Soft Skill Manager (Part 3)

Soft Skill Manager (Part 3)
Berimajinasilah!

Ketika lagi ngalor ngidul di chat dengan seorang teman saya yang dulu adalah Finance Accounting Manager dia cerita kalau dia lagi sambil mikir-mikir.
“Mikirin apa?” tanya saya.
“Mikirin ide, sistem, konsep, rumus untuk kelola keuangan biar lebih efektif, efisien. Kalau sudah gini jadi agak harus mengkhayal-khayal gitu kan??”
“Emang…” timpal saya.

Saya gak terlalu bisa membayangkan kalau mengkhayal untuk konsep keuangan tuh gimana tapi yang jelas kalau di divisi keuangan saja para manager harus menggunakan pikiran out of the box kepentingan efisiensi, apalagi divisi Marketing seperti kerjaan saya hehehe… Bukan mengkhayal lagi kayaknya tapi rada menjurus ke halu hehehe…

Tentu yang dipikirkan oleh para pemimpin bukan khayalan atau halu yang tidak bisa diwujudkan. Khayalan yang bisa dibuat strateginya sehingga tujuan atau mimpi terwujud. Khayalan yang bisa dibuat sistemnya sehingga apa yang kita inginkan bisa tercapai.

Contoh konkretnya : bila kita mau efisiensi biaya transportasi, maka para manager harus memeriksa semua komponen biaya yang bisa diefisiensikan. Kemudian ia mengumpulkan semua informasi tentang sistem transportasi kota/negara yang ada saat ini bahkan kalau perlu rute-rute jalanan pun dia harus cari informasinya. Setelah itu diperiksa opsi-opsi apa yang bisa digunakan agar biaya bisa dikurangi. Namun, si manager pun bisa berimajinasi, seandainya di kantor punya mobil inventaris untuk antar jemput kira-kira gimana ya perhitungannya. Lalu mulailah ia mencari informasi semua kemungkinan investasi yang bagus untuk mobil perusahaan. Dia hitung biaya penyusutannya, semua komponen biaya yang bakal terjadi bila mobil tersebut ada. Ternyata kalau punya mobil antar jemput sendiri, biaya transportasi karyawan bisa dihemat sebesar 30%. Tapi kan mobil gak ada… Jadi hanya diimajinasikan semua seolah-olah nyata dan bila diwujudkan maka kurang lebih tujuan perusahaan akan tercapai.

Kerjaan manager memang yang diandalkan adalah pikirannya. Jadi jangan berkesimpulan :
“Atasan saya mah gak ngapa-ngapain tuh…! Kita yang setengah mati di pabrik. Dia mah duduk aja di ruangannya yang ber-AC, duduk depan komputer, kadang keliatan bengong aja.”
Yaaa namanya juga beda level pemahaman, jadi dimaklumi saja kalau ada pola pikir yang menganggap level managerial hanya ongkang-ongkang kaki sementara karyawan operasional yang pontang-panting. Level pontang-panting managerial itu beda soalnya, gaes…

Manager itu sudah harus cemas was-was kalau di otaknya tidak ada inovasi yang bisa disarankan ke perusahaan. Sehingga semua target perusahaan tidak tercapai. Kalau target tidak tercapai itu alamat manager biasanya ketar-ketir. Ketar-ketir mikirin nasib karyawan lain loh, bukan nasib sendiri. Kalau boleh milih tentu lebih mudah kerja fisik dibandingkan dinilai performance-nya berdasarkan indikator otak, bener gak gaes???

Kalau level managerial sudah hilang daya imajinasinya maka calon kebangkrutan akan datang ke perusahaan itu dan semua karyawan operasional boro-boro naik gaji, tapi kehilangan pekerjaan.

Dalam keseharian saya tidak pernah melihat manager sukses yang malas hanya ongkang-ongkang kaki. Mungkin gaya duduknya emang begitu tapi otaknya ngebul walaupun gak pakai sering-sering mondar-mandir kiri kanan di pabrik.

Jadi kesimpulannya soft skill yang harus dimiliki owner atau level managerial di bagian ke-3 ini adalah :
1. Kemampuan berimajinasi tentang mimpi / tujuan perusahaan. Makanya tuh manager harus bisa menjabarkan visi misi yang emang kayak mengkhayal itu hehe…
2. Kemampuan berpikir yang kompleks namun konkret.
3. Memiliki pengetahuan yang luas, banyak baca dan tahu kondisi luar perusahaan.
4. Mampu mengelola informasi menjadi keputusan yang diperlukan.
5. Mampu mengkonsep mimpi jadi sebuah sistem konkret yang bisa diwujudkan.

Bagaimana supaya bisa punya kemampuan di atas?
1. Banyak baca buku dari komik sampai science
2. Belajar mengelola dan menganalisis informasi agar tidak kewalahan akibat banyaknya informasi, melainkan menyeleksi mana informasi yang perlu dan tidak perlu dibaca/diterapkan
3. Belajar kesenian apapun : sastra, musik, gambar, dll. Fungsinya apa? Biar gak bisanya ngomong dan ngetik doang tapi bisa mewujudkan dalam bentuk karya konkret yang bisa dipresentasikan dengan menarik dan berguna. Belajar kesenian melatih keseimbangan imajinasi dan sistem kerja logika otak dalam perencanaan untuk mewujudkan imajinasi jadi kenyataan. Saya kasih tahu rahasia dikit, orang seni biasanya jarang gaptek karena mereka punya sensitifitas untuk menerjemahkan simbol icon/gambar/chart/suara jadi satu fungsi instruksi otomatisasi.

