kerjaan yang makin menumpuk.

Terus si boss selalu jawab gini tiap ada yang protes meeting : Heiii… Gua bayarin lu tuh untuk meeting! Lu tuh pemimpin, yang kerjain tugas lu selama meeting itu staff. Kalau lu mau jadi staff keliling-keliling outlet ngapain gua gaji lu sebagai manager.

Jadi sejak itu tertanam kalau kita dibayar untuk meeting bukan beresin urusan yang bisa diberesin staff. Kita harus naikkin level soalnya boss udah naikkin level kita tapi otak masih level staff yang tugasnya operator bukan konseptor. Tanpa konsep, operator gak jalan. Otomatis tanpa konseptor, bisnis gak jalan.

Nah kalau ketemu manager yang ribet dengan urusan operator bisa jadi :
1. Lagi kurang kerjaan alias gabut πŸ˜‚
2. Ada staff gak masuk atau berhenti, terpaksa rangkap-rangkap
3. Emang gak ada staff karena management diri sendiri 😁
4. Belum siap jadi manager, betahnya jadi staff (banyak loh yang begini)
5. Gak bisa jadi manager yang percaya dengan orang dalam mendelegasikan tugas.

Jadi manager itu lebih ke softskill personality. Kalau hard skill itu sudah jelas harus punya tapi mereka yang unggul dalam softskill yang tahan jadi manager yang bisa diandalkan. Kalau gak tahan mengembangkan softskill-nya maka biasanya jadi one man show manager & staff.

Next saya bahas cerita lucu-lucu seputar softskill manager-manager top yang saya pernah lihat.

FAQ in Digital Marketing : How to Get Many Followers?

The most questions that I got in a digital marketing material lesson are: How to Get Many Followers? Every digital marketer class could provide some technical tips in order to get followers. One of them is by learning the rules of social media algorithms. But too bad, after trying to follow those bunch of tips, the result is nothing. It still doesn’t increase your followers significantly.

Unfortunately, the science of marketing is not the same character as the empirical mathematical calculations which is represented by the digital system. In fact, getting followers is not as easy as following the flow of a computer program machine. Because we forget, the most important variable in the algorithm program is still probability theory. So the more social media users, the smaller probability for you to get your turn to be raised by the system. So understanding the robot system tips is not the main key. Remember, robots are only our assistants, the determinant is still us, the humans.

So, usually after discussing the technicalities, digital marketing mentors will remind you that it’s useless to know the Artificial Intelligence mechanism if the drivers and executor of AI actions (means : the human) are not involved in it. All sophisticated algorithm systems will depend on the account owner because:

* The system will be consistent if the humans consistently provide content/tasks to be distributed.

* Creativity could occur when we as account owners, use the advantage of the insights which is provided by the system in helping us to make better content / work ideas.

* The most crucial and being forgotten often is : our followers are humans, they cannot be considered as robots who will automatically follow even though our content is super interesting. So a personal and community approach remains the most important way instead of relying on robots to spread our creativity. Unless we are famous artists, people will follow our account if at least they know our behavior or attitude on social media. Unfortunately, robots can’t get along, so online or offline socializing in my opinion is more important than just posting diligently.

Finally, may I try to answer the question above again: how to increase followers? I won’t answer it with technical theories on social media. I am going to ask him/her back: how far is your impact and influence to your social media friends? If the answers are : I almost never post about myself, I don’t have many friends, I’m lazy to interact at social media, then what I would like to fix is ​​the digital marketing attitude mindset first. I’ll teach you how to attract your environment. That’s why I always start my workshop with personal brand strategy in digital world. When he/she knows what to improve from his mindset in digital marketing already, then I believe that he could manage technical tips for running his/her social media according to how the algorithm engine works.

For the conclusion of this topic, we have to understand that followers are reward from the strategies. So if you want to get more rewards, you have to do more efforts.Β 

Femikhirana (Digital Marketing Strategist)