Soft Skill Manager (Part 1)

Suatu hari saya sedang ada meeting dengan kantor principal sebuah merek ponsel Eropa yang sekarang sudah almarhum mereknya. Kantor principal itu yaaa sejenis kantor pusat pemilik merek gitu. Saya yang kerja di kantor distributor sudah biasa kalau bolak balik meeting dan kerja bareng tim dari kantor principal.

Nah ada dua kisah yang mau saya sampaikan dari kantor ini.

Pertama : Tukang Ingetin
Tiap meeting saya beberapa kali dengerin manager di kantor principal ngomong dengan betenya : “Heran, gua di sini jadi tukang inget-ingetin kalian ya! Masak tiap meeting kerjaan gua cuman ingetin mulu yang kalian belum kerjain??!!”
Saya mah diem aja mendengar dengan seksama karena bukan saya yang diomelin, melainkan rekan di kantor principal. Saya solider aja ikut meresapi hehe…

Ntar kalau sudah kelar meeting, saya siap kuping lagi kalau si Bapak manager curhat-curhat sebel karena merasa paling ingat sendiri semua kerjaan yang harus dikerjain. Saya sering juga ngekor ke mana dia pergi kalau lagi di lapangan, soalnya saya yang paling gak sebel dengan beliau hihihi… Lah wong saya bukan karyawan di sana kannn, jadi saya itu mewakili Boss atau GM kantor saya sebagai partner manager kantor principal.

Nah dari beliau saya jadi paham juga softskill yang memang harus dimiliki pemimpin :
Daya ingat harus kuat. Gak ada manager lupaan tuh, asli gak ada! Dia bisa lupa hal-hal yang gak penting tapi ingat semua yang penting. Kerjaan manager salah satunya kan emang controlling jadi emang udah kayak tukang ingetin hehehe… Dah terima nasib aja tuh bapak manager, berkat keahliannya mengatur dan mengingat terbukti si bapak manager bisa cepat promosi ke posisi yang lebih tinggi lagi.

Kenapa bisa inget? Karena fokus. Ketika ada promosi untuk cari manager salah satu keahlian yang harus unggul ya itu : punya memori kuat sehingga kalau ada apa-apa bisa obyektif dalam pengambilan keputusan karena ingat semua kronologis dan alur tugas-tugas yang didelegasikan.

Kedua : Keberanian dan Kecepatan dalam Pengambilan Keputusan
Di kantor ini di atas manager ada GM. Usia jauh lebih senior. Bawaannya nyantai aja, agak nyeleneh, tapi kalau sudah serius karismanya gak ada yang bisa lawan.

Yang paling kami pelajari adalah ketika ada konferensi pers / interview seputar masalah persyaratan produk elektronik luar yang masuk ke Indonesia. Saya lupa persis kasusnya tapi ketika si GM ditanya mengenai kelengkapan manual procedure di dalam kotak kemasan apakah sudah sesuai aturan, jawabannya : Sudah! Padahal aslinya belum!
Tentu kalau jawab belum malah jawaban bunuh diri.

Setelah konferensi pers, semua manager dan staff langsung meeting. GM langsung instruksikan hari itu juga fokus untuk cetakan pengadaan yang harus ada di kotak kemasan. Besok malam harus sudah ada yang jadi dan langsung alokasikan semua ke outlet.

Orang yang tak punya nyali tidak sanggup mengambil keputusan darurat seperti ini. Hanya mereka yang punya pikiran taktis, percaya pada skill tim, dan siap mengambil risiko memantau sampai selesai yang berani memutuskan dengan cepat hal-hal yang dapat menyelamatkan perusahaan. Uang seberapun biasanya juga tidak jadi masalah asal semua beres sesuai kebutuhan. Lembur? Yaaa sudah biasa sih kalau orang marketing, orang percetakan, karyawan toko ngurus yang dadakan gini. Kita juga gak berasa terpaksa karena kita pun berusaha agar bisa selamat dan jualan dengan benar.

Jadi keterampilan manager yang juga syarat wajib punya adalah : keberanian pengambilan keputusan dengan cepat. Ini bukan skill main-main karena kenyataannya orang awam ngambil keputusan untuk dirinya saja mencla-mencle apalagi mengambil keputusan yang membawa hajat hidup orang banyak, bisa mendadak pingsan karena ketakutan mungkin.