Part 1 baca di SINI

Part 2 baca di SINI

Digital Behavior 2023

Digital Behavior 2023 (2)
Karakteristik pengguna yang koplak di berbagai medsos.

Seleksi pertemanan di FB
Paling gampang lihat kelakuan user FB yang layak jadi friend atau tidak. Usia kebanyakan di atas 30, di saat banyak yang ngerasa udah perlu tempat untuk pelampiasan pendapat tanpa merasa malu bahkan gak masalah kalau mempermalukan diri. Orang koplak rata-rata modelnya gini di FB :

1. Ngomongin orang statusnya ribet, tapi status dia lebih ribet. Laper kehujanan sendiri sambil marah-marah dan doa pada Tuhan di status saja nulis bisa dua paragraf, minimal 400 karakter kayaknya.

2. Ngomongin profile picture orang gak jelas, tapi gak nyadar profile picture-nya sendiri juga bukan fotonya sendiri.

3. Komennya membosankan dan nanya sesuatu yang gak nyambung karena dijawab juga ujungnya pembelaan diri.

Yang gini ya auto unfollow aja. Perlu waktu 100 tahun untuk jadi customer karena pola pikirnya maju selangkah mundur 100 langkah.

Dengan kata lain : orang yang tidak konsisten di FB bukan calon teman yang pas di FB. Dan cari yang inkonsisten paling gampang emang di FB karena user-nya merasa bebas nulis tanpa mikirin efek samping hehe…

Seleksi pertemanan di IG :
1. Kalau gak kenal, akun private, auto blokir. Jangan coba-coba dibiarin. Pantau follower tiap hari bukan setahun sekali. Ada yang men-curigation langsung blokir. Kalau tidak blokir dampaknya mereka akan follow teman-teman kita dan nanti takutnya sasarannya adalah teman kita juga.

2. Kalau tidak kenal, akun dibuka, gak ada posting, gak usah folback. Tak perlu sampai berbaik hati folback segala.

3. Lihat status di-like sama akun IG bule tak dikenal, apalagi cewek2 yang langsung kelihatan semua onderdilnya, auto blokir aja. Kalo gak diblokir ntar algoritmanya ngalir banyak dilihat orang model begituan juga hehehe…

Seleksi pertemanan di TikTok :
Nah ini yang agak fenomenal. Di Tiktok yang terlihat liar ternyata di-follow gak bikin parno. Sampai sekarang belum pernah lihat akun open BO di Tiktok yang ganggu-ganggu. Di IG malah banyakkkk… Jadi so far selama akun dilindungi two factor authentication dan tidak diganggu inbox yang macam-macam ya nyantai aja. Paling banyak sih orang inbox invite untuk nonton live. Tapi bisa diabaikan karena yaaa namanya juga mereka usaha, kita gak mau nonton ya cuekin aja. Walaupun dari segi konten Tiktok banyak yang suka koplak tapi untuk dapat follower di Tiktok paling aman dari gangguan.

Seleksi pertemanan di Linked In :
Sejak diambil alih Microsoft, Linked jadi kayak pasar beneran. Awalnya pasar tenaga kerja, lama-lama banyak orang koplak juga masuk yang merusak dunia pasaran.

Hati-hati di aplikasi profesional, tukang tipunya beneran jauh lebih profesional loh! Yang propaganda pun tak maen-maen.

Seleksinya mirip dengan FB, mudah!
Selama orang yang posting tidak konsisten, ya tidak perlu follow atau connected. Banyak yang tidak konsisten, misalnya :
1. Posting yang profesional di jendelanya tapi komen di postingan profil yang fotonya menarik dengan kalimat menjurus flirting.
2. Posting profesional bercampur dengan posting agama, politik, plus hoax. (Banyak yang gini)

Satu lagi nih… Jangan berharap dapat banyak connection terus bisa dapat kerjaan dari yang rajin posting. Rajin posting itu indikasinya mereka juga banyak waktu luang, nganggur, nyari komunitas, jadi ngarepin mereka bisa do something to your account itu keajaiban.

Beberapa orang yang contact saya bahas kerjaan cenderung kebanyakan yang jarang komen cari relasi. Jadi ngeliat mereka yang suka komen ngarep di seleb Linked itu aslinya bikin geleng-geleng kaki eh kepala.

KESIMPULAN :
PENGEN JADI TEMAN BERKUALITAS, perbaiki prilaku digital jangan sampai kayak di atas itu. Dijamin kalo gak nyebelin, berkah melimpah di dunia. Dijamin! Gak berlaku buat yang nyari berkah melimpah di akhirat tapi di dunia asli dan maya dia reseh…

Soft Skill Manager (Part 2)

Part 1 di SINI

Ini awal didikan dari boss saya ketika saya baru saja diangkat jadi manager. Saat itu saya diminta untuk membuat meeting bersama para dealer yang akan mendukung program kerja divisi saya. Akhirnya saya dan boss saya sudah menentukan tempat dan tanggal, tinggal telepon dealer-nya untuk datang.

