Soft Skill Manager (Part 3)
Berimajinasilah!
Ketika lagi ngalor ngidul di chat dengan seorang teman saya yang dulu adalah Finance Accounting Manager dia cerita kalau dia lagi sambil mikir-mikir.
“Mikirin apa?” tanya saya.
“Mikirin ide, sistem, konsep, rumus untuk kelola keuangan biar lebih efektif, efisien. Kalau sudah gini jadi agak harus mengkhayal-khayal gitu kan??”
“Emang…” timpal saya.
Saya gak terlalu bisa membayangkan kalau mengkhayal untuk konsep keuangan tuh gimana tapi yang jelas kalau di divisi keuangan saja para manager harus menggunakan pikiran out of the box kepentingan efisiensi, apalagi divisi Marketing seperti kerjaan saya hehehe… Bukan mengkhayal lagi kayaknya tapi rada menjurus ke halu hehehe…
Tentu yang dipikirkan oleh para pemimpin bukan khayalan atau halu yang tidak bisa diwujudkan. Khayalan yang bisa dibuat strateginya sehingga tujuan atau mimpi terwujud. Khayalan yang bisa dibuat sistemnya sehingga apa yang kita inginkan bisa tercapai.
Contoh konkretnya : bila kita mau efisiensi biaya transportasi, maka para manager harus memeriksa semua komponen biaya yang bisa diefisiensikan. Kemudian ia mengumpulkan semua informasi tentang sistem transportasi kota/negara yang ada saat ini bahkan kalau perlu rute-rute jalanan pun dia harus cari informasinya. Setelah itu diperiksa opsi-opsi apa yang bisa digunakan agar biaya bisa dikurangi. Namun, si manager pun bisa berimajinasi, seandainya di kantor punya mobil inventaris untuk antar jemput kira-kira gimana ya perhitungannya. Lalu mulailah ia mencari informasi semua kemungkinan investasi yang bagus untuk mobil perusahaan. Dia hitung biaya penyusutannya, semua komponen biaya yang bakal terjadi bila mobil tersebut ada. Ternyata kalau punya mobil antar jemput sendiri, biaya transportasi karyawan bisa dihemat sebesar 30%. Tapi kan mobil gak ada… Jadi hanya diimajinasikan semua seolah-olah nyata dan bila diwujudkan maka kurang lebih tujuan perusahaan akan tercapai.
Kerjaan manager memang yang diandalkan adalah pikirannya. Jadi jangan berkesimpulan :
“Atasan saya mah gak ngapa-ngapain tuh…! Kita yang setengah mati di pabrik. Dia mah duduk aja di ruangannya yang ber-AC, duduk depan komputer, kadang keliatan bengong aja.”
Yaaa namanya juga beda level pemahaman, jadi dimaklumi saja kalau ada pola pikir yang menganggap level managerial hanya ongkang-ongkang kaki sementara karyawan operasional yang pontang-panting. Level pontang-panting managerial itu beda soalnya, gaes…
Manager itu sudah harus cemas was-was kalau di otaknya tidak ada inovasi yang bisa disarankan ke perusahaan. Sehingga semua target perusahaan tidak tercapai. Kalau target tidak tercapai itu alamat manager biasanya ketar-ketir. Ketar-ketir mikirin nasib karyawan lain loh, bukan nasib sendiri. Kalau boleh milih tentu lebih mudah kerja fisik dibandingkan dinilai performance-nya berdasarkan indikator otak, bener gak gaes???
Kalau level managerial sudah hilang daya imajinasinya maka calon kebangkrutan akan datang ke perusahaan itu dan semua karyawan operasional boro-boro naik gaji, tapi kehilangan pekerjaan.
Dalam keseharian saya tidak pernah melihat manager sukses yang malas hanya ongkang-ongkang kaki. Mungkin gaya duduknya emang begitu tapi otaknya ngebul walaupun gak pakai sering-sering mondar-mandir kiri kanan di pabrik.
Jadi kesimpulannya soft skill yang harus dimiliki owner atau level managerial di bagian ke-3 ini adalah :
1. Kemampuan berimajinasi tentang mimpi / tujuan perusahaan. Makanya tuh manager harus bisa menjabarkan visi misi yang emang kayak mengkhayal itu hehe…
2. Kemampuan berpikir yang kompleks namun konkret.
3. Memiliki pengetahuan yang luas, banyak baca dan tahu kondisi luar perusahaan.
4. Mampu mengelola informasi menjadi keputusan yang diperlukan.
5. Mampu mengkonsep mimpi jadi sebuah sistem konkret yang bisa diwujudkan.
Bagaimana supaya bisa punya kemampuan di atas?
1. Banyak baca buku dari komik sampai science
2. Belajar mengelola dan menganalisis informasi agar tidak kewalahan akibat banyaknya informasi, melainkan menyeleksi mana informasi yang perlu dan tidak perlu dibaca/diterapkan
3. Belajar kesenian apapun : sastra, musik, gambar, dll. Fungsinya apa? Biar gak bisanya ngomong dan ngetik doang tapi bisa mewujudkan dalam bentuk karya konkret yang bisa dipresentasikan dengan menarik dan berguna. Belajar kesenian melatih keseimbangan imajinasi dan sistem kerja logika otak dalam perencanaan untuk mewujudkan imajinasi jadi kenyataan. Saya kasih tahu rahasia dikit, orang seni biasanya jarang gaptek karena mereka punya sensitifitas untuk menerjemahkan simbol icon/gambar/chart/suara jadi satu fungsi instruksi otomatisasi.
Part 1 baca di SINI
Part 2 baca di SINI