Dari pemimpin-pemimpin yang pernah saya kenal juga saya lihat semuanya : no fear in taking decision. Justru takutlah kalau ternyata kamu tidak bisa mengambil keputusan karena akan menghambat banyak hal. Soal benar atau tidaknya keputusan itu urusan nanti, yang penting selamatkan muka dulu. Rugi urusan belakang karena duit bisa dicari lagi.

Dibayar untuk Meeting

Dibayar untuk Meeting

Cerita waktu kerja dulu.
Di kantor tempat saya kerja dulu itu banyak manager-nya. Ya karena merek yang dipegang banyak jadi tiap merek ada manager. Tiap merek bukan hanya 1 manager, bisa ada 2 : Sales manager lalu Marketing Manager yang melapor ke General Manager merek tersebut. Jadi satu divisi merek yaaa minimal ada 3 manager deh 🤣. Di bawah tiap manager ada supervisor atau staff.

Semua tim manager usia rata-rata 25-35 tahun. Kalau meeting bareng semua divisi, satu ruangan ya isinya manager semua dan meeting-nya lamaaaa…

Para manager muda ini jadi resah gelisah kalau meeting lama. Sudah gak boleh angkat telepon (tapi masih bisa SMS-an). Ada yang protes ke boss, merasa kalau meeting jadi gak bisa kerjain yang lain sementara tugas masih menumpuk. Lalu setelah meeting kita semua keluar dengan otak penuh mikirin kerjaan yang makin menumpuk.

Terus si boss selalu jawab gini tiap ada yang protes meeting : Heiii… Gua bayarin lu tuh untuk meeting! Lu tuh pemimpin, yang kerjain tugas lu selama meeting itu staff. Kalau lu mau jadi staff keliling-keliling outlet ngapain gua gaji lu sebagai manager.

Jadi sejak itu tertanam kalau kita dibayar untuk meeting bukan beresin urusan yang bisa diberesin staff. Kita harus naikkin level soalnya boss udah naikkin level kita tapi otak masih level staff yang tugasnya operator bukan konseptor. Tanpa konsep, operator gak jalan. Otomatis tanpa konseptor, bisnis gak jalan.

Nah kalau ketemu manager yang ribet dengan urusan operator bisa jadi :
1. Lagi kurang kerjaan alias gabut 😂
2. Ada staff gak masuk atau berhenti, terpaksa rangkap-rangkap
3. Emang gak ada staff karena management diri sendiri 😁
4. Belum siap jadi manager, betahnya jadi staff (banyak loh yang begini)
5. Gak bisa jadi manager yang percaya dengan orang dalam mendelegasikan tugas.

Jadi manager itu lebih ke softskill personality. Kalau hard skill itu sudah jelas harus punya tapi mereka yang unggul dalam softskill yang tahan jadi manager yang bisa diandalkan. Kalau gak tahan mengembangkan softskill-nya maka biasanya jadi one man show manager & staff.

Next saya bahas cerita lucu-lucu seputar softskill manager-manager top yang saya pernah lihat.

FAQ : Bagaimana Cara Mendapat Banyak Follower???

Pertanyaan terbanyak dalam suatu pelajaran materi digital marketing yaitu : Bagaimana Cara Mendapat Banyak Follower? Setiap kelas digital marketing ataupun para mentor digital bisa saja memberikan tips-tips berupa langkah yang bersifat teknis. Salah satunya adalah mempelajari kunci dari aturan algoritma media sosial. Tapi hasilnya ternyata setelah mencoba mengikuti serangkaian tips masih tidak menambah follower secara signifikan.

Sayangnya ilmu marketing itu tidak sama sifat empirisnya dengan perhitungan matematis yang diwakili oleh sistem digital. Kenyataannya untuk mendapatkan follower memang tidak semudah mengikuti alur mesin program komputer. Karena kita lupa, variabel terpenting dalam program algoritma itu tetaplah teori probabilitas, jadi semakin banyak pengguna media sosial maka semakin kecil juga probabilitas untuk mendapat giliran terangkat oleh sistem. Jadi memahami tips sistem robot saja bukan penentu. Ingat, robot hanya asisten, penentunya tetap kita, manusianya.