Karena saya masih belum terlalu banyak kenal dengan dealer yang ada, boss saya minta rekan manager lainnya untuk bantu telepon dealer bawaan mereka masing-masing agar datang ke meeting yang saya buat. Lalu saya tinggal tanya saja ke manager lain siapa saja yang bakal hadir.

Kelihatannya gampang. Tapi ketika saya minta tolong dengan instruksi dari Boss, rekan manager lain banyak yang merespons negatif dan pesimis :
“Hmmm susah loh, Fem. Mereka sibuk jam segitu, belum tentu mau datenglah!”
“Emang mau ngomong apa sih? Kan bisa pake telepon atau kita yang sampein?”
Banyaklah kalimat-kalimat yang intinya para dealer tidak akan hadir ke meeting saya. Padahal Boss saya juga bakal hadir.

Berbagai alasan dari para manager senior tentang dealer yang sibuk atau belum tentu mau datang saya sampaikan ke Boss. Siapa tahu kita bisa buat cara yang lebih pas untuk para dealer agar bisa paham proyek kerja saya. Tapi Boss saya geleng-geleng kepala aja, menolak usulan cara lain, jadi harus meeting biar semua jelas dan kelar dalam hari itu, langsung proyek bisa dimulai.

“Kamu jangan dengerin orang laen, Fem. Udah kamu telepon mereka sendiri aja kalau gitu… Kamu aja yang ngomong sekalian kenalan. Pasti dateng deh!”

“Mereka ngomong dealer gak bakal dateng itu pendapat mereka, bukan dealer-nya! Cari gampangnya aja biar gak ribet bujuk-bujuk dateng. Mereka fokus sama kerjaan mereka sendiri. Jadi kamu telepon aja sendiri.”

Akhirnya saya telepon sendiri semua dealer yang mau diundang. Ya dari kenalan sambil mengundang dan memberi kisi-kisi materi meeting. Anehnya semua responsnya positif dan semua bilang bakal dateng. Weh??!! Bener juga si Boss bilang…

Meeting berjalan sangat menyenangkan, sukses, semua setuju presentasi saya. Waktu mau pulang, Boss saya kembali lagi ngomong ke saya :
“Tuh kan, Fem! Pada dateng kan… Kamu jangan dengerin yang lain. Beda kerjaan, beda kepentingan, beda orang, respons beda. Aku tuh yakin mereka mau dateng. Kalo ada yang negatif kamu jangan langsung terima, harus verifikasi dan buktiin sendiri apa emang kayak gitu kondisinya…”

Sejak itu saya yang aslinya udah PeDe jadi tambah yakin bila yang dibutuhkan seorang pemimpin itu :
* Pede, yakin dengan program kerja yang sudah dibuat dengan rapih walaupun banyak yang sangsi bakal gagal.
* Buktikan bila pendapat orang negatif kebanyakan itu salah dengan cara membuat strategi yang benar-benar kuat dari perencanaan sehingga kita dapat mengantisipasi semua bentuk pertanyaan yang kesannya mencari kelemahan.
* Ketulusan dan integritas personality itu penting dalam mengajak / menyajikan gagasan. Jujur waktu saya telepon, saya ini bukan siapa-siapa, skill jualan pun saya masih belum banyak tahu, saya sudah harus pegang divisi retail. Tapi yang membuat semua dealer pada akhirnya jadi partner dan teman saya ya ketulusan dan kepribadian.

PHK Massal = Kesempatan Jadi Boss

PHK Massal = Kesempatan Jadi Boss

Tindakan PHK massal start up terkenal GoTo dan Ruang Guru makin menunjukkan perusahaan itu akan efisien bila menggunakan sistem project terhadap skillful employee tapi tugasnya selesai saat perusahaan sudah berjalan baik. Ketika perusahaan sudah bisa berjalan dengan sistem, maka calon yang diberhentikan dulu adalah Programmer, Designer, dan tim yang berhubungan dengan database. Yang dipertahankan justru kebanyakan adalah tenaga operator yang bisa multitasking. Maintenance sistem yang berkala tidak perlu lagi ratusan perancang dan pembuat program.

Ngenes? Punya skill tinggi tapi dipecat juga.
Hmmm bagi yang memikirkan kenyamanan gaji bulanan mungkin merasa jadi programmer kok digituin banget. Tapi kalau buat saya yang lebih banyak self employ, memang wajar kok kalau pekerjaan yang berkenaan dengan perancangan software itu bersifat kontrak atau base on project. Gak perlu merasa masa depan gak stabil. Justru aneh kalau pola pikir programmer begitu. Sejatinya di kerjaan kreatif atau perancang konsep software akan lebih menghasilkan bila dilakukan perhitungan project. Programmer bisa kerja dengan banyak project dalam satu waktu atau kalau dia hanya mengerjakan satu project dalam satu waktu lalu setelah itu selesai dia harus cabut ya dia sudah punya portofolio yang lebih keren dan habis itu dia bisa dapat project baru yang lebih besar fee-nya daripada jadi orang gajian standar yang naiknya lama.