Jadi biasanya setelah membahas teknis, para mentor digital marketing akan mengingatkan bila percuma saja mengetahui mekanisme Artificial Inteligent bila penggerak dan pengeksekusi hasil tindakan AI tidak terlibat di dalamnya. Semua sistem algoritma yang canggih akan tergantung kembali pada pemilik akun karena :

  • Sistem akan konsisten bila manusianya konsisten memberi konten/tugas untuk disebarkan.
  • Kreatifitas bisa terjadi bila kita sebagai pemilik akun memanfaatkan insight yang diberikan sistem untuk membantu memberikan ide konten / karya yang lebih baik.
  • Yang paling krusial dan sering dilupakan adalah follower kita itu adalah manusia, tidak bisa dianggap sebagai robot yang otomatis akan follow walaupun konten kita sudah super menarik. Jadi pendekatan personal dan berkomunitas tetap adalah cara yang paling utama daripada mengandalkan robot yang menyebarkan kreatifitas kita. Kecuali kita adalah artis terkenal, maka orang akan follow akun kita bila minimal mereka tahu prilaku kita di media sosial. Sayangnya robot tidak bisa bergaul sehingga pergaulan online atau offline itu menurut saya adalah hal yang lebih penting daripada rajin posting semata.

Akhirnya, jika saya boleh menjawab pertanyaan di atas lagi : bagaimana menambah follower? Maka saya tidak akan memberi jawaban teknis dulu. Saya akan bertanya balik : seberapa besar pengaruh dan dampak yang sudah Anda buat di lingkungan teman medsosmu?
Kalau jawabannya adalah : saya nyaris tidak pernah posting tentang diri saya, saya tidak punya banyak teman, saya malas interaksi di dunia medsos, maka yang akan saya benahi adalah pola pikir digital marketing attitude dulu, saya ajarkan dulu cara untuk menarik perhatian sekitarnya. Itulah sebabnya saya selalu memulai workshop dengan materi strategi personal branding di dunia digital.
Ketika ia sudah tahu apa yang harus diperbaiki dalam prinsip digital marketing barulah saya percaya bila ia bisa mengelola tips-tips teknis untuk menjalankan medsos sesuai dengan cara kerja mesin algoritmanya.

Pada akhirnya, follower itu juga adalah hadiah dari sebuah strategi. Bila kita ingin dapat hadiah lebih, ya harus berusaha lebih.

Femikhirana (Digital Marketing Strategist)

Article in English

The most questions that I got in a digital marketing material lesson are: How to Get Many Followers? Every digital marketer class could provide some technical tips in order to get followers. One of them is by learning the rules of social media algorithms. But too bad, after trying to follow those bunch of tips, the result is nothing. It still doesn’t increase your followers significantly.

Unfortunately, the science of marketing is not the same character as the empirical mathematical calculations which is represented by the digital system. In fact, getting followers is not as easy as following the flow of a computer program machine. Because we forget, the most important variable in the algorithm program is still probability theory. So the more social media users, the smaller probability for you to get your turn to be raised by the system. So understanding the robot system tips is not the main key. Remember, robots are only our assistants, the determinant is still us, the humans.

So, usually after discussing the technicalities, digital marketing mentors will remind you that it’s useless to know the Artificial Intelligence mechanism if the drivers and executor of AI actions (means : the human) are not involved in it. All sophisticated algorithm systems will depend on the account owner because:

* The system will be consistent if the humans consistently provide content/tasks to be distributed.

* Creativity could occur when we as account owners, use the advantage of the insights which is provided by the system in helping us to make better content / work ideas.

* The most crucial and being forgotten often is : our followers are humans, they cannot be considered as robots who will automatically follow even though our content is super interesting. So a personal and community approach remains the most important way instead of relying on robots to spread our creativity. Unless we are famous artists, people will follow our account if at least they know our behavior or attitude on social media. Unfortunately, robots can’t get along, so online or offline socializing in my opinion is more important than just posting diligently.

Finally, may I try to answer the question above again: how to increase followers? I won’t answer it with technical theories on social media. I am going to ask him/her back: how far is your impact and influence to your social media friends? If the answers are : I almost never post about myself, I don’t have many friends, I’m lazy to interact at social media, then what I would like to fix is ​​the digital marketing attitude mindset first. I’ll teach you how to attract your environment. That’s why I always start my workshop with personal brand strategy in digital world. When he/she knows what to improve from his mindset in digital marketing already, then I believe that he could manage technical tips for running his/her social media according to how the algorithm engine works.