Jadi sebenarnya sejak awal raksasa Start Up ini yang justru seharusnya gak perlu pakek gaya-gaya rekrutmen besar-besaran, bikin kantor kayak mall biar karyawan betah. Memang sihhh keren tapi itu juga pemborosan aslinya. Uang fix cost fasilitas mall di kantor itu kalau ujung-ujungnya malah bikin cashflow mandek dan ratusan karyawan tidak dibayar gaji ya mendingan gak perlu itu fasilitas main Virtual Reality game di kantor, duitnya bisa untuk nafas panjang.

Anehnya lagi walaupun ratusan pengangguran baru hadir tapi selalu saja tak kurang lowongan kerja bertaburan. Artinya perusahaan juga tetap ada yang susahhh banget dapat karyawan yang mau tetap. Lucu juga, di satu sisi banyak karyawan pengen jadi karyawan tetap, tapi di perusahaan menengah dan kecil mau cari karyawan tetap tuh susah benerrrrr… Kalau kurang lahan pekerjaan sudah pasti web loker gak laku. Kenyataannya selalu laku.

Jadi sadari saja kemungkinan untuk jadi karyawan di perusahaan besar dan gaji bagus itu memang tidak mudah. Kalau ngotot tidak mau turunkan standar masuk perusahaan skala menengah ya alamat keluarga bisa telantar. Jadi gimana baiknya?
Nah welcome to disruptive world yang aslinya gak membatasi kita mau cari uang dari mana saja atau bidang apa saja selama ada peluang. Beberapa materi konten Tiktok saya selalu bahas kita ini bisa bekerja resmi untuk standar kebutuhan tapi tentu mau lebih, nah lebihnya cari sendirilah. Ada dunia tambahan selain dunia yang biasa kita hadapi, untuk cari uang tambahan. Ini sudah style era transformasi digital, multiverse, multi position, multi jobs, multi income juga dong jadinya. Ingat KEBUTUHAN KITA ITU BUKAN TANGGUNG JAWAB OWNER PERUSAHAAN TEMPAT KITA BEKERJA. Jadi percuma di era sekarang nyari terus kerjaan tetap bergaji besar dan stabil tapi malah gak dapat-dapat kerjaan model gitu. Mending ikuti style yang bisa lebih menguntungkan kalau dijalanin dengan tekun yaitu : yang penting dapat kerja semaksimal yang dulu, yang penting dapat duit dulu deh dan minimal ga kelaperan.. Nah kalau gak kelaparan bisa tuh otak diajak mikir akhirnya : kerjain apa lagi yaaa buat nambah kerjaan tetap. Cari banyak referensi profesi yang bisa dilakukan sambilan di kantor tapi gak ganggu kerjaan utama juga. Ini sudah akan jadi lumrah ke depannya.

Menyiksa bagi yang suka kemapanan? Ingat ajalah kalo kurang duit tetap aja gak mapan. Kemapanan itu tetap level yang pasti tercapai kok, tapi ya harus terima dulu kondisi era sekarang ya kemapanan malah bisa diraih dari banyak tempat, bukan satu tempat. Tiap orang sekarang kalau mau mapan bukan hanya punya jiwa loyal dengan perusahaan tapi juga punya jiwa entrepreneurship untuk jadi pemimpin bagi diri sendiri. Jadi karyawan sekaligus jadi boss, apa salahnya? Yang sudah di-PHK ini dikasih pesangon yang amat sangat lumayan loh.. Jadi kalau mau coba jadi boss bisa, sudah ada modal dikit… Ya tentu harus punya strategi, nah ini yang harus dipelajari. Makanya jiwa entrepreneurship itu penting dilatih bahkan ketika jadi karyawan pun tetap harus punya mental entrepreneurship. Karena pas kepepet penghasilan kurang, sudah bisa beralih jadi Boss. Keren kan kepepet malah jadi Boss 👍

Soft Skill Manager (Part 1)

Suatu hari saya sedang ada meeting dengan kantor principal sebuah merek ponsel Eropa yang sekarang sudah almarhum mereknya. Kantor principal itu yaaa sejenis kantor pusat pemilik merek gitu. Saya yang kerja di kantor distributor sudah biasa kalau bolak balik meeting dan kerja bareng tim dari kantor principal.

Nah ada dua kisah yang mau saya sampaikan dari kantor ini.

Pertama : Tukang Ingetin
Tiap meeting saya beberapa kali dengerin manager di kantor principal ngomong dengan betenya : “Heran, gua di sini jadi tukang inget-ingetin kalian ya! Masak tiap meeting kerjaan gua cuman ingetin mulu yang kalian belum kerjain??!!”
Saya mah diem aja mendengar dengan seksama karena bukan saya yang diomelin, melainkan rekan di kantor principal. Saya solider aja ikut meresapi hehe…

Ntar kalau sudah kelar meeting, saya siap kuping lagi kalau si Bapak manager curhat-curhat sebel karena merasa paling ingat sendiri semua kerjaan yang harus dikerjain. Saya sering juga ngekor ke mana dia pergi kalau lagi di lapangan, soalnya saya yang paling gak sebel dengan beliau hihihi… Lah wong saya bukan karyawan di sana kannn, jadi saya itu mewakili Boss atau GM kantor saya sebagai partner manager kantor principal.