For the conclusion of this topic, we have to understand that followers are reward from the strategies. So if you want to get more rewards, you have to do more efforts. 

Jadi Bermental Kaya

Netizen mental miskin emang error pola pikirnya. Merasa wajar sebuah kehilangan dan tidak pantas diratapi hanya karena dia itu kaya dan banyak privilege-nya. Kalau buat aku ada anak yang sultan dan bisa meratap 800jt itu sampai 3 hari berarti dia menghargai nilai kehilangan kecil sekalipun. Aku walaupun ada uang 10jt, kehilangan Rp 500rb karena gagal usaha juga bikin merenung seharian kok. Trading forex kadang loss $10 (150rb) aja kepikiran seharian loh… Padahal ya cuman $10 yang notabene pengeluaran sehari bisa lebih dari itu.

Yang dia dan kita ratapi bukan hilang uang, tapi penyesalan kok bisa kita sebodoh (ceroboh, konyol, apapunlah) itu. Padahal golongan the haves itu kalau keluar uang bisa lebih dari 800jt sebulan, ngapain dia tangisin duitnya???? Yang bikin dia duduk di kamar 3 hari ya mikirin dia harus gimana sekarang, PRIDE-nya itu harganya jauh dari 800jt, itu yang ditangisi karena ada yang salah dalam dirinya. Jadi dia harus mikirin bagaimana harus bersikap, lanjutkan atau nyerah?

Justru yg aneh adalah orang kaya yang gak pedulian yang gak koreksi diri kalau uang melayang. Bahaya gini..

Yaaa entah mungkin media yang cara blowing up-nya salah, mungkin juga Putrinya kurang bisa menjelaskan apa arti kehilangan sesungguhnya, terus sesama seleb atau influencer juga saling menjatuhkan, atau anak horang kaya itu ortu yang tidak disukai khalayak ramai, jadi inti cerita hilang begitu saja.

Tapi berdasarkan apa yang kita alami sehari-hari ajalahhh menilai motivasi di sini… Kadang kita rugi Rp 10.000,- atau Rp 50.000,- aja bisa nyap-nyap dan merasa kok bego banget ya gua gak cek dulu, gak tanya-tanya dulu, jadi masalah besar juga padahal yaaa cuman ceban goban! Nah masalahnya bukan di kehilangan ceban goban tapi kehilangan semangat dan kehilangan motivasi, trauma, sedih kenapa aku bisa gagal, bisa salah, bisa bego. Lalu keputusan di tangan kita, mau belajar dari kesalahan dan cari cara nutupin rugi ceban goban, atau pasrah saja sudah rugi dan berhenti.

Inilah masalah dan gaya berpendapat ala mental kaya dan miskin, mental nyerah dan mental berjuang. Ada anak yang dapat nilai 7 dan merasa sedih karena biasa dapat nilai 10, terus ada yang ngenyek : Halahhhhh lebai amat, biasa dapat 10 juga, sekarang dapat 7. Tuhhh si A dapat 5 aja gak sedihhh… Ealahhh… Anak yang punya mental kaya dan berjuang ya pasti wajar merasa kehilangan dirinya saat tidak berhasil. Anak yang punya mental miskin dan nyerah ya pasrah aja dapat segitu, mampunya segitu, syukuri aja, padahal kalau mau belajar bisa dapat 7, tapi pakai alibi Ketuhanan yang Masa Esa : udah takdir gue, lihat aja gimana nanti kaki melangkah, semua gue serahkan ke Tuhan terus dia lanjut rebahan 😆

Kalau ada yang merasa emang mau mengubah nasib miskin dengan mental kaya pasti bisa kok.. Jadi teori ini buat siapa saja anak sultan atau anak penggangguran. Mau bapaknya kaya bisa kasih modal banyak maupun yang bapaknya tidak kaya itu sama-sama berjuang dan sama-sama punya privilege. Jangan dikira jadi orang biasa tidak punya privilege, jangan underestimate ke diri sendiri. Bedanya orang kaya memang semua sudah tersedia tapi kalau dia tidak bisa menjaga dan memanfaatkannya atau mengembangkannya ya sama aja, duit itu bisa hilang juga. Jadi golongan the haves itu juga pasti berjuang kalau tidak gaya hidup yang akan menggerogoti sampai habis.