Nah dari beliau saya jadi paham juga softskill yang memang harus dimiliki pemimpin :
Daya ingat harus kuat. Gak ada manager lupaan tuh, asli gak ada! Dia bisa lupa hal-hal yang gak penting tapi ingat semua yang penting. Kerjaan manager salah satunya kan emang controlling jadi emang udah kayak tukang ingetin hehehe… Dah terima nasib aja tuh bapak manager, berkat keahliannya mengatur dan mengingat terbukti si bapak manager bisa cepat promosi ke posisi yang lebih tinggi lagi.

Kenapa bisa inget? Karena fokus. Ketika ada promosi untuk cari manager salah satu keahlian yang harus unggul ya itu : punya memori kuat sehingga kalau ada apa-apa bisa obyektif dalam pengambilan keputusan karena ingat semua kronologis dan alur tugas-tugas yang didelegasikan.

Kedua : Keberanian dan Kecepatan dalam Pengambilan Keputusan
Di kantor ini di atas manager ada GM. Usia jauh lebih senior. Bawaannya nyantai aja, agak nyeleneh, tapi kalau sudah serius karismanya gak ada yang bisa lawan.

Yang paling kami pelajari adalah ketika ada konferensi pers / interview seputar masalah persyaratan produk elektronik luar yang masuk ke Indonesia. Saya lupa persis kasusnya tapi ketika si GM ditanya mengenai kelengkapan manual procedure di dalam kotak kemasan apakah sudah sesuai aturan, jawabannya : Sudah! Padahal aslinya belum!
Tentu kalau jawab belum malah jawaban bunuh diri.

Setelah konferensi pers, semua manager dan staff langsung meeting. GM langsung instruksikan hari itu juga fokus untuk cetakan pengadaan yang harus ada di kotak kemasan. Besok malam harus sudah ada yang jadi dan langsung alokasikan semua ke outlet.

Orang yang tak punya nyali tidak sanggup mengambil keputusan darurat seperti ini. Hanya mereka yang punya pikiran taktis, percaya pada skill tim, dan siap mengambil risiko memantau sampai selesai yang berani memutuskan dengan cepat hal-hal yang dapat menyelamatkan perusahaan. Uang seberapun biasanya juga tidak jadi masalah asal semua beres sesuai kebutuhan. Lembur? Yaaa sudah biasa sih kalau orang marketing, orang percetakan, karyawan toko ngurus yang dadakan gini. Kita juga gak berasa terpaksa karena kita pun berusaha agar bisa selamat dan jualan dengan benar.

Jadi keterampilan manager yang juga syarat wajib punya adalah : keberanian pengambilan keputusan dengan cepat. Ini bukan skill main-main karena kenyataannya orang awam ngambil keputusan untuk dirinya saja mencla-mencle apalagi mengambil keputusan yang membawa hajat hidup orang banyak, bisa mendadak pingsan karena ketakutan mungkin.

Dari pemimpin-pemimpin yang pernah saya kenal juga saya lihat semuanya : no fear in taking decision. Justru takutlah kalau ternyata kamu tidak bisa mengambil keputusan karena akan menghambat banyak hal. Soal benar atau tidaknya keputusan itu urusan nanti, yang penting selamatkan muka dulu. Rugi urusan belakang karena duit bisa dicari lagi.

Dibayar untuk Meeting

Dibayar untuk Meeting

Cerita waktu kerja dulu.
Di kantor tempat saya kerja dulu itu banyak manager-nya. Ya karena merek yang dipegang banyak jadi tiap merek ada manager. Tiap merek bukan hanya 1 manager, bisa ada 2 : Sales manager lalu Marketing Manager yang melapor ke General Manager merek tersebut. Jadi satu divisi merek yaaa minimal ada 3 manager deh 🤣. Di bawah tiap manager ada supervisor atau staff.

Semua tim manager usia rata-rata 25-35 tahun. Kalau meeting bareng semua divisi, satu ruangan ya isinya manager semua dan meeting-nya lamaaaa…

Para manager muda ini jadi resah gelisah kalau meeting lama. Sudah gak boleh angkat telepon (tapi masih bisa SMS-an). Ada yang protes ke boss, merasa kalau meeting jadi gak bisa kerjain yang lain sementara tugas masih menumpuk. Lalu setelah meeting kita semua keluar dengan otak penuh mikirin kerjaan yang makin menumpuk.

Terus si boss selalu jawab gini tiap ada yang protes meeting : Heiii… Gua bayarin lu tuh untuk meeting! Lu tuh pemimpin, yang kerjain tugas lu selama meeting itu staff. Kalau lu mau jadi staff keliling-keliling outlet ngapain gua gaji lu sebagai manager.

Jadi sejak itu tertanam kalau kita dibayar untuk meeting bukan beresin urusan yang bisa diberesin staff. Kita harus naikkin level soalnya boss udah naikkin level kita tapi otak masih level staff yang tugasnya operator bukan konseptor. Tanpa konsep, operator gak jalan. Otomatis tanpa konseptor, bisnis gak jalan.

Nah kalau ketemu manager yang ribet dengan urusan operator bisa jadi :
1. Lagi kurang kerjaan alias gabut 😂
2. Ada staff gak masuk atau berhenti, terpaksa rangkap-rangkap
3. Emang gak ada staff karena management diri sendiri 😁
4. Belum siap jadi manager, betahnya jadi staff (banyak loh yang begini)
5. Gak bisa jadi manager yang percaya dengan orang dalam mendelegasikan tugas.

Jadi manager itu lebih ke softskill personality. Kalau hard skill itu sudah jelas harus punya tapi mereka yang unggul dalam softskill yang tahan jadi manager yang bisa diandalkan. Kalau gak tahan mengembangkan softskill-nya maka biasanya jadi one man show manager & staff.

Next saya bahas cerita lucu-lucu seputar softskill manager-manager top yang saya pernah lihat.

FAQ in Digital Marketing : How to Get Many Followers?

The most questions that I got in a digital marketing material lesson are: How to Get Many Followers? Every digital marketer class could provide some technical tips in order to get followers. One of them is by learning the rules of social media algorithms. But too bad, after trying to follow those bunch of tips, the result is nothing. It still doesn’t increase your followers significantly.

Unfortunately, the science of marketing is not the same character as the empirical mathematical calculations which is represented by the digital system. In fact, getting followers is not as easy as following the flow of a computer program machine. Because we forget, the most important variable in the algorithm program is still probability theory. So the more social media users, the smaller probability for you to get your turn to be raised by the system. So understanding the robot system tips is not the main key. Remember, robots are only our assistants, the determinant is still us, the humans.

So, usually after discussing the technicalities, digital marketing mentors will remind you that it’s useless to know the Artificial Intelligence mechanism if the drivers and executor of AI actions (means : the human) are not involved in it. All sophisticated algorithm systems will depend on the account owner because:

* The system will be consistent if the humans consistently provide content/tasks to be distributed.

* Creativity could occur when we as account owners, use the advantage of the insights which is provided by the system in helping us to make better content / work ideas.

* The most crucial and being forgotten often is : our followers are humans, they cannot be considered as robots who will automatically follow even though our content is super interesting. So a personal and community approach remains the most important way instead of relying on robots to spread our creativity. Unless we are famous artists, people will follow our account if at least they know our behavior or attitude on social media. Unfortunately, robots can’t get along, so online or offline socializing in my opinion is more important than just posting diligently.

Finally, may I try to answer the question above again: how to increase followers? I won’t answer it with technical theories on social media. I am going to ask him/her back: how far is your impact and influence to your social media friends? If the answers are : I almost never post about myself, I don’t have many friends, I’m lazy to interact at social media, then what I would like to fix is ​​the digital marketing attitude mindset first. I’ll teach you how to attract your environment. That’s why I always start my workshop with personal brand strategy in digital world. When he/she knows what to improve from his mindset in digital marketing already, then I believe that he could manage technical tips for running his/her social media according to how the algorithm engine works.

For the conclusion of this topic, we have to understand that followers are reward from the strategies. So if you want to get more rewards, you have to do more efforts. 

Femikhirana (Digital Marketing Strategist)

FAQ : Bagaimana Cara Mendapat Banyak Follower???

Pertanyaan terbanyak dalam suatu pelajaran materi digital marketing yaitu : Bagaimana Cara Mendapat Banyak Follower? Setiap kelas digital marketing ataupun para mentor digital bisa saja memberikan tips-tips berupa langkah yang bersifat teknis. Salah satunya adalah mempelajari kunci dari aturan algoritma media sosial. Tapi hasilnya ternyata setelah mencoba mengikuti serangkaian tips masih tidak menambah follower secara signifikan.

Sayangnya ilmu marketing itu tidak sama sifat empirisnya dengan perhitungan matematis yang diwakili oleh sistem digital. Kenyataannya untuk mendapatkan follower memang tidak semudah mengikuti alur mesin program komputer. Karena kita lupa, variabel terpenting dalam program algoritma itu tetaplah teori probabilitas, jadi semakin banyak pengguna media sosial maka semakin kecil juga probabilitas untuk mendapat giliran terangkat oleh sistem. Jadi memahami tips sistem robot saja bukan penentu. Ingat, robot hanya asisten, penentunya tetap kita, manusianya.

Jadi biasanya setelah membahas teknis, para mentor digital marketing akan mengingatkan bila percuma saja mengetahui mekanisme Artificial Inteligent bila penggerak dan pengeksekusi hasil tindakan AI tidak terlibat di dalamnya. Semua sistem algoritma yang canggih akan tergantung kembali pada pemilik akun karena :

  • Sistem akan konsisten bila manusianya konsisten memberi konten/tugas untuk disebarkan.
  • Kreatifitas bisa terjadi bila kita sebagai pemilik akun memanfaatkan insight yang diberikan sistem untuk membantu memberikan ide konten / karya yang lebih baik.
  • Yang paling krusial dan sering dilupakan adalah follower kita itu adalah manusia, tidak bisa dianggap sebagai robot yang otomatis akan follow walaupun konten kita sudah super menarik. Jadi pendekatan personal dan berkomunitas tetap adalah cara yang paling utama daripada mengandalkan robot yang menyebarkan kreatifitas kita. Kecuali kita adalah artis terkenal, maka orang akan follow akun kita bila minimal mereka tahu prilaku kita di media sosial. Sayangnya robot tidak bisa bergaul sehingga pergaulan online atau offline itu menurut saya adalah hal yang lebih penting daripada rajin posting semata.

Akhirnya, jika saya boleh menjawab pertanyaan di atas lagi : bagaimana menambah follower? Maka saya tidak akan memberi jawaban teknis dulu. Saya akan bertanya balik : seberapa besar pengaruh dan dampak yang sudah Anda buat di lingkungan teman medsosmu?
Kalau jawabannya adalah : saya nyaris tidak pernah posting tentang diri saya, saya tidak punya banyak teman, saya malas interaksi di dunia medsos, maka yang akan saya benahi adalah pola pikir digital marketing attitude dulu, saya ajarkan dulu cara untuk menarik perhatian sekitarnya. Itulah sebabnya saya selalu memulai workshop dengan materi strategi personal branding di dunia digital.
Ketika ia sudah tahu apa yang harus diperbaiki dalam prinsip digital marketing barulah saya percaya bila ia bisa mengelola tips-tips teknis untuk menjalankan medsos sesuai dengan cara kerja mesin algoritmanya.

Pada akhirnya, follower itu juga adalah hadiah dari sebuah strategi. Bila kita ingin dapat hadiah lebih, ya harus berusaha lebih.

Femikhirana (Digital Marketing Strategist)

Article in English

The most questions that I got in a digital marketing material lesson are: How to Get Many Followers? Every digital marketer class could provide some technical tips in order to get followers. One of them is by learning the rules of social media algorithms. But too bad, after trying to follow those bunch of tips, the result is nothing. It still doesn’t increase your followers significantly.

Unfortunately, the science of marketing is not the same character as the empirical mathematical calculations which is represented by the digital system. In fact, getting followers is not as easy as following the flow of a computer program machine. Because we forget, the most important variable in the algorithm program is still probability theory. So the more social media users, the smaller probability for you to get your turn to be raised by the system. So understanding the robot system tips is not the main key. Remember, robots are only our assistants, the determinant is still us, the humans.

So, usually after discussing the technicalities, digital marketing mentors will remind you that it’s useless to know the Artificial Intelligence mechanism if the drivers and executor of AI actions (means : the human) are not involved in it. All sophisticated algorithm systems will depend on the account owner because:

* The system will be consistent if the humans consistently provide content/tasks to be distributed.

* Creativity could occur when we as account owners, use the advantage of the insights which is provided by the system in helping us to make better content / work ideas.

* The most crucial and being forgotten often is : our followers are humans, they cannot be considered as robots who will automatically follow even though our content is super interesting. So a personal and community approach remains the most important way instead of relying on robots to spread our creativity. Unless we are famous artists, people will follow our account if at least they know our behavior or attitude on social media. Unfortunately, robots can’t get along, so online or offline socializing in my opinion is more important than just posting diligently.

Finally, may I try to answer the question above again: how to increase followers? I won’t answer it with technical theories on social media. I am going to ask him/her back: how far is your impact and influence to your social media friends? If the answers are : I almost never post about myself, I don’t have many friends, I’m lazy to interact at social media, then what I would like to fix is ​​the digital marketing attitude mindset first. I’ll teach you how to attract your environment. That’s why I always start my workshop with personal brand strategy in digital world. When he/she knows what to improve from his mindset in digital marketing already, then I believe that he could manage technical tips for running his/her social media according to how the algorithm engine works.

For the conclusion of this topic, we have to understand that followers are reward from the strategies. So if you want to get more rewards, you have to do more efforts. 

Jadi Bermental Kaya

Netizen mental miskin emang error pola pikirnya. Merasa wajar sebuah kehilangan dan tidak pantas diratapi hanya karena dia itu kaya dan banyak privilege-nya. Kalau buat aku ada anak yang sultan dan bisa meratap 800jt itu sampai 3 hari berarti dia menghargai nilai kehilangan kecil sekalipun. Aku walaupun ada uang 10jt, kehilangan Rp 500rb karena gagal usaha juga bikin merenung seharian kok. Trading forex kadang loss $10 (150rb) aja kepikiran seharian loh… Padahal ya cuman $10 yang notabene pengeluaran sehari bisa lebih dari itu.

Yang dia dan kita ratapi bukan hilang uang, tapi penyesalan kok bisa kita sebodoh (ceroboh, konyol, apapunlah) itu. Padahal golongan the haves itu kalau keluar uang bisa lebih dari 800jt sebulan, ngapain dia tangisin duitnya???? Yang bikin dia duduk di kamar 3 hari ya mikirin dia harus gimana sekarang, PRIDE-nya itu harganya jauh dari 800jt, itu yang ditangisi karena ada yang salah dalam dirinya. Jadi dia harus mikirin bagaimana harus bersikap, lanjutkan atau nyerah?

Justru yg aneh adalah orang kaya yang gak pedulian yang gak koreksi diri kalau uang melayang. Bahaya gini..

Yaaa entah mungkin media yang cara blowing up-nya salah, mungkin juga Putrinya kurang bisa menjelaskan apa arti kehilangan sesungguhnya, terus sesama seleb atau influencer juga saling menjatuhkan, atau anak horang kaya itu ortu yang tidak disukai khalayak ramai, jadi inti cerita hilang begitu saja.

Tapi berdasarkan apa yang kita alami sehari-hari ajalahhh menilai motivasi di sini… Kadang kita rugi Rp 10.000,- atau Rp 50.000,- aja bisa nyap-nyap dan merasa kok bego banget ya gua gak cek dulu, gak tanya-tanya dulu, jadi masalah besar juga padahal yaaa cuman ceban goban! Nah masalahnya bukan di kehilangan ceban goban tapi kehilangan semangat dan kehilangan motivasi, trauma, sedih kenapa aku bisa gagal, bisa salah, bisa bego. Lalu keputusan di tangan kita, mau belajar dari kesalahan dan cari cara nutupin rugi ceban goban, atau pasrah saja sudah rugi dan berhenti.

Inilah masalah dan gaya berpendapat ala mental kaya dan miskin, mental nyerah dan mental berjuang. Ada anak yang dapat nilai 7 dan merasa sedih karena biasa dapat nilai 10, terus ada yang ngenyek : Halahhhhh lebai amat, biasa dapat 10 juga, sekarang dapat 7. Tuhhh si A dapat 5 aja gak sedihhh… Ealahhh… Anak yang punya mental kaya dan berjuang ya pasti wajar merasa kehilangan dirinya saat tidak berhasil. Anak yang punya mental miskin dan nyerah ya pasrah aja dapat segitu, mampunya segitu, syukuri aja, padahal kalau mau belajar bisa dapat 7, tapi pakai alibi Ketuhanan yang Masa Esa : udah takdir gue, lihat aja gimana nanti kaki melangkah, semua gue serahkan ke Tuhan terus dia lanjut rebahan 😆

Kalau ada yang merasa emang mau mengubah nasib miskin dengan mental kaya pasti bisa kok.. Jadi teori ini buat siapa saja anak sultan atau anak penggangguran. Mau bapaknya kaya bisa kasih modal banyak maupun yang bapaknya tidak kaya itu sama-sama berjuang dan sama-sama punya privilege. Jangan dikira jadi orang biasa tidak punya privilege, jangan underestimate ke diri sendiri. Bedanya orang kaya memang semua sudah tersedia tapi kalau dia tidak bisa menjaga dan memanfaatkannya atau mengembangkannya ya sama aja, duit itu bisa hilang juga. Jadi golongan the haves itu juga pasti berjuang kalau tidak gaya hidup yang akan menggerogoti sampai habis.

Cuman khusus anak yang sudah terjebak dalam lingkaran setan kemiskinan harus berani mendobrak keluar dari lingkaran itu bukan malah merasa terjebak dan ya sudah jalanin aja..

Femikhirana -digital marketing specialist-

Saya = Ular dan Merpati

CaPer 19 Januari 2022

Saya = Ular dan Merpati

“Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.” (Matius 10:16)

Terjemahan bebas : Tuhan itu membuat kita jadi orang baik + cerdas, bukan jadi orang polos, lugu, apalagi dibegoin orang atau hidup penuh kekonyolan.

Kalau dikerjain, ditekan, kita harus cari strategi yang tidak membuat kita jadi orang jahat. Namun, tidak pula harus terjebak dalam tujuan orang yang ngerjain : bikin kita ngamuk atau kita jadi lebay menunjukkan kita seorang victim adalah kemenangan orang yang ngerjain. Weh jangan sampai dong mereka tertawa berhasil membuat kita berasa tak berdaya.

Prinsip utama dalam kasih tetap begini :
Lu baik, gua baik.
Lu jahat, gua tetap baiklah!
Kalau gua ikutan jahat, apa beda gua dengan lu?

That’s why, tulus dan cerdik itu harus. Melawan orang licik hanya bisa dengan kecerdikan, dengan strategi! BUKAN malah menunjukkan keluguan, kepolosan, merengek, ikutan ngamuk bikin drama, atau balas dendam. Hal itu tak menunjukkan kebaikan kita malah kelemahan kita yang terpancing.

Banyak strategi melepaskan diri dari kerjaan srigala daripada habis energi marah, pasrah, atau malah terpengaruh jadi bego karena gas lighting. Pelajari strategi yang membungkam mulut agar tak lagi berani meremehkan kita. Strategi yang tak membuat kita hancur, tak membuat kita juga jadi orang jahat seperti lawan.

Pelajari banyak jenis strategi, misalnya : melawan strategi perang psikologis dari lawan, cari titik lemah lawan, strategi merangkul lawan. Bisa gunakan strategi tetesan air sedikit-sedikit tapi sanggup mengikis, meluluhkan, bahkan memecahkan yang batu keras setelah sekian lama. Melawan batu dengan batu malah rusak dua-duanya, sama-sama keras kita juga remuk dan ikutan brutal, tapi menggunakan strategi lawan dengan menjadi kinclong, tetap jadi baik, selalu tunjukkan kita tetap positif, tidak membenci sampai akar, akan membuat lawan menyerah sendiri.

Ingat saja tujuan musuh selalu ingin membuat kita jadi marah, semakin marah, mereka semakin senang. Selalu ingin membuat kita jadi nangis, jadi kesal, jadi tak berdaya. Cara melawannya bukan dengan balas dendam atau malah jadi kepahitan ke diri sendiri. Cara melawannya pakai strategi ular dan ketulusan merpati karena image kita itu memang bukan jadi ikutan jahat tapi tak membiarkan orang untuk mengubah diri kita untuk tetap glowing and full of kindness and blessing.