Cuman khusus anak yang sudah terjebak dalam lingkaran setan kemiskinan harus berani mendobrak keluar dari lingkaran itu bukan malah merasa terjebak dan ya sudah jalanin aja..

Femikhirana -digital marketing specialist-

Saya = Ular dan Merpati

CaPer 19 Januari 2022

Saya = Ular dan Merpati

“Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.” (Matius 10:16)

Terjemahan bebas : Tuhan itu membuat kita jadi orang baik + cerdas, bukan jadi orang polos, lugu, apalagi dibegoin orang atau hidup penuh kekonyolan.

Kalau dikerjain, ditekan, kita harus cari strategi yang tidak membuat kita jadi orang jahat. Namun, tidak pula harus terjebak dalam tujuan orang yang ngerjain : bikin kita ngamuk atau kita jadi lebay menunjukkan kita seorang victim adalah kemenangan orang yang ngerjain. Weh jangan sampai dong mereka tertawa berhasil membuat kita berasa tak berdaya.

Prinsip utama dalam kasih tetap begini :
Lu baik, gua baik.
Lu jahat, gua tetap baiklah!
Kalau gua ikutan jahat, apa beda gua dengan lu?

That’s why, tulus dan cerdik itu harus. Melawan orang licik hanya bisa dengan kecerdikan, dengan strategi! BUKAN malah menunjukkan keluguan, kepolosan, merengek, ikutan ngamuk bikin drama, atau balas dendam. Hal itu tak menunjukkan kebaikan kita malah kelemahan kita yang terpancing.

Banyak strategi melepaskan diri dari kerjaan srigala daripada habis energi marah, pasrah, atau malah terpengaruh jadi bego karena gas lighting. Pelajari strategi yang membungkam mulut agar tak lagi berani meremehkan kita. Strategi yang tak membuat kita hancur, tak membuat kita juga jadi orang jahat seperti lawan.

Pelajari banyak jenis strategi, misalnya : melawan strategi perang psikologis dari lawan, cari titik lemah lawan, strategi merangkul lawan. Bisa gunakan strategi tetesan air sedikit-sedikit tapi sanggup mengikis, meluluhkan, bahkan memecahkan yang batu keras setelah sekian lama. Melawan batu dengan batu malah rusak dua-duanya, sama-sama keras kita juga remuk dan ikutan brutal, tapi menggunakan strategi lawan dengan menjadi kinclong, tetap jadi baik, selalu tunjukkan kita tetap positif, tidak membenci sampai akar, akan membuat lawan menyerah sendiri.

Ingat saja tujuan musuh selalu ingin membuat kita jadi marah, semakin marah, mereka semakin senang. Selalu ingin membuat kita jadi nangis, jadi kesal, jadi tak berdaya. Cara melawannya bukan dengan balas dendam atau malah jadi kepahitan ke diri sendiri. Cara melawannya pakai strategi ular dan ketulusan merpati karena image kita itu memang bukan jadi ikutan jahat tapi tak membiarkan orang untuk mengubah diri kita untuk tetap glowing and full of kindness and blessing.

Cita-Cita Waktu Kecil

#weeklywritingchallengeLike
#femikhiranawritingchallengelike

(ini tulisan untuk challenge di komunitas 😃)

Cita-cita dari remaja ada banyak, tetapi satu per satu dihilangkan dan beberapa ada yang ditangguhkan karena siapa tahu tercapai nanti. Ada juga yang tercapai dengan modifikasi setelah sekian lama.

Waktu kecil banget, cita-cita standar jadi dokter. Tapi saya sadar kalau tampang saya saja yang cocok jadi dokter. Minat dan kemampuan cuman cocok jadi pasien. Waktu penjurusan di SMA pun saya tidak bisa masuk A2 karena nilai eksakta tidak memadai. Nasib sekolah di sekolah kaporit eh favorit ya gitu. Walaupun sekarang saya juga yakin ilmu eksakta saya lebih jago daripada dokter abal-abal yang asal lulus 😆 tapi ya memang nasib tidak untuk jadi dokter.

Waktu kecil juga pengin jadi artis! Nyanyi, model, main film, atau apalahhh! Saya ingat ada teman sekelas saya yang sering ranking 1 yang akhirnya pengin ikutan jadi artesss gara-gara saya ngomong gitu ke dia 😂 Dia ranking 1 konsisten, saya ranking 1 kalau pas teman-teman lagi lengah belajar aja 😆 Lucu gitu sama-sama pengin jadi penyanyi.

Tapi saya tidak main-main waktu saya berniat untuk jadi seniman. Saya ikut semua kegiatan seni suara di sekolah, gereja. Saya memang tidak punya masalah tampil sedari kecil, justru sudah tua gini baru mikir gak terlalu nyaman. Saya juga ikutan kegiatan teater, drama, sampai prestasi tertinggi saya bisa lolos jadi dubber untuk sandiwara radio. Saya sudah SMA kelas 1 waktu itu. Zaman dulu sandiwara radio kan popularitasnya tidak kalah dengan sandiwara televisi. Malah enak kita hanya rekam suara, tidak perlu akting panggung. Dapat job dubbing pertama jadi figuranlah jelas, rekaman tidak sampai 10 menit selesai karena hanya baca beberapa lines saja, dan itu jadi anak kecil bukan jadi ABG 😅 Tapi walaupun figuran tapi duitnyaaa weh banyak buat anak sekolahan. Sayangnya semua tidak bisa diteruskan karena ortu melarang saya jadi pulang malam. Dongkol sih iya, tapi saya masih bisa nyanyi di sekolah dan gereja. Masih bisa tampil di televisi stasiun lokal Palembang bareng teman-teman vokal grup di sekolah juga sudah lumayanlahhh…
Saya juga sebenarnya pengin kuliah di Institut Kesenian Jakarta, tapi ya sutralah, tangguhkan saja. Saya tetap cinta kegiatan seni, film, musik dan saya belajar otodidak saja dan sangat membantu pekerjaan saya sebenarnya. Jadi sejak kuliah saya putuskan tidak terjun di dunia entertainment walaupun kesempatan untuk itu sangat banyak. Salah satunya kesempatan jadi American Idol saya hempaskan jauh-jauh… Ya iyalahhh kan kejauhannnn…

Lalu cita-cita remaja yang mulai serius dan sesuai minat juga adalah : bekerja di media massa, jadi jurnalis. Karena saya memang suka nulis (semua yang orang gak suka, saya suka gitu aja ya kesimpulannya sebagai anti mainstream person) dan sudah terlibat dengan urusan penerbitan sejak SMP. Ngurus penerbitan majalah sekolah dan gereja dari A sampai Z. Satu majalah semua saya kerjakan sendiri dari nulis artikel, kumpulin naskah, ngetik, layout, instruksi ilustrator, sampai jadi mock up majalah sebelum terbit dan saya juga yang pantau produksi baik dari cara fotokopi sampai percetakan. Beberapa kali juga pernah study tour ke penerbitan surat kabar sampai magang di penerbitan waktu liburan kuliah. Suka. Tapi… saya jadi melihat ritme kerja para penulis, wartawan, dan tim produksi : gak ada jam kerja tetap, harus siap sedia waktu ada peristiwa dan sekejap nyampe di lokasi peristiwa mau jam berapapun, kalau deadline pasti begadang. Baru saya mikir : Is this what I want??? Can I do it? Me time nya nyaris bareng kerjaan. Duitnya? Dikitttt.. Sampai sekarang dunia penulisan itu dibayar paling sedikit daripada profesi manapun. Untuk mencapai jenjang yang enak paling sulit karena kita harus ngetop banget, kreatif jungkir balik. Pada akhirnya saya berpuas diri jadi penulis lepas saja daripada harus terlibat di dunia media. Sejak mulai ada internet saya merasa passion nulis-nulis sudah terealisasi karena sudah bikin blog, buku, sampai copy writing.

Setelah tamat SMA, pengin jadi psikolog. Merasa cocoklah karena memang minat. Psikolog juga profesi yang saat itu diramalkan jadi profesi yang banyak digunakan jasanya di era 2000an. Tapi tiba-tiba Papa menarik izin kuliah di Jakarta karena alasan tertentu. Awalnya sudah diizinkan. Kesel pasti. Di Palembang tidak ada jurusan psikologi. Tapi yang penting saya kuliah deh… Keinginan selanjutnya yang mendekati minat saat itu akhirnya jadi Manager, belajar bisnis, jadi boss lah. Ya sudah kuliah Management-lah 😃

Waktu kuliah saya disadarkan kalau saya juga punya hobi main sekolah-sekolahan sejak kecil, saya jadi gurunya, lalu yang jadi muridnya mahkluk tak kasat mata 😂 Memang gak ada yang jadi murid di rumah, jadi saya buat murid imajiner. Sejak kuliah itu juga sampai sekarang saya bersyukur belajar bisnis edukasi dimulai dari jadi guru privat waktu kuliah. Bayarannya? Lebih besar daripada kerja di media dan saya masih bisa nulis.

Sejak kuliah akhirnya saya memang selektif mencari kerjaan yang sepadan hasilnya. Boleh kerja bakti tapi hasilnya harus menyenangkan agar jadi motivasi. Saya juga mulai melihat peluang yang lebih banyak menghasilkan uang dan mencoba mendalami skill yang akan terus dipakai orang. Itu yang memutuskan saya ambil diploma program komputer ketika kuliah semester akhir sebagai keterampilan yang berbeda dibandingkan lulusan management lainnya.

Singkat cerita sekarang ini apakah cita-cita saya waktu remaja tercapai? Yaaa bisa dikatakan beberapa akhirnya terealisasi. Thanks to technology yang memudahkan untuk mewujudkan cita-cita. Saya menulis, mengajar, bikin usaha sendiri di bidang yang saya kuasai dari kuliah, dan saya juga senang bisa mengartiskan diri di Smule dan TikTok 😆

Saya selalu percaya selama masih dikasih nafas kita masih sah untuk mewujudkan cita-cita yang sempat mandek. Ada yang lulus sarjana di usia 70 tahun, dan akhirnya bisa berkreasi sesuai passion-nya di usia yang sudah menanjak. Sah! Mau jadi dokter di usia tua pun bisa kalau memang masih pengin loh yaaa… Prestasi dan pencapaian diri tidak mengenal usia dan hak asasi semua makhluk hidup sampai kapanpun.

Femikhirana (Digital Marketing Strategist)

Alasan in-TELEK-tual

Istilah Malas bagi orang in-TELEK-
bisa bervariasi tergantung kondisi :

  • not my kind of things to do
  • not my passion
  • not my things
  • not in the mood
  • not sure enough
  • need to take a break
  • need to consider
  • need to check my schedule
    (kelihatan sibuk, padahal rebahan)
  • need to motivate myself

Itu saya kalau sedang menghadapi untuk mencoba suasana baru, lingkungan baru, tantangan baru tapi enggan saya urusin lalu pakai alibi yang not not dan need need itu. Padahal aslinya kalau ditelaah intinya itu : males yang dikasih prestige biar kesannya jadi alasan elegan untuk menolak atau mungkin menghindari.

Jadi kudu hati-hati saya terjebak dengan alasan inTELEK yang sebenarnya merugikan saya juga. Padahal, sebelum saya menghindar atau menolak dengan not not dan need need, tidak salahnya saya mencoba dulu. Yaaa mungkin masih malas tapi saya menggunakan niat pribadi untuk memaksakan mencoba sesuatu yang baru yang positif bila dipikirkan dengan logika jernih. Awalnya mungkin tidak nyaman, kagok, tapi yaaaa who knows become blessing in disguise. Nothing to lose.

Kalaupun nanti setelah dicoba dan memang tidak cocok, minimal saya mengalahkan diri sendiri untuk tidak menggunakan alasan inTELEK tadi yang aslinya MALAS tapi otak saya memanipulasi diri dengan membuat pembenaran dalam diri, malah kadang juga membuat penilaian awal yang terlalu subjektif terhadap kesempatan yang baik.

So, I learn not to make more shit (TELEK) excuse for laziness. Kalau malas ya memang malas, gak perlu alibi, alasan ini orang gini, saya gak sreg, gak cocok (padahal belum coba). Kalau memang saya punya alasan tertentu untuk menolak, saya harus pastikan itu bukan karena saya malas tapi memang keputusan tegas karena alasan yang jelas sehingga saya memang tidak mungkin melakukan hal tersebut karena ada prioritas yang lebih mendesak untuk diselesaikan.

femikhirana -digital marketing strategist